Jumat, 21 Oktober 2016

TANTANGAN UMMAT

Pengukuhan pengurus GAPKI (Gabungan Pengusaha Kebun) di Hotel Borobudur. Menteri Pertanian yang membidangi tidak hadir. Luhut Binsar Panjaitan ambil kendali, dan dia memang diberi kewenangan oleh Keppres untuk mengambil alih tugas-tugas kementerian (dengan nama Pengendalian dan Percepatan).

Dari sambutannya dapat disimpulkan:

1. Pembangunan infrastruktur, dialokasikan kepada RRC.
2. Sektor Perkebunan dan Migas, jatahnya Iran.
- Kontrak: 50 tahun.
- Karena ambil "borongan" maka berbagai harga dapat diskon.

INILAH REALITAS POLITIK YANG KITA HADAPI !!!

1. Kiblat beralih dari USA dan Arab Saudi/Timteng kepada RRC dan IRAN.
2. Aktifitas bisnis Iran di Indonesia akan memperkuat juga Financial dan SDM gerakan-gerakan Syiah.
3. Kebisingan yang dibuat Ahok hanya "pengalih perhatian" dari strategi-strategi besar lainnya.
4. Biarkan para ustadz Indonesia sibuk dengan Timur Tengah, tapi halaman belakang Muslim Indonesia sudah terambil.

Setelah sektor Perdagangan dan Perbankan (hilir dan hulu Ekonomi Moneter), sekarang sektor Infrastruktur serta Perkebunan & Migas (hilir dan hulu Ekonomi Real) mereka kuasai. Belum lagi sektor Media untuk mengendalikan Opini Publik.

Kondisi dimaksud cukup mengenaskan. Cuma sedikit jadikan Ahok kompor gas 3 kiloan yang meledak yang suara ledakannya misalnya " Nabi saja tidak bisa lenyapkan prostitusi", "Pelacur dan rumah kos pelacur di beri sertifikat", "apa ada orang mabuk minum bir?" ,dll memang telah membuat kita terusik. Di samping gaya cengengesan Big Boss yang juga sering menjadi headline TV yang memang kebanyakan dari kalangan mereka.

Plan untuk "Rampok Indonesia" dan geser "sakralitas" umat Islam sebagai kelompok mayoritas bangsa dan lemahkan fungsi dan wibawanya ternyata berjalan sesuai schedule.

WASPADA

Maha Benar Allah yang mengatakan bahwa kita harus bershaff dalam dakwah dan jihad, kita harus membentuk Team Work dakwah yang handal. Serta harus menyadari bahwa menjadi muslim bukan sekedar harus menjadi orang baik, tapi menularkan kebaikan itu pada semua orang. Dan itu harus dilakukan secara progresif.

Hati-hati dengan "Tokoh kaleng Rombeng" semacam Ahok. Karena setidaknya dia begitu ampuh buat pengalihan isu. Di samping "Tokoh Kaleng Rombeng" lainnya. Kita tidak harus menghabiskan energi untuk hadapi model tokoh macam itu. Cukup Tim kecil saja yang mengurusinya. Sementara kita harus fokus pada persoalan besar baik dalam skala global dan lokal


Allah SWT bersama kita, Allah SWT sebaik-baik pembuat makar.

Label: , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda