Minggu, 04 Desember 2016

SEBUAH PENYESALAN

Diawali rasa gembira yg tiada tara di hari 212, Saya dan istri sepakat utk mengirim WA ke anak kami yg sedang kuliah di Maroko. WA yg kami kirim seputar gambar jutaan mujahidin fi sabilillah yg sedang berkumpul di Monas dan sekitarnya. WA kami langsung dibalas oleh anak kami dg Takbir dan ucapan bangga dan takjub akan perjuangan para mujahidin. Saking gembira dg respon anak kami itu, kemudian kami kirim lagi gambar lain yg sejenis. Seperti halnya tadi, WA kami pun langsung disambut lagi dg kata2 yg menusuk hati menggetarkan jiwa yg ditulis anak saya tersebut. Bahasnya singkat padat tapi spontan membuat kami bergetar, panas dingin dan lemes. Kata2 singkat yg ditulis anak saya: "Papah ikut ke Monas enggak, peran Papah di mana?". Allahu Akbar kami langsung menangis tersedu2, karna menyesali kenapa kami tdk ikut bersama para mujahid di Monas. Di saat kondisi jiwa yg tak menentu itu kami terus berdiskusi dg nada2 koreksi diri dan menyesali diri: "Kenapa kita tdk terpikir bhw aksi 212 itu bukan sekedar dzikir bersama, tapi memiliki makna sejarah seumur hidup bahkan sejarah dunia yg bersifat abadi dan sejarah yg mungkin mirip Perang Badar?" Kami makin droff ketika istri bilang nanti mungkin di akhirat di pintu syurga tertulis nama2 mujahid Monas 212. Allahu Akbar...Allahu Akbar...kondisi psikologis kami benar2 goncang dan makin serius ketika istri berkata lagi kenapa Papah gak kepikiran kita berangkat bersama ba'da subuh bawa mobil pribadi? Dan kenapa kita gak terpikir bagaimana nanti si Teteh yg pulang liburan pengabdian di GP3, dan juga si Kaka yg pulang liburan dari Gontor 1 Putra?. Pasti keduanya pun akan bertanya: Papah-Mamah ikut enggak dan di mana perannya? Astaghfirullah betapa malunya kami, betapa menyesalnya kami. Baru ditanya anak saja di dunia sdh seperti ini, apalagi di akhirat nanti. Astaghfirullah...Ya Allah ampunilah kami yg khilaf dan tdk sempat berpikir panjang ttg moment akbar, peristiwa ajaib, dan kesempatan yg belum tentu terulang dlm sejarah dunia, dan sejarah abadi 212, yg menorehkan tinta emas ttg nama2 mujahidin pembela al-Qur'an, Pembela Agama Allah di pintu syurga nanti. Allahu Akbar....Allahu Akbar...Allahu Akbar.
(Oleh: Prof.Dr.H.M.Solihin, M.Ag)

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda