Senin, 15 Oktober 2012

Imam asy-Syafi'i Bermazhab Dengan Sunnah Rasulullah

Kita selaku umat Islam di wilayah nusantara ini secara umumnya mengaku mengamalkan ajaran Islam berpandukan madzhab imam asy-Syafi’i rahimahullah. Yaitu madzhab yang berpaksi dari kerangka ushul yang digariskan imam asy-Syafi’i rahimahullah bersama-sama para pengikutnya. Madzhab asy-Syafi’i adalah salah satu cabang madzhab aliran ahli sunnah wal-jama’ah yang sah lagi autentik.
Dari itu, ada baiknya kita simak sejenak prinsip-prinsip penting, pegangan, dan pesan-pesan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah (Wafat 204 H) dalam mengambil agama ini. Sekaligus dapat kita manfaatkan secara bersama bagi tujuan memahami agama ini dengan lebih baik berdasarkan bimbingan imam yang agung, imam asy-Syafi’i.
Bermadzhab Dengan Sunnah Rasulullah
Imam asy-Syafi’i rahimahullah disebutkan oleh para ulama lainnya sebagai di antara orang yang paling kuat berpegang dengan sunnah. Bahkan dikatakan oleh imam Ahmad bin Hanbal sebagai “Nashiirus Sunnah” (pembela sunnah). Imam Ahmad rahimahullah (Wafat 241 H) juga mengatakan : “Di antara sikap terpuji imam asy-Syafi’i adalah apabila beliau mendengar sebuah hadits (yang shahih) yang belum pernah beliau dengar, maka beliau akan mengambil hadits tersebut dan meninggalkan pendapatnya (yang bertentangan).” (al-Baihaqi, Manaaqib asy-Syafi’i, 1/476 – Maktabah Daar at-Turaats)
Kata beliau lagi : “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih mengikuti sunnah berbanding imam asy-Syafi’i rahimahullah.” (Manaaqib asy-Syafi’i, 1/471)
Imam asy-Syafi’i rahimahullah sendiri pernah berpesan dengan katanya : “Tidak ada seorang pun melainkan ia wajib bermadzhab dengan sunnah Rasulullah dan mengikutinya. Apa jua yang aku ucapkan atau tetapkan tentang sesuatu perkara (ushul), sedangkan ucapanku itu bertentangan dengan sunnah Rasulullah, maka yang diambil adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dan demikianlah ucapanku (dengan mengikuti sabda Rasulullah).” (Disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam I’lam al-Muwaqq’in, 2/286)
Kata imam asy-Syafi’i lagi : “Kaum muslimin bersepakat bahwa mereka yang mengetahui dengan jelas suatu sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam maka tidak halal baginya meninggalkan sunnah tersebut semata-mata untuk mengikuti pendapat seseorang yang lain.” (Ibnu al-Qayyim, I’lam al-Muwaqq’in, 2/282)
Imam an-Nawawi rahimahullah (Wafat 676 H) turut mengutarakan pesan-pesan imam asy-Syafi’i yang semakna dengannya, antaranya : Imam asy-Syafi’i berkata : “Apabila kamu mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka ambillah sunnah Rasulullah tersebut dan tinggalkanlah perkataanku.”
Kemudian imam an-Nawawi mengeluarkan contoh sikap para ulama dari kalangan ulama madzhab asy-Syafi’i seperti al-Buwaithi, Abu al-Qasim ad-Dariqi, Abu Bakar al-Baihaqi, dan selainnya ketika berhadapan dengan pendapat dalam madzhab asy-Syafi’i yang bertentangan dengan suatu hadits, maka mereka akan mengamalkan hadits dan meninggalkan pendapat madzhab asy-Syafi’i yang bertentangan dengan hadits tersebut. Imam an-Nawawi kemudian menjelaskan :
“Sebahagian sahabat kami yang terdahulu ketika melihat suatu permasalahan yang di dalamnya terdapat hadits sedangkan ia bertentangan dengan pendapat dalam madzhab asy-Syafi’i, maka mereka pun mengamalkan hadits tersebut (dengan meninggalkan pendapat madzhab). Mereka memberikan fatwa berdasarkan hadits tersebut sambil berkata, “Madzhab asy-Syafi’i bersesuaian dengan hadits tersebut.” (al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab, 1/63-64)
Inilah contoh sikap yang mulia yang bersesuaian dengan pesanan imam asy-Syafi’i sendiri agar mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berbanding pendapat sendiri dan pendapat-pendapat manusia lainnya bersesuaian dengan kadar ilmu yang dikuasai. Perkara ini juga turut dipertegaskan lagi oleh para ulama dan imam-imam lainnya.
Antaranya sebagaimana kata al-Hafizh Ibnu Rejab al-Hanbali rahimahullah (Wafat 795 H) : “Kewajiban bagi mereka yang menerima dan mengetahui perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah dengan menyampaikan kepada masyarakat, menasihati mereka, dan mengajak mereka untuk mengikutinya walaupun ia bertentangan dengan pendapat orang ramai. Perintah Rasulullah lebih berhak untuk dimuliakan dan diikuti berbanding pendapat mana-mana tokoh sekalipun yang menyalahi perintahnya yang terkadang pendapat mereka itu terdedah kepada kesalahan.
Oleh kerana itulah para sahabat dan para tabi’in selalu menolak pendapat yang menyalahi hadits yang sahih dengan penolakan yang tegas yang mereka lakukan bukan karena kebencian sebaliknya adalah karena rasa hormat mereka terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam jauh lebih tinggi mengatasi kedudukan manusia-manusia lainnya dan kedudukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam jauh di atas makhluk lainnya.
Apabila perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ternyata bertentangan dengan perintah yang lain, perintah beliau adalah lebih utama didahulukan dan diikuti sekalipun orang tersebut mendapat ampunan dari Allah. Bahkan orang yang mendapat pengampunan dari Allah tersebut apabila ia tahu pendapatnya menyalahi perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka ia pun tidak merasa benci apabila seseorang meninggalkan pendapatnya yang berlawanan dengan ketentuan Rasulullah tersebut.” (Dinukil dari Ashlu Shifati Sholaatin Nabiy karya al-Albani, 1/33-34)
Berkaitan dengan ini, Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar pernah menceritakan bahwa beliau telah mendengar seorang lelaki dari Syam datang bertanya kepada ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu tentang umrah dalam haji tamattu’. ‘Abdullah bin ‘Umar menjawab : “ia halal (dibolehkan).”
Orang Syam tersebut berkata : “Tetapi bukankah ayahmu (‘Umar al-Khaththab) telah melarangnya?”. ‘Abdullah bin ‘Umar bertanya : “Apa pendapatmu jika ayahku melarangnya sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melakukannya, jadi mana yang akan kamu ikuti? Perintah ayahku atau perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?”. Lelaki tersebut pun menjawab : “Ya, perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.” Maka Ibnu ‘Umar berkata : “Sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melakukannya.” (Hadis Riwayat at-Tirmidzi, 3/333, no. 753)
Jadi, pendapat para imam madzhab pun boleh ditinggalkan sekiranya bertentangan dengan sunnah, apatah lagi pendapat-pendapat yang tidak diketahui asal-usulnya yang keluar bukan dari kalangan para imam seperti kisah-kisah dusta atas nama agama dan bid’ah-bid’ah yang leluasa di Nusantara ini?
Seharusnya kita dalami baik-baik pesan-pesan imam madzhab kita, imam asy-Syafi’i rahimahullah tersebut. Bahkan imam-imam madzhab seluruhnya termasuk Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad bin Hanbal juga turut berpesan dengan pesanan yang sama seperti asy-Syafi’i.
Mereka semua mewajibkan para pengikutnya supaya meninggalkan pendapat-pendapat mereka apabila pendapat tersebut bertentangan dengan hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Bahkan imam asy-Syafi’i meninggalkan pesan supaya mengatasnamakan dirinya bagi setiap hadits yang sahih sebagai termasuk dalam pendapat atau madzhabnya walaupun beliau tidak menemui mahupun meriwayatkannya. Manakala pendapatnya yang bertentangan dengan sunnah, beliau minta agar ditinggalkan.
Kata beliau : “Apabila sahih sesuatu hadits, maka itulah pendapatku (madzhabku).”
Oleh sebab itulah Imam Ibnu Daqiq al-‘Ied rahimahullah menyusun sebuah kitab besar yang menghimpunkan pelbagai hadits yang dikategorikan sebagai hadits-hadits yang bertentangan dengan pendapat-pendapat para imam madzhab, lalu pada mukaddimahnya beliau mengatakan : “Menyandarkan nama para imam mujtahid dengan pelbagai masalah yang bertentangan dengan hadits sahih adalah haram!”
Ini bersesuaian dengan pesan-pesan wasiat yang ditinggalkan oleh para imam itu sendiri antaranya imam asy-Syafi’i dengan katanya : “Apabila shahih sesuatu hadits, maka itulah pendapatku (madzhabku).” Yang membawa maksud setiap pendapat yang bertentangan dengan hadits bukanlah termasuk pendapat beliau walaupun beliau mengucapkannya. Ini juga sebagaimana kata beliau : “Apabila ada ucapanku atau ushul (kaedah) yang aku susun bertentangan dengan apa yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka ambillah ucapan yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dan itu menjadi ucapanku.” (al-Baihaqi, Manaaqib asy-Syafi’i, 1/475)
Pesan-pesan imam asy-Syafi’i yang semisal dengan ini begitu banyak diriwayatkan dan disebutkan dalam lembaran-lembaran kitab para ulama. Ini menunjukkan betapa tegasnya prinsip dan pegangan imam asy-Syafi’i terhadap hadits-hadits Nabi sekaligus dalam mengajak masyarakat untuk berpegang dan bermadzhab dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Bahkan turut dinukil yang mana beliau mengatakan : “Sekiranya aku meriwayatkan satu hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lalu aku tidak mengambilnya, maka nyatakanlah bahawa akalku telah rusak.” (al-Baihaqi, Manaaqib asy-Syafi’i, 1/474)
Di tempat yang lain turut diriwayatkan bahawa beliau telah berkata : “Setiap perkataanku yang berbeda dengan riwayat yang shahih daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka hadits Nabi lebih aula (perlu didahulukan) dan kamu semua jangan bertaklid kepadaku.” (al-Baihaqi, Ma’rifah as-Sunan wal Atsar, 2/454)
Demikianlah begitu tegasnya beliau dalam berpegang dengan hadits-hadits yang diterimanya. Ini sepatutnya menjadi contoh dan motivasi buat kita semua dalam mempelajari, mengamalkan, dan mendakwahkan sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang mulia.
Prinsip-prinsip dan wasiat-wasiat yang ditinggalkan oleh imam asy-Syafi’i ini amat bertepatan dengan begitu banyak dalil-dalil al-Qur’an mahupun as-Sunnah. Antaranya sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Demi Tuhanmu, mereka tidak dikatakan beriman sehingga mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam menyelesaikan perselisihan di antara mereka. Kemudian mereka tidak merasa berat dengan keputusan yang engkau tetapkan dan mereka menerimanya dengan penuh ketulusan.” (Qs. an-Nisaa’ :  65)
Ayat ini begitu jelas menerangkan apabila berlaku perselisihan (khilaf) di antara kita, maka hendaklah ia dikembalikan kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Bukan dikembalikan kepada madzhab si fulan atau imam fulan mahupun ustadz fulan. Wallahu a’lam

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda