Imam asy-Syafi'i Bermazhab Dengan Sunnah Rasulullah
Kita
selaku umat Islam di wilayah nusantara ini secara umumnya mengaku
mengamalkan ajaran Islam berpandukan madzhab imam asy-Syafi’i
rahimahullah. Yaitu madzhab yang berpaksi dari kerangka ushul yang
digariskan imam asy-Syafi’i rahimahullah bersama-sama para pengikutnya.
Madzhab asy-Syafi’i adalah salah satu cabang madzhab aliran ahli sunnah
wal-jama’ah yang sah lagi autentik.
Dari
itu, ada baiknya kita simak sejenak prinsip-prinsip penting, pegangan,
dan pesan-pesan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah (Wafat 204 H) dalam
mengambil agama ini. Sekaligus dapat kita manfaatkan secara bersama bagi
tujuan memahami agama ini dengan lebih baik berdasarkan bimbingan imam
yang agung, imam asy-Syafi’i.
Bermadzhab Dengan Sunnah Rasulullah
Imam
asy-Syafi’i rahimahullah disebutkan oleh para ulama lainnya sebagai di
antara orang yang paling kuat berpegang dengan sunnah. Bahkan dikatakan
oleh imam Ahmad bin Hanbal sebagai “Nashiirus Sunnah” (pembela sunnah).
Imam Ahmad rahimahullah (Wafat 241 H) juga mengatakan : “Di antara sikap
terpuji imam asy-Syafi’i adalah apabila beliau mendengar sebuah hadits
(yang shahih) yang belum pernah beliau dengar, maka beliau akan
mengambil hadits tersebut dan meninggalkan pendapatnya (yang
bertentangan).” (al-Baihaqi, Manaaqib asy-Syafi’i, 1/476 – Maktabah Daar
at-Turaats)
Kata
beliau lagi : “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih mengikuti
sunnah berbanding imam asy-Syafi’i rahimahullah.” (Manaaqib asy-Syafi’i,
1/471)
Imam
asy-Syafi’i rahimahullah sendiri pernah berpesan dengan katanya :
“Tidak ada seorang pun melainkan ia wajib bermadzhab dengan sunnah
Rasulullah dan mengikutinya. Apa jua yang aku ucapkan atau tetapkan
tentang sesuatu perkara (ushul), sedangkan ucapanku itu bertentangan
dengan sunnah Rasulullah, maka yang diambil adalah sabda Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dan demikianlah ucapanku (dengan
mengikuti sabda Rasulullah).” (Disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam I’lam
al-Muwaqq’in, 2/286)
Kata
imam asy-Syafi’i lagi : “Kaum muslimin bersepakat bahwa mereka yang
mengetahui dengan jelas suatu sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
Sallam maka tidak halal baginya meninggalkan sunnah tersebut semata-mata
untuk mengikuti pendapat seseorang yang lain.” (Ibnu al-Qayyim, I’lam
al-Muwaqq’in, 2/282)
Imam
an-Nawawi rahimahullah (Wafat 676 H) turut mengutarakan pesan-pesan
imam asy-Syafi’i yang semakna dengannya, antaranya : Imam asy-Syafi’i
berkata : “Apabila kamu mendapati dalam kitabku sesuatu yang
bertentangan dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,
maka ambillah sunnah Rasulullah tersebut dan tinggalkanlah perkataanku.”
Kemudian
imam an-Nawawi mengeluarkan contoh sikap para ulama dari kalangan ulama
madzhab asy-Syafi’i seperti al-Buwaithi, Abu al-Qasim ad-Dariqi, Abu
Bakar al-Baihaqi, dan selainnya ketika berhadapan dengan pendapat dalam
madzhab asy-Syafi’i yang bertentangan dengan suatu hadits, maka mereka
akan mengamalkan hadits dan meninggalkan pendapat madzhab asy-Syafi’i
yang bertentangan dengan hadits tersebut. Imam an-Nawawi kemudian
menjelaskan :
“Sebahagian
sahabat kami yang terdahulu ketika melihat suatu permasalahan yang di
dalamnya terdapat hadits sedangkan ia bertentangan dengan pendapat dalam
madzhab asy-Syafi’i, maka mereka pun mengamalkan hadits tersebut
(dengan meninggalkan pendapat madzhab). Mereka memberikan fatwa
berdasarkan hadits tersebut sambil berkata, “Madzhab asy-Syafi’i
bersesuaian dengan hadits tersebut.” (al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab,
1/63-64)
Inilah
contoh sikap yang mulia yang bersesuaian dengan pesanan imam
asy-Syafi’i sendiri agar mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa Sallam berbanding pendapat sendiri dan pendapat-pendapat manusia
lainnya bersesuaian dengan kadar ilmu yang dikuasai. Perkara ini juga
turut dipertegaskan lagi oleh para ulama dan imam-imam lainnya.
Antaranya
sebagaimana kata al-Hafizh Ibnu Rejab al-Hanbali rahimahullah (Wafat
795 H) : “Kewajiban bagi mereka yang menerima dan mengetahui perintah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah dengan menyampaikan
kepada masyarakat, menasihati mereka, dan mengajak mereka untuk
mengikutinya walaupun ia bertentangan dengan pendapat orang ramai.
Perintah Rasulullah lebih berhak untuk dimuliakan dan diikuti berbanding
pendapat mana-mana tokoh sekalipun yang menyalahi perintahnya yang
terkadang pendapat mereka itu terdedah kepada kesalahan.
Oleh
kerana itulah para sahabat dan para tabi’in selalu menolak pendapat
yang menyalahi hadits yang sahih dengan penolakan yang tegas yang mereka
lakukan bukan karena kebencian sebaliknya adalah karena rasa hormat
mereka terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam jauh lebih
tinggi mengatasi kedudukan manusia-manusia lainnya dan kedudukan Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa Sallam jauh di atas makhluk lainnya.
Apabila
perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ternyata bertentangan
dengan perintah yang lain, perintah beliau adalah lebih utama
didahulukan dan diikuti sekalipun orang tersebut mendapat ampunan dari
Allah. Bahkan orang yang mendapat pengampunan dari Allah tersebut
apabila ia tahu pendapatnya menyalahi perintah Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa Sallam, maka ia pun tidak merasa benci apabila seseorang
meninggalkan pendapatnya yang berlawanan dengan ketentuan Rasulullah
tersebut.” (Dinukil dari Ashlu Shifati Sholaatin Nabiy karya al-Albani,
1/33-34)
Berkaitan
dengan ini, Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar pernah menceritakan bahwa
beliau telah mendengar seorang lelaki dari Syam datang bertanya kepada
‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu tentang umrah dalam haji
tamattu’. ‘Abdullah bin ‘Umar menjawab : “ia halal (dibolehkan).”
Orang
Syam tersebut berkata : “Tetapi bukankah ayahmu (‘Umar al-Khaththab)
telah melarangnya?”. ‘Abdullah bin ‘Umar bertanya : “Apa pendapatmu jika
ayahku melarangnya sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
melakukannya, jadi mana yang akan kamu ikuti? Perintah ayahku atau
perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?”. Lelaki tersebut pun
menjawab : “Ya, perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.” Maka
Ibnu ‘Umar berkata : “Sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
telah melakukannya.” (Hadis Riwayat at-Tirmidzi, 3/333, no. 753)
Jadi,
pendapat para imam madzhab pun boleh ditinggalkan sekiranya
bertentangan dengan sunnah, apatah lagi pendapat-pendapat yang tidak
diketahui asal-usulnya yang keluar bukan dari kalangan para imam seperti
kisah-kisah dusta atas nama agama dan bid’ah-bid’ah yang leluasa di
Nusantara ini?
Seharusnya
kita dalami baik-baik pesan-pesan imam madzhab kita, imam asy-Syafi’i
rahimahullah tersebut. Bahkan imam-imam madzhab seluruhnya termasuk Abu
Hanifah, Malik, dan Ahmad bin Hanbal juga turut berpesan dengan pesanan
yang sama seperti asy-Syafi’i.
Mereka
semua mewajibkan para pengikutnya supaya meninggalkan pendapat-pendapat
mereka apabila pendapat tersebut bertentangan dengan hadis Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Bahkan imam asy-Syafi’i meninggalkan
pesan supaya mengatasnamakan dirinya bagi setiap hadits yang sahih
sebagai termasuk dalam pendapat atau madzhabnya walaupun beliau tidak
menemui mahupun meriwayatkannya. Manakala pendapatnya yang bertentangan
dengan sunnah, beliau minta agar ditinggalkan.
Kata beliau : “Apabila sahih sesuatu hadits, maka itulah pendapatku (madzhabku).”
Oleh
sebab itulah Imam Ibnu Daqiq al-‘Ied rahimahullah menyusun sebuah kitab
besar yang menghimpunkan pelbagai hadits yang dikategorikan sebagai
hadits-hadits yang bertentangan dengan pendapat-pendapat para imam
madzhab, lalu pada mukaddimahnya beliau mengatakan : “Menyandarkan nama
para imam mujtahid dengan pelbagai masalah yang bertentangan dengan
hadits sahih adalah haram!”
Ini
bersesuaian dengan pesan-pesan wasiat yang ditinggalkan oleh para imam
itu sendiri antaranya imam asy-Syafi’i dengan katanya : “Apabila shahih
sesuatu hadits, maka itulah pendapatku (madzhabku).” Yang membawa maksud
setiap pendapat yang bertentangan dengan hadits bukanlah termasuk
pendapat beliau walaupun beliau mengucapkannya. Ini juga sebagaimana
kata beliau : “Apabila ada ucapanku atau ushul (kaedah) yang aku susun
bertentangan dengan apa yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa Sallam, maka ambillah ucapan yang datang dari Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa Sallam, dan itu menjadi ucapanku.” (al-Baihaqi, Manaaqib
asy-Syafi’i, 1/475)
Pesan-pesan
imam asy-Syafi’i yang semisal dengan ini begitu banyak diriwayatkan dan
disebutkan dalam lembaran-lembaran kitab para ulama. Ini menunjukkan
betapa tegasnya prinsip dan pegangan imam asy-Syafi’i terhadap
hadits-hadits Nabi sekaligus dalam mengajak masyarakat untuk berpegang
dan bermadzhab dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
Bahkan turut dinukil yang mana beliau mengatakan : “Sekiranya aku
meriwayatkan satu hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
lalu aku tidak mengambilnya, maka nyatakanlah bahawa akalku telah
rusak.” (al-Baihaqi, Manaaqib asy-Syafi’i, 1/474)
Di
tempat yang lain turut diriwayatkan bahawa beliau telah berkata :
“Setiap perkataanku yang berbeda dengan riwayat yang shahih daripada
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka hadits Nabi lebih aula (perlu
didahulukan) dan kamu semua jangan bertaklid kepadaku.” (al-Baihaqi,
Ma’rifah as-Sunan wal Atsar, 2/454)
Demikianlah
begitu tegasnya beliau dalam berpegang dengan hadits-hadits yang
diterimanya. Ini sepatutnya menjadi contoh dan motivasi buat kita semua
dalam mempelajari, mengamalkan, dan mendakwahkan sunnah-sunnah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang mulia.
Prinsip-prinsip
dan wasiat-wasiat yang ditinggalkan oleh imam asy-Syafi’i ini amat
bertepatan dengan begitu banyak dalil-dalil al-Qur’an mahupun as-Sunnah.
Antaranya sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Demi
Tuhanmu, mereka tidak dikatakan beriman sehingga mereka menjadikan
engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam menyelesaikan perselisihan di
antara mereka. Kemudian mereka tidak merasa berat dengan keputusan yang
engkau tetapkan dan mereka menerimanya dengan penuh ketulusan.” (Qs. an-Nisaa’ : 65)


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda