Ahok Beringas, Bengis dan Rasis
“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah
mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian, mereka
mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Seburuk-buruk pemimpin
kalian adalah mereka yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian,
kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” (HR. Imam Muslim)
Apakah Gubernur DKI Jakarta Ahok masuk dalam kritera pemimpin seperti yang disampaikan Rasulullah Saw dalam hadits di atas?.
Kalau tolok ukurnya Alquran dan hadits,
Ahok sama sekali tidak masuk kritera. Pertama, menurut Alquran dia
termasuk orang yang diharamkan menjadi pemimpin karena kekafirannya.
Kedua, jika dilihat dari sifat-sifatnya dengan merujuk hadits, selain
kafir, Ahok terkatagori sebagai munafik. Klop, sudahlah kafir munafik
pula.
Ciri munafik adalah jika berkata dusta,
dipercaya khianat, dan bila berjanji mengingkari. Keseluruhan
sifat-sifat itu jika diikuti sejak Ahok menjadi Wagub DKI Jakarta hingga
menggantikan Jokowi sebagai Gubernur, ada secara sempurna pada diri
bekas Bupati Belitung Timur itu. Kata-katanya seperti dewa mabuk. Dulu
dia mengritik keras Fauzi Bowo yang menolak cuti aaat kampanye, sekarang
dia malah mengajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi untuk
mementahkan undang-undang yang dibuat DPR bersama pemerintah tentang
kewajiban cuti saat kampanye.
Terkait Pilgub DKI, menurut peneliti
senior Pusat Penelitian Politik LIPI R Siti Zuhro, klaim Ahok yang
mengaku telah didukung Megawati Soekarnoputri sebagai calon Gubernur DKI
Jakarta pada Pilgub 2017 semakin menunjukkan cagub petahanan itu
inkonsisten. "Ini semakin menunjukkan dia ngepot-ngepot nggak karuan, ugal-ugalan," ujar Siti Zuhro, Sabtu (20/08/2016) lalu, seperti dikutip Rmol.co.
Zuhro mencoba menurut sikap inkonsisten
pada diri Ahok ini. Pada awalnya Ahok meminta dukungan kepada Megawati,
bahkan memberikan tenggat waktu agar merestui dia kembali berpasangan
dengan Djarot Saiful Hidayat. Karena tak juga ada sinyal positif dari
Mega, Ahok memutuskan maju lewat jalur perseorangan dengan menggandeng
Heru Budi Hartono, Kepala Badan Pengelola Keuangan Aset Daerah (BPKAD)
DKI. Timnya yang tergabung dalam Teman Ahok pun gencar mengumpulkan KTP
untuk mengejar persyaratan. Maka dengan pongahnya saat itu ia merasa
tidak membutuhkan parpol.
Seiring dengan perjalanan waktu, Ahok
ternyata batal menggunakan jalur perseorangan. Pengumpulan KTP-nya tidak
memenuhi syarat. Gembar-gembor klaim telah memiliki sejuta KTP warga
DKI hanya untuk meningkatkan nilai jual dirinya. Nyatanya hal itu hanya
bualan saja, omong kosong.
Lalu, tanpa merasa berdosa, Ahok pun
memutuskan maju lewat jalur partai politik. Tiga partai di menyokongnya:
Partai NasDem, Hanura dan Golkar menyusul di belakang. Seperti
diketahui NasDem dan Hanura adalah dua partai pecahan Golkar, jadi
sejatinya pendukung Ahok hanya satu partai saja.
"Jadi anti klimaks. Saat pengumuman satu
juta KTP, dia malah mengenalkan diri akan maju lewat parpol," ungkap
Zuhro, doktor ilmu politik dari Curtin University, Perth, Australia
ini.
Sekarang, Ahok kembali merapat ke PDIP.
Ngemis-ngemis dukungan dan bahkan berani mengklaim sudah mendapat restu
dari Megawati. Menurut Zuhro, itu sama saja Ahok berusaha menggiring
opini dan memberikan semacam warning kepada Megawati. Namun, melihat
manuver politik Ahok selama ini, orang mulai tidak percaya. "Karena
omongan yang mana yang bisa dipercaya dari Ahok?," tandas peneliti asal
Blitar itu.
Beringas dan Bengis
Penilaian tajam dan menohok tentang Ahok
juga dilontarkan politisi senior sekaligus pendiri Partai Amanat
Nasional (PAN) Amien Rais. Amien menyebut Ahok sebagai antek pemodal dan
tidak boleh lagi menjadi gubernur.
"Karena dia beringas, bengis dan
hampir-hampir seperti bandit. Saya tahu ini akan dikutip, enggak
apa-apa," kata Ketua Dewan Kehormatan PAN itu saat menyampaikan sambutan
dalam pembukaan Kongres V Barisan Muda PAN di Jakarta, Sabtu
(20/8/2016), seperti dikutip Tribunnews.com.
Amien menegaskan, sebagai pemimpin Ahok
tidak pro terhadap rakyat kecil. Ia memastikan Ahok harus dilawan karena
sudah kelewatan menjalankan tugasnya.
"Saya enggak tahu dia maunya apa. Jangan
lupa dia antek pemodal. Jadi tolong besok kalau ada calon penantang yang
masuk akal, BM PAN harus datang dengan massa banyak. Kita tunjukkan
rakyat itu mesti menang kalau bersatu," seru mantan Ketua MPR itu.
Bukan kali ini saja Amien berkomentar
pedas dan keras tentang Ahok. Sebelumnya, pada April lalu, Amien sudah
menyebut Ahok sebagai orang yang sangat arogan.
Amien melihat Ahok sebagai sosok yang
senang menantang berbagai pihak, bahkan terkesan meremehkan lembaga
negara, termasuk Badan Pemeriksa Keuangan terkait kasus RS Sumber Waras.
"Ini bukan masalah SARA, tetapi dia
memang tidak layak menjadi pimpinan. Jangankan presiden, gubernur saja
bagi saya kurang pantas," kata Amien di Temanggung, Ahad (24/4/2016)
lalu.
Menurut dia, tidak hanya sikap Ahok yang
dinilai keras kepala. Ahok, menurut Amien, adalah satu-satunya pemimpin
yang merasa paling benar dan ingin memboyong kebenaran menurut
kacamatanya sendiri. "Kalau saya orang Jakarta, pasti akan turun gunung.
Sayang, saya orang Yogyakarta," kata dia.
Bukan hanya beringas dan bengis,
sejatinya Ahok juga orang yang sangat rasis. Tengoklah saat ia masih
menjabat sebagai anggota DPR dari Partai Golkar, 2010 lalu. Saat itu
Walikota Tangerang Wahidin Halim dipanggil DPR RI karena hendak
melakukan penggusuran terhadap warga Cina Benteng, Kampung Sewan,
Tangerang.
Saat itu, Ahok yang merupakan anggota
Komisi II DPR, mempertanyakan sikap Wahidin yang tidak bersedia
memberikan ganti rugi kepada warga yang terkena gusuran. Ahok memaksa
bahkan memaki-maki Wahidin agar menggunakan APBD untuk memberi ganti
rugi warga.
Penggusuran warga keturunan etnis Cina
ini dikarenakan akan diadakannya normalisasi Kali Cisadane, dan Pemkot
beralasan jika soal tidak diberikannya ganti rugi dikarenakan bantaran
kali yang ditempati tidak memiliki IMB. Selain itu mata anggaran ganti
rugi juga tidak ada dalam APBD 2010 Tangerang. Sementara Ahok beralasan,
orang-orang China yang tinggal di daerah tersebut sudah menempati turun
temurun, dan membangun dengan hasil jerih payah.
Sikap yang sama juga perlihatkan Ahok,
ketika Wali Kota Jakarta Barat hendak melakukan penggusuran Mangga
Besar. Karena ternyata mayoritas warga di RW 02 Kelurahan Mangga Besar,
Taman Sari itu adalah keturunan China, Ahok pun berbalik memarahi Wali
Kota Anas Effendi dan membatalkan rencana penggusuran itu.
Sikap ini jelas sangat berbeda bila
dibandingkan dengan penggusuran yang dia lakukan terhadap warga pribumi
yang justru tidak satupun yang diberikan ganti rugi. Penggusuran di
Kalijodo, Pasar Ikan, Akuarium dan Luar Batang adalah contohnya.
Atas sikapnya yang beringas, bengis, dan
rasis inilah kini Ahok menuai hasilnya. Sepanjang perjalanan negara ini,
sangat jarang penolakan kedatangan pemimpin oleh warganya. Tetapi itu
tidak berlaku pada Ahok, saat ini, setiap dia berencana mengunjungi atau
meresmikan sesuatu di masyarakat, badai penentanganpun datang. Jika ia
memaksa datang, ratusan personel kepolisian dan Satpol PP –yang tentu
saja dengan biaya operasional besar—diturunkan.
Lucu dan menyedihkan, saking takutnya
diserang warga, setelah secara singkat meresmikan Rruang Publik Terpadu
Ramah Anak (RPTRA) di Penjaringan Indah, pada Jumat (24/06) lalu, Ahok
pulang terbirit-birit melewati kebon warga karena jalan utama sudah
dipenuhi warga dengan batu-batu di tangan.
Sosok seperti Ahok bukanlah tipologi
pemimpin yang dicintai rakyat. Sebaliknya, pemimpin model ini tiap hari
akan mendapatkan umpatan, makian dan laknat dari rakyatnya. Rakyat
membencinya dan dia pun membenci rakyatnya. Inilah gambaran pemimpin
yang buruk. Wallahu a’lam bissawab.
Label: Kabar Terbaru, Politik


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda