Pastikan Ambil Hadits Shahih Seperti Imam Asy-Syafi'i

Setiap
khabar atau hadits yang diatasnamakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi
wa Sallam tidak boleh sewenang-wenangnya diterima tanpa terlebih dahulu
dipastikan status keshahihan atau kebenarannya. Ini untuk menghindari
menyandarkan sesuatu kepada Nabi dengan cara prasangka, dusta, atau
bohong yang mana telah kita ketahui setiap apa yang datang dari Nabi itu
memberi nilai agama sama ada dari aspek aqidah, tauhid, hukum-hakam,
akhlak, mu’amalah, dan sebagainya.
Dari
itu, siapapun tidak boleh sesuka hati mengatakan sesuatu atas nama Nabi
tanpa melalui cara yang benar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
pernah mengingatkan : “Sesungguhnya berdusta ke atas namaku tidaklah
sama dengan berdusta menggunakan nama orang lain. Maka sesiapa yang
berdusta ke atasku dengan sengaja, bersiap-sedialah dengan tempat
duduknya di neraka.” (Hadits Riwayat al-Bukhari, 5/37, no. 1209)
Oleh
sebab itulah para ulama hadits telah menyusun sebuah kaedah khusus bagi
memastikan kesahihan khabar yang disandarkan kepada Nabi. Yaitu dengan
meneliti sanad dan barisan para perawi hadits. Setelah keabsahannya
dikenal pasti, maka barulah ia layak dijadikan sebagai hujjah dan
pegangan dalam agama bersesuaian dengan kaedah-kaedah lainnya.
Imam
‘Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah (Wafat: 181H) berkata : “Isnad
adalah sebahagian dari agama. Jika tidak ada isnad, maka sesiapa saja
akan berbicara sesuka hatinya.” (Mukaddimah Shahih Muslim, 1/15)
Seorang
tabi’in, Sa’ad bin Ibrahim berkata : “Tidak ada yang berhak
mengkhabarkan sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
Sallam melainkan orang-orang yang tsiqah.” (Hadits Riwayat Muslim, 1/15)
Kata
Muhammad bin Sirin rahimahullah (Wafat 110 H) : “Mereka (ahlus sunnah)
sebelum itu tidak bertanya tentang sanad, tetapi ketika terjadi fitnah,
mereka pun berkata : “Sebutkanlah kepada kami nama para perawimu.”
Apabila dilihat yang menyampaikannya adalah ahlus sunnah maka haditsnya
diterima, tetapi bila yang menyampaikannya adalah ahli bid’ah maka
haditsnya ditolak.” (Mukaddimah Shahih Muslim, 1/15)
Kriteria Hadits Sahih
Seseorang
Bertanya kepada imam asy-Syafi’i : “Sebutkan kepadaku syarat minimal
agar suatu khabar hadits itu boleh diterima sebagai hujjah.” Maka beliau
pun menjawab : “Khabar yang disampaikan dari satu orang dari satu orang
sehingga sampai kepada Nabi atau kepada perawi yang berada di bawah
Nabi (para sahabat).”
Beliau
menyambung : “Khabar hadits dari satu orang kepada satu orang tidak
dapat diterima sebagai hujjah sehingga memenuhi beberapa syarat yang di
antaranya : Orang yang meriwayatkan mesti tsiqah (terpercaya) dalam
agamanya. Dikenal sebagai orang yang benar lagi jujur dalam berbicara,
memahami apa yang ia riwayatkan (atau khabarkan), memahami lafaz yang
boleh mengubah makna-makna hadits, dan mampu menyampaikan hadits
bertepatan dengan huruf-hurufnya persis sebagaimana yang ia dengar dan
bukan menyampaikan sekadar dengan maknanya atau sekadar dari
kefahamannya saja.
Orang
yang meriwayatkannya perlu hafal apa yang ia riwayatkan jika dia
meriwayatkannya dari hafalan, atau mencatatnya dengan tepat jika dia
meriwayatkan berdasarkan catatannya (atau kitabnya). Apabila dia
menghafal suatu hadits bersama-sama dengan para huffaz (penghafal
hadits) yang lain, maka apa yang ia riwayatkan perlu selaras dengan apa
yang diriwayatkan oleh para huffaz lainnya tersebut.
Orang
yang meriwayatkannya tidak boleh seorang yang mudallis (penipu) dengan
meriwayatkan suatu riwayat (hadits) dari seseorang yang ditemuinya
tetapi tidak pernah mendengar riwayat dimaksudkan secara langsung
darinya. Atau apabila ia meriwayatkan suatu hadits dari Nabi Shallallahu
‘alaihi wa Sallam, ia tidak boleh menyelisihi apa yang diriwayatkan
oleh para perawi tsiqah yang lainnya dari Nabi.
Inilah
keriteria yang perlu dimiliki bermula dari perawi terendah (paling
bawah) sehingga paling atas yang sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa Sallam yang diriwayatkan secara maushul (bersambung). Yaitu setiap
perawi mengakui orang yang menyampaikan kepadanya dan orang yang
menyampaikan juga mengakuinya. Tidak seorang pun perawi yang boleh
mengelak dari ketentuan ini.” (asy-Syafi’i, ar-Risalah, m/s. 369-372 –
Daar al-Kitab al-‘Ilmiyah, Tahqiq Syaikh Ahmad Syakir)
Kriteria
dan syarat yang ditetapkan oleh imam asy-Syafi’i inilah yang diterima
pakai oleh para ulama hadits dahulu dan kini dalam menetapkan boleh atau
tidaknya sesebuah hadits diterima pakai. Di mana sanadnya mesti
muttashil (bersambung dan tidak putus), para perawinya ‘adil, perawinya
dhabit (tepat dan sempurna hafalannya), selamat dari syuyudz (riwayatnya
tidak bertentangan dengan riwayat para perawi yang lebih tsiqah
darinya), dan selamat dari ‘illat atau kecacatan-kecacatan hadits
lainnya. Inilah di antara asas utama bagi memastikan kedudukan sesebuah
hadits sama ada sahih, hasan, dha’if (lemah), maudhu’ (palsu), atau
selainnya.
Ini
sekaligus menunjukkan ketelitian dan kedalaman ilmu yang dimiliki oleh
imam asy-Syafi’i dalam bidang hadits. Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah
mengatakan : “Siapa saja yang memahami ucapan imam asy-Syafi’i
rahimahullah pada bab ini, pasti dia akan mendapati bahawa imam
asy-Syafi’i telah menyusun (atau merangkumkan) sebuah kaedah yang shahih
tentang ilmu hadits. Dan bahwasanya beliaulah orang pertama sekali
menjelaskan ilmu ini dengan begitu terang. Beliau adalah pembela hadits
yang paling unggul serta orang yang lantang menekankan kewajiban
mengamalkan sunnah. Beliau turut mengeluarkan hujjah bantahan terhadap
orang-orang yang menentang dan menolak hadits. Benarlah gelaran yang
diberikan oleh pendudukan Makkah kepada imam asy-Syafi’i sebagai
Naashirus Sunnah (pembela Sunnah), semoga Allah meridhainya.” (Tahqiq
Syaikh Ahmad Syakir, ar-Risalah, m/s. 369)
Inilah
di antara prinsip imam asy-Syafi’i rahimahullah bahkan prinsip para
ulama ahlus sunnah wal-jama’ah dari dahulu hingga kini dalam mengambil
dan menerima hadits sebagai hujjah agama. Mereka terlebih dahulu
memastikan keabsahan dan keshahihan sebuah hadits sebelum mengamalkan
dan menyebarkannya. Mereka tidak mengambilnya dari sembarangan orang
begitu saja.
Alhamdulillah
pada hari ini, fase periwayatan dan pembukuan hadits telah pun tamat
lengkap dengan sanad-sanadnya sekaligus memudahkan para ulama dan
masyarakat terkemudian menyimak serta memanfaatkannya. Cuma setiap
hadits tersebut masih perlu dinilai shahih atau tidaknya. Dan ini masih
sangat memerlukan perincian dan bantuan dari para ulama hadits sama ada
dahulu atau kini. Kita tidak boleh sewenang-wenangnya memetik hadits
begitu saja tanpa dipastikan terlebih dahulu keabsahan atau status
kesahihannya berpandukan kaedah yang benar. Setiap hadits perlu diambil
dari kitab dan sumbernya.
Selamilah
pengorbanan para ulama terdahulu yang sanggup keluar bermusafir ribuan
batu demi sebuah hadits yang mulia. Hadits-hadits diriwayatkan lalu
dibukukan dengan cara terhormat lagi dimuliakan. Dipilih dengan kaedah
yang penuh teliti lagi hati-hati.
Maka
sepatutnya kita pada hari ini memanfaatkan hasil pengorbanan mereka
dengan tidak sewenang-wenangnya memetik hadits hanya dari surat-surat
khabar, internet, cakap-cakap orang, dan pelbagai sumber lainnya tanpa
terlebih dahulu memastikan keabsahannya.
Para
ulama ahlus sunnah wal-jama’ah terkenal amat berhati-hati dalam memilih
dan mengambil hadits. Ini dalam rangka mengelak dari tersalah ambil
hadits-hadits yang lemah, maudhu’, atau tidak shahih lalu mengatakannya
ini adalah hadits shahih daripada Nabi?! Inilah juga di antara prinsip
yang dipegang teguh oleh imam asy-Syafi’i rahimahullah sebagaimana
dikatakan imam an-Nawawi rahimahullah (Wafat 676 H) :
“Beliau
(Imam asy-Syafi’i rahimahullah) amat berpegang teguh dengan
hadits-hadits shahih dan menjauhi hadits-hadits yang lemah lagi dha’if.
Kami tidak mengetahui ada seorang pun dari kalangan fuqaha’ yang begitu
berhati-hati ketika berhujjah dengan membedakan di antara hadits shahih
dan dha’if sebagaimana yang dilakukan oleh beliau (asy-Syafi’i)”.
(al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab, 1/11)
Tapi
sayangnya, prinsip ini banyak diabaikan oleh pengamal madzhab
asy-Syafi’i sendiri di Nusantara ini. Sebagian mereka tidak lagi
membedakan di antara hadits yang shahih atau tidak. Banyak berlaku di
mana hadits-hadits yang tidak shahih dipegang dan disebarkan sebagaimana
hadits shahih. Sehingga apabila didatangkan hadits-hadits yang shahih
yang bertentangan dengan apa yang mereka imani atau amalkan, mereka
tidak lagi mau menerimanya.
Ini
amat bertentangan dengan perkataan dan prinsip imam asy-Syafi’i sendiri
di mana beliau mengatakan : “Setiap perkataanku yang berbeda dengan
riwayat yang shahih daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka
hadits Nabi lebih pertama (perlu didahulukan) dan kamu semua jangan
bertaklid kepadaku.” (al-Baihaqi, Ma’rifah as-Sunan wal Atsar, 2/454)
Juga kata beliau : “Apabila sahih suatu hadits, maka itulah mazhabku.” (al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab, 1/92)
Pernahkah
kita mendengar hadits-hadits yang sudah dianggap populer seperti
tentang mendapat ganjaran pahala 70 kali ganda jika memakai serban
ketika shalat, perselisihan di kalangan umat Muhammad adalah rahmat,
tuntutlah ilmu sampai ke negeri China, Yasin jantung hati al-Qur’an,
siapa yang mengenal diri maka dia mengenal Allah, bermadu bagi isteri
akan mendapat payung emas di Syurga, galakkan membaca surah Yasin untuk
orang mati, kisah sahabat Nabi Tsa’labah yang bakhil, nyanyian thala’al
badru ‘alaina ketika menyambut Nabi tiba di Madinah, kisah ‘Abdurrahman
bin ‘Auf masuk Syurga sambil merangkak, serta pelbagai lagi
khabar-khabar hadits populer yang disandarkan atas nama agama dan nama
Rasulullah yang mana hakikatnya ia bukanlah hadits-hadits yang shahih
dan boleh dibuat hujjah maupun pegangan dalam agama.
Duka
citanya, ia beredar di sekeliling kita, disampaikan oleh mereka yang
bergelar ustadz dan ustadzah, serta diimani kebanyakan orang. Oleh
karena itu, pastikanlah setiap hadits yang kita terima dan amalkan
adalah hadits-hadits yang shahih terlebih dahulu. Takut-takutlah kita
dengan ancaman berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
Sallam.
Label: Aswaja

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda