Senin, 15 Oktober 2012

Pastikan Ambil Hadits Shahih Seperti Imam Asy-Syafi'i



Setiap khabar atau hadits yang diatasnamakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak boleh sewenang-wenangnya diterima tanpa terlebih dahulu dipastikan status keshahihan atau kebenarannya. Ini untuk menghindari menyandarkan sesuatu kepada Nabi dengan cara prasangka, dusta, atau bohong yang mana telah kita ketahui setiap apa yang datang dari Nabi itu memberi nilai agama sama ada dari aspek aqidah, tauhid, hukum-hakam, akhlak, mu’amalah, dan sebagainya.
Dari itu, siapapun tidak boleh sesuka hati mengatakan sesuatu atas nama Nabi tanpa melalui cara yang benar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah mengingatkan : “Sesungguhnya berdusta ke atas namaku tidaklah sama dengan berdusta menggunakan nama orang lain. Maka sesiapa yang berdusta ke atasku dengan sengaja, bersiap-sedialah dengan tempat duduknya di neraka.” (Hadits Riwayat al-Bukhari, 5/37, no. 1209)
Oleh sebab itulah para ulama hadits telah menyusun sebuah kaedah khusus bagi memastikan kesahihan khabar yang disandarkan kepada Nabi. Yaitu dengan meneliti sanad dan barisan para perawi hadits. Setelah keabsahannya dikenal pasti, maka barulah ia layak dijadikan sebagai hujjah dan pegangan dalam agama bersesuaian dengan kaedah-kaedah lainnya.
Imam ‘Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah (Wafat: 181H) berkata : “Isnad adalah sebahagian dari agama. Jika tidak ada isnad, maka sesiapa saja akan berbicara sesuka hatinya.” (Mukaddimah Shahih Muslim, 1/15)
Seorang tabi’in, Sa’ad bin Ibrahim berkata : “Tidak ada yang berhak mengkhabarkan sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melainkan orang-orang yang tsiqah.” (Hadits Riwayat Muslim, 1/15)
Kata Muhammad bin Sirin rahimahullah (Wafat 110 H) : “Mereka (ahlus sunnah) sebelum itu tidak bertanya tentang sanad, tetapi ketika terjadi fitnah, mereka pun berkata : “Sebutkanlah kepada kami nama para perawimu.” Apabila dilihat yang menyampaikannya adalah ahlus sunnah maka haditsnya diterima, tetapi bila yang menyampaikannya adalah ahli bid’ah maka haditsnya ditolak.” (Mukaddimah Shahih Muslim, 1/15)
Kriteria Hadits Sahih
Seseorang Bertanya kepada imam asy-Syafi’i : “Sebutkan kepadaku syarat minimal agar suatu khabar hadits itu boleh diterima sebagai hujjah.” Maka beliau pun menjawab : “Khabar yang disampaikan dari satu orang dari satu orang sehingga sampai kepada Nabi atau kepada perawi yang berada di bawah Nabi (para sahabat).”
Beliau menyambung : “Khabar hadits dari satu orang kepada satu orang tidak dapat diterima sebagai hujjah sehingga memenuhi beberapa syarat yang di antaranya : Orang yang meriwayatkan mesti tsiqah (terpercaya) dalam agamanya. Dikenal sebagai orang yang benar lagi jujur dalam berbicara, memahami apa yang ia riwayatkan (atau khabarkan), memahami lafaz yang boleh mengubah makna-makna hadits, dan mampu menyampaikan hadits bertepatan dengan huruf-hurufnya persis sebagaimana yang ia dengar dan bukan menyampaikan sekadar dengan maknanya atau sekadar dari kefahamannya saja.
Orang yang meriwayatkannya perlu hafal apa yang ia riwayatkan jika dia meriwayatkannya dari hafalan, atau mencatatnya dengan tepat jika dia meriwayatkan berdasarkan catatannya (atau kitabnya). Apabila dia menghafal suatu hadits bersama-sama dengan para huffaz (penghafal hadits) yang lain, maka apa yang ia riwayatkan perlu selaras dengan apa yang diriwayatkan oleh para huffaz lainnya tersebut.
Orang yang meriwayatkannya tidak boleh seorang yang mudallis (penipu) dengan meriwayatkan suatu riwayat (hadits) dari seseorang yang ditemuinya tetapi tidak pernah mendengar riwayat dimaksudkan secara langsung darinya. Atau apabila ia meriwayatkan suatu hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, ia tidak boleh menyelisihi apa yang diriwayatkan oleh para perawi tsiqah yang lainnya dari Nabi.
Inilah keriteria yang perlu dimiliki bermula dari perawi terendah (paling bawah) sehingga paling atas yang sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang diriwayatkan secara maushul (bersambung). Yaitu setiap perawi mengakui orang yang menyampaikan kepadanya dan orang yang menyampaikan juga mengakuinya. Tidak seorang pun perawi yang boleh mengelak dari ketentuan ini.” (asy-Syafi’i, ar-Risalah, m/s. 369-372 – Daar al-Kitab al-‘Ilmiyah, Tahqiq Syaikh Ahmad Syakir)
Kriteria dan syarat yang ditetapkan oleh imam asy-Syafi’i inilah yang diterima pakai oleh para ulama hadits dahulu dan kini dalam menetapkan boleh atau tidaknya sesebuah hadits diterima pakai. Di mana sanadnya mesti muttashil (bersambung dan tidak putus), para perawinya ‘adil, perawinya dhabit (tepat dan sempurna hafalannya), selamat dari syuyudz (riwayatnya tidak bertentangan dengan riwayat para perawi yang lebih tsiqah darinya), dan selamat dari ‘illat atau kecacatan-kecacatan hadits lainnya. Inilah di antara asas utama bagi memastikan kedudukan sesebuah hadits sama ada sahih, hasan, dha’if (lemah), maudhu’ (palsu), atau selainnya.
Ini sekaligus menunjukkan ketelitian dan kedalaman ilmu yang dimiliki oleh imam asy-Syafi’i dalam bidang hadits. Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah mengatakan : “Siapa saja yang memahami ucapan imam asy-Syafi’i rahimahullah pada bab ini, pasti dia akan mendapati bahawa imam asy-Syafi’i telah menyusun (atau merangkumkan) sebuah kaedah yang shahih tentang ilmu hadits. Dan bahwasanya beliaulah orang pertama sekali menjelaskan ilmu ini dengan begitu terang. Beliau adalah pembela hadits yang paling unggul serta orang yang lantang menekankan kewajiban mengamalkan sunnah. Beliau turut mengeluarkan hujjah bantahan terhadap orang-orang yang menentang dan menolak hadits. Benarlah gelaran yang diberikan oleh pendudukan Makkah kepada imam asy-Syafi’i sebagai Naashirus Sunnah (pembela Sunnah), semoga Allah meridhainya.” (Tahqiq Syaikh Ahmad Syakir, ar-Risalah, m/s. 369)
Inilah di antara prinsip imam asy-Syafi’i rahimahullah bahkan prinsip para ulama ahlus sunnah wal-jama’ah dari dahulu hingga kini dalam mengambil dan menerima hadits sebagai hujjah agama. Mereka terlebih dahulu memastikan keabsahan dan keshahihan sebuah hadits sebelum mengamalkan dan menyebarkannya. Mereka tidak mengambilnya dari sembarangan orang begitu saja.
Alhamdulillah pada hari ini, fase periwayatan dan pembukuan hadits telah pun tamat lengkap dengan sanad-sanadnya sekaligus memudahkan para ulama dan masyarakat terkemudian menyimak serta memanfaatkannya. Cuma setiap hadits tersebut masih perlu dinilai shahih atau tidaknya. Dan ini masih sangat memerlukan perincian dan bantuan dari para ulama hadits sama ada dahulu atau kini. Kita tidak boleh sewenang-wenangnya memetik hadits begitu saja tanpa dipastikan terlebih dahulu keabsahan atau status kesahihannya berpandukan kaedah yang benar. Setiap hadits perlu diambil dari kitab dan sumbernya.
Selamilah pengorbanan para ulama terdahulu yang sanggup keluar bermusafir ribuan batu demi sebuah hadits yang mulia. Hadits-hadits diriwayatkan lalu dibukukan dengan cara terhormat lagi dimuliakan. Dipilih dengan kaedah yang penuh teliti lagi hati-hati.
Maka sepatutnya kita pada hari ini memanfaatkan hasil pengorbanan mereka dengan tidak sewenang-wenangnya memetik hadits hanya dari surat-surat khabar, internet, cakap-cakap orang, dan pelbagai sumber lainnya tanpa terlebih dahulu memastikan keabsahannya.
Para ulama ahlus sunnah wal-jama’ah terkenal amat berhati-hati dalam memilih dan mengambil hadits. Ini dalam rangka mengelak dari tersalah ambil hadits-hadits yang lemah, maudhu’, atau tidak shahih lalu mengatakannya ini adalah hadits shahih daripada Nabi?! Inilah juga di antara prinsip yang dipegang teguh oleh imam asy-Syafi’i rahimahullah sebagaimana dikatakan imam an-Nawawi rahimahullah (Wafat 676 H) :
“Beliau (Imam asy-Syafi’i rahimahullah) amat berpegang teguh dengan hadits-hadits shahih dan menjauhi hadits-hadits yang lemah lagi dha’if. Kami tidak mengetahui ada seorang pun dari kalangan fuqaha’ yang begitu berhati-hati ketika berhujjah dengan membedakan di antara hadits shahih dan dha’if sebagaimana yang dilakukan oleh beliau (asy-Syafi’i)”. (al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab, 1/11)
Tapi sayangnya, prinsip ini banyak diabaikan oleh pengamal madzhab asy-Syafi’i sendiri di Nusantara ini. Sebagian mereka tidak lagi membedakan di antara hadits yang shahih atau tidak. Banyak berlaku di mana hadits-hadits yang tidak shahih dipegang dan disebarkan sebagaimana hadits shahih. Sehingga apabila didatangkan hadits-hadits yang shahih yang bertentangan dengan apa yang mereka imani atau amalkan, mereka tidak lagi mau menerimanya.
Ini amat bertentangan dengan perkataan dan prinsip imam asy-Syafi’i sendiri di mana beliau mengatakan : “Setiap perkataanku yang berbeda dengan riwayat yang shahih daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka hadits Nabi lebih pertama (perlu didahulukan) dan kamu semua jangan bertaklid kepadaku.” (al-Baihaqi, Ma’rifah as-Sunan wal Atsar, 2/454)
Juga kata beliau : “Apabila sahih suatu hadits, maka itulah mazhabku.” (al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab, 1/92)
Pernahkah kita mendengar hadits-hadits yang sudah dianggap populer seperti tentang mendapat ganjaran pahala 70 kali ganda jika memakai serban ketika shalat, perselisihan di kalangan umat Muhammad adalah rahmat, tuntutlah ilmu sampai ke negeri China, Yasin jantung hati al-Qur’an, siapa yang mengenal diri maka dia mengenal Allah, bermadu bagi isteri akan mendapat payung emas di Syurga, galakkan membaca surah Yasin untuk orang mati, kisah sahabat Nabi Tsa’labah yang bakhil, nyanyian thala’al badru ‘alaina ketika menyambut Nabi tiba di Madinah, kisah ‘Abdurrahman bin ‘Auf masuk Syurga sambil merangkak, serta pelbagai lagi khabar-khabar hadits populer yang disandarkan atas nama agama dan nama Rasulullah yang mana hakikatnya ia bukanlah hadits-hadits yang shahih dan boleh dibuat hujjah maupun pegangan dalam agama.
Duka citanya, ia beredar di sekeliling kita, disampaikan oleh mereka yang bergelar ustadz dan ustadzah, serta diimani kebanyakan orang. Oleh karena itu, pastikanlah setiap hadits yang kita terima dan amalkan adalah hadits-hadits yang shahih terlebih dahulu. Takut-takutlah kita dengan ancaman berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
Wallahu a’lam...

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda