Rabu, 26 September 2012

Kesaksian Sandrina Malakiano mantan penyiar Metro TV terkait Jilbab

POSTED On : 18 - Sep - 2012
― EDITOR By : Azzans Djuli el-Asyi 
Catatan: Pada Mei 2006, keputusan yang sulit pun akhirnya ia ambil. Sandrina resmi keluar dari stasiun televisi itu (Metro TV)


SEJAK memutuskan untuk berjilbab, sosok Sandrina Malakiano tak lagi membawakan berita, Ia menghilang. Metro TV tempat ia bekerja dikecam karena melarang Sandrina Malakiano mengenakan jilbab pada saat siaran, meskipun Sandrina sudah memperjuangkannya selama berbulan-bulan dengan mengajak jajaran pimpinan level atas Metro TV berdiskusi panjang. Larangan inilah, alasan Sandrina keluar dari Metro TV.

(Curhat dari seorang Sandrina Malakiano dari Facebook-nya Sandrina Malakiano Fatah)

Setiap kali sebuah musibah datang, maka sangat boleh jadi di belakangnya sesungguhnya menguntit berkah yang belum kelihatan. Saya sendiri yakin bahwa ” sebagaimana Islam mengajarkan ” di balik kebaikan boleh jadi tersembunyi keburukan dan di balik keburukan boleh jadi tersembunyi kebaikan.
Saya sendiri membuktikan itu dalam kaitan dengan keputusan memakai hijab sejak pulang berhaji di awal 2006. Segera setelah keputusan itu saya buat, sesuai dugaan, ujian pertama datang dari tempat saya bekerja, Metro TV.
Sekalipun tanpa dilandasi aturan tertulis, saya tidak diperkenankan untuk siaran karena berjilbab. Pimpinan Metro TV sebetulnya sudah mengijinkan saya siaran dengan jilbab asalkan di luar studio, setelah berbulan-bulan saya memperjuangkan izinnya. Tapi, mereka yang mengelola langsung beragam tayangan di Metro TV menghambat saya di tingkat yang lebih operasional. Akhirnya, setelah enam bulan saya berjuang, bernegosiasi, dan mengajak diskusi panjang sejumlah orang dalam jajaran pimpinan level atas dan tengah di Metro TV, saya merasa pintu memang sudah ditutup.
Sementara itu, sebagai penyiar utama saya mendapatkan gaji yang tinggi. Untuk menghindari fitnah sebagai orang yang makan gaji buta, akhirnya saya memutuskan untuk cuti di luar tanggungan selama proses negosiasi berlangsung. Maka, selama enam bulan saya tak memperoleh penghasilan, tapi dengan status yang tetap terikat pada institusi Metro TV.
Setelah berlama-lama dalam posisi yang tak jelas dan tak melihat ada sinar di ujung lorong yang gelap, akhirnya saya mengundurkan diri. Pengunduran diri ini adalah sebuah keputusan besar yang mesti saya buat. Saya amat mencintai pekerjaan saya sebagai reporter dan presenter berita serta kemudian sebagai anchor di televisi. Saya sudah menggeluti pekerjaan yang amat saya cintai ini sejak di TVRI Denpasar, ANTV, sebagai freelance untuk sejumlah jaringan TV internasional, TVRI Pusat, dan kemudian Metro TV selama 15 tahun, ketika saya kehilangan pekerjaan itu. Maka, ini adalah sebuah musibah besar bagi saya.
Tetapi, dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan memberi saya yang terbaik dan bahwa dunia tak selebar daun Metro TV, saya bergeming dengan keputusan itu. Saya yakin di balik musibah itu, saya akan mendapat berkah dari-Nya.
Hikmah Berjilbab

Benar saja. Sekitar satu tahun setelah saya mundur dari Metro TV, ibu saya terkena radang pankreas akut dan mesti dirawat intensif di rumah sakit. Saya tak bisa membayangkan, jika saja saya masih aktif di Metro TV, bagaimana mungkin saya bisa mendampingi Ibu selama 47 hari di rumah sakit hingga Allah memanggilnya pulang pada 28 Mei 2007 itu. Bagaimana mungkin saya bisa menemaninya selama 28 hari di ruang rawat inap biasa, menungguinya di luar ruang operasi besar serta dua hari di ruang ICU, dan kemudian 17 hari di ruang ICCU?
Hikmah lain yang saya sungguh syukuri adalah karena berjilbab saya mendapat kesempatan untuk mempelajari Islam secara lebih baik. Kesempatan ini datang antara lain melalui beragam acara bercorak keagamaan yang saya asuh di beberapa stasiun TV. Metro TV sendiri memberi saya kesempatan sebagai tenaga kontrak untuk menjadi host dalam acara pamer cakap (talkshow) selama bulan Ramadhan.
Karena itulah, saya beroleh kesempatan untuk menjadi teman dialog para profesor di acara Ensiklopedi Al Quran selama Ramadhan tahun lalu, misalnya. Saya pun mendapatkan banyak sekali pelajaran dan pemahaman baru tentang agama dan keberagamaan. Islam tampil makin atraktif, dalam bentuknya yang tak bisa saya bayangkan sebelumnya. Saya bertemu Islam yang hanif, membebaskan, toleran, memanusiakan manusia, mengagungkan ibu dan kaum perempuan, penuh penghargaan terhadap kemajemukan, dan melindungi minoritas.
Saya sama sekali tak merasa bahwa saya sudah berislam secara baik dan mendalam. Tidak sama sekali. Berjilbab pun, perlu saya tegaskan, bukanlah sebuah proklamasi tentang kesempurnaan beragama atau tentang kesucian. Berjibab adalah upaya yang amat personal untuk memilih kenyamanan hidup.
Berjilbab adalah sebuah perangkat untuk memperbaiki diri tanpa perlu mempublikasikan segenap kebaikan itu pada orang lain. Berjilbab pada akhirnya adalah sebuah pilihan personal. Saya menghormati pilihan personal orang lain untuk tidak berjilbab atau bahkan untuk berpakaian seminim yang ia mau atas nama kenyamanan personal mereka. Tapi, karena sebab itu, wajar saja jika saya menuntut penghormatan serupa dari siapapun atas pilihan saya menggunakan jilbab.
Hikmah lainnya adalah saya menjadi tahu bahwa fundamentalisme bisa tumbuh di mana saja. Ia bisa tumbuh kuat di kalangan yang disebut puritan. Ia juga ternyata bisa berkembang di kalangan yang mengaku dirinya liberal dalam berislam.
Tak lama setelah berjilbab, di tengah proses bernegosiasi dengan Metro TV, saya menemani suami untuk bertemu dengan Profesor William Liddle ” seseorang yang senantiasa kami perlakukan penuh hormat sebagai sahabat, mentor, bahkan kadang-kadang orang tua ” di sebuah lembaga nirlaba. Di sana kami juga bertemu dengan sejumlah teman, yang dikenali publik sebagai tokoh-tokoh liberal dalam berislam.
Saya terkejut mendengar komentar-komentar mereka tentang keputusan saya berjilbab. Dengan nada sedikit melecehkan, mereka memberikan sejumlah komentar buruk, sambil seolah-olah membenarkan keputusan Metro TV untuk melarang saya siaran karena berjilbab. Salah satu komentar mereka yang masih lekat dalam ingatan saya adalah, Kamu tersesat. Semoga segera kembali ke jalan yang benar.
Saya sungguh terkejut karena sikap mereka bertentangan secara diametral dengan gagasan-gagasan yang konon mereka perjuangkan, yaitu pembebasan manusia dan penghargaan hak-hak dasar setiap orang di tengah kemajemukan.
Bagaimana mungkin mereka tak faham bahwa berjilbab adalah hak yang dimiliki oleh setiap perempuan yang memutuskan memakainya? Bagaimana mereka tak mengerti bahwa jika sebuah stasiun TV membolehkan perempuan berpakaian minim untuk tampil atas alasan hak asasi, mereka juga semestinya membolehkan seorang perempuan berjilbab untuk memperoleh hak setara? Bagaimana mungkin mereka memiliki pikiran bahwa dengan kepala yang ditutupi jilbab maka kecerdasan seorang perempuan langsung meredup dan otaknya mengkeret mengecil?
Bersama suami, saya kemudian menyimpulkan bahwa fundamentalisme “mungkin dalam bentuknya yang lebih berbahaya” ternyata bisa bersemayam di kepala orang-orang yang mengaku liberal.
***
Catatan: Pada Mei 2006, keputusan yang sulit pun akhirnya ia ambil. Sandrina resmi keluar dari stasiun televisi itu. 

Data Lengkap Film "Innocence of Muslim / Anti Islam"

Data otak Film Anti Islam:

1. Semula film ini menceritakan adanya komet jatuh ke wilayah Timur Tengah, shooting film itu juga menggunakan layar hijau dan sangat murah. Setelah film selesai tiba-tiba ada perubahan scenario, dubbing/sulih su

ara film. Sebelumnya Film berjudul “Dessert Warrior”, film ini telah diputar di bioskop Vine di Los Angeles, AS bulan Juni dan diberi judul ''The Innocence of Bin Laden''. Fimnya tidak laku, penontonnya sedikit.

2. Pemeran lelaki berdasarkan seleksi Uncut Casting Services di Kota Santa Monica. Tokoh utama film ini bernama George, namun tanpa sepengetahuan actor yang membintangi tokoh ini diubah dengan nama Muhammad. "Nama Nabi Muhammad tak pernah disebut di lokasi syuting,"

3. Tokoh wanita bernama Hilary, dibintangi Anna Gurji (lihat fotto diatas) sebagai pengantin muda dari seorang pria bernama George. Tokoh perempuan lainnya memerankan perempuan berkalung salib. Bintang tokoh ini dibayar murah, Rp 950.500. Bintang lainnya hanya menerima cek Rp 712.875.

4. Video ini pertama kali diposting online pada 1 Juli namun tidak begitu menarik perhatian publik. Lalu stasiun televisi Mesir Al-Nas menayangkan cuplikan film tersebut pada 8 September 2012. Klip inipun mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan diposting online. Lalu dalam beberapa hari telah dilihat oleh ratusan ribu orang. Cuplikan dialog dalam Youtube telah disulih suara ditambah pernyataan menghina Muslim. Sebagaimana dilaporkan Stasiun televisi Al Arabiya,(15/9/2012),

5. Sutradara film ini bernama Alan Roberts, yaitu sutradara film porno seperti The Happy Hooker Goes to Hollywood, trilogi Happy Hooker dan The Sexpert. Berdasarkan data IMDB, Santa Monica, California, Demikian dilansir Gawker,

6. Produsernya bernama Sam Bacile, yang menggunakan banyak nama palsu, seperti Nakoula Basseley Nakoula, Nicola Bacily dan Erwin Salameh. Sam Bacile adalah seorang warga Kristen Koptik Mesir, tinggal di California. Dia juga seorang bajingan tengik, terdakwa kasus narkoba, pernah di penjara tahun 2011. Terlibat skandal bank tahun 2010. Demikian menurut dokumen pengadilan federal dilansir Daily Mail (16/9/2012).

7. Tokoh dibalik film anti Islam sekaligus persaingan politik Amerika, seperti Capres AS, Mitt Romney kelompok Mormon di Central Intelligence Agency (CIA) didukung tangan kanan dari Henry Kissinger. Kissinger adalah mantan Menteri Luar Negeri AS, tokoh Yahudi Amerika. Selain itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan partainya, Partai Likud. Dan pembuat film Sam Bacile warga AS berdarah Yahudi Israel. Tokoh lainnya yang anti Islam seperti Steve Klein, Terry Jones (pembakar Al-Quran), Pamela Geller, dan Daniel Pipes. Demikian menurut Dr Webster Griffin Tarpley, analis politik yang dilansir Press TV

8. Film berdurasi dua jam itu dia buat tahun lalu di California selama tiga bulan. Melibatkan aktor amatir tidak profesional, 60 aktor dan 45 kru. Film dengan anggaran murah yang diidanai 100 orang Yahudi sekitar US$5 juta. Hasilnya standar produksi yang buruk. Proses shooting hanya lima hari di sebuah studio film California pada Agustus tahun lalu

9. Film ini mempersatukan Suni, syiah, Iran bahkan al Qaeda karena pembelaan nabi tidak mengenal aliran atau politik bahkan tentara boneka/tentara bayaran Amerika di negara Islam. Film ini lebih gantleman membuka kedok Barat dan provokasi tegas penyulut perang Global dibanding konspirasi terrorisme yang mengelabuhi. Bisa terjadi Perang agama Kristen vs agama lain yang di picu Pendeta, Partai anti Islam. Perang politik kekuasaan Amerika, Yahudi dan sekutunya vs Persatuan Islam, bahkan Rusia menyatakan Film itu sebagaimmateri ekstremis, tegas juru bicara Kejaksaan Agung, Marina Gridneva seperti dilansir The News International, Selasa (18/9). Hal inilah membuat Amerika khawatir dan berencana akan melakukan modernisasi instalasi nuklirnya dengan biaya paling tinggi dalam sejarah. Sebagaimana dilansir Washington Post (15/9/2012). Namun Amerika memfitnah Negara Lain menyimpan Nuklir untuk mengelabuhi dunia.

10. Damaikan dunia ini, hentikan kristenisasi, Zeonisme, penjajahan dunia oleh kekuasaan barat atau konspirasi global Maka akan tercipta perdamaian haqiqi. Tidak ada reaksi atau fitnah terrorisme lagi.

Melalui berbagai sumber, Journalis Islam melaporkan

Bila Umat Kristen tidak membela diri terhadap agama atau Tuhannya, maka dapat diketahui

1. Alasan Film itu sebagai hak Expresi seni yang dilindungi Undang-undang HAM, maka akan terjadi kerusakan dunia.

2. Bila agama atau Tuhan Kristen dihujat, Tuhan tidak perlu dibela, maka beredar film Porno scandal gereja yang di buat murtadin Kristen/atheis Amerika, dibuat film Maria ibunda Yesus diperkosa Yahudi akibatnya goyah keimanan kristen, banyak yang murtad.

3. Bila kristen tidak membela Tuhan atau agamanya sendiri, menujukkan tidak adanya nurani dan rasa cinta kasih. Seperti cintanya pada Pacar tidak ada, diselingkuhi atau putus tidak ada reaksi, maka ini bukan cinta sejati. Kecuali seperti sifat Babi yang membiarkan pasangannya berganti-ganti. Jadi yang ada kebohongan dan kemunafikan berkedok cinta kasih

4. Militansi dan harga diri agama kristen tidak ada dimata umatnya, bila diam dilecehkan. Logikanya bila ibunya sendiri diperkosa orang lain, anaknya diam. Maka otak waras mengatakan anaknya gila atau durhaka.

5. Kristen sebenarnya ditentang dari dalam, dendam atheis, Genosida Yahudi, inkusisi sekte dan saterusnya. Jadi dengan Islam pura-pura diam. Inilah pembhong murni

5. Bila ternyata diamnya adalah cara pengalihan atau pembalasan tanpa sepengetahuan orang lain mengatasnamakan perdamaian, HAM dan lain modus operandi, maka ini sebagai konspirasi yang lebih membahaykan dan tidak gentleman.