Sabtu, 01 April 2017

Suratku Untukmu, Tuan Presiden

Oleh: Syukri Wahid *)

Pak Presiden, sadarkah jika dahulu umat Islam tak berpolitik, maka kita tidak akan menjadi keluarga besar bernama Indonesia?

Pak Presiden, ajakanmu memisahkan agama dari politik adalah justru ahistoris dengan para pendahulu kita. Sebab, saham terbesar kebangkitan dan kemerdekaan ini elemen agama, tuanku.

Pak Presiden, sadarkah engkau bahwa usia agama lebih lama dari pada usia negara kita. Dahulu Imam Bonjol, pangeran Dipenogoro, Teuku Umar, Cut Nyak Din, Panglima Polim, Pangeran Badaruddin, Sultan Hasanuddin, dan lainnya, belum mengenal bendera Merah Putih.

Belum mengenal lagu Indonesia Raya dan Pancasila. Mereka angkat senjata  usir para penjajah karena perintah agama tuanku, belum ada pemilu apalagi pilkada kala itu, tuanku.

Pak Presiden, pernyataanmu pisahkan agama dan politik agar rakyat tahu mana agama dan mana politik? Itu bermakna banyak tuan presiden. Pertama agama dianggap "sumber masalah", ketika dia masuk ke politik.

Kedua, menganggap agama terlalu sakral dan suci dan tidak pantas masuk ke politk yang kotor. Artinya, agama adalah untuk orang suci dan politik adalah untuk orang kotor, jadi politisi itu kotor, tuanku.

Pak Presiden, yang ketiga, menuduh agama hanya mengatur masalah selain politik, padahal politik adalah pintu kekuasaan yang denganya Anda bisa atur semuanya, termasuk khatib Jumat pun Anda akan akreditasi.

Pak Presiden, Anda letakkan agama jauh dari politik, tapi saat minta dukungan politik, Anda masuk ke basis pemilih agama. Bahkan, tak sungkan Anda bersurban, pimpin shalat jamaah, dan dalam pembukaan pidato kampanye dengan bumbu kalimat Arab biar kesan Islami dan ibu negara berjilbab. Apakah itu yang namanya memisahkan agama dari politik?

Pak Presiden, agama terlalu privat bagi pemeluknya melebihi negara sekalipun, dia masuk mengatur kehidupan seorang mulai masuk WC, cara tidur, cara potong kuku saja diatur. Apalagi politik sebagai alat yang mengatur kekuasaan.

Tuanku Presiden, berhentilah membuat jarak antara agama dengan politik, karena itu semakin menyakitkanmu sendiri. Nanti saat pilpres kau akan angkat isu-isu simpatik beragama.

Pak Presiden, politik itu benda netral dan yang membuatnya menjadi berwarna adalah siapa yang mengendarakannya. Agama adalah moralitas tapi politik kekuasaan itu legalitas, salahkah orang beragama hanya ingin mempertemukan antara moralitas dengan legalitas?

Jika kau pisahkan agama dengan politik, maka bagaimana status partai-partai yang berlandaskan dan bercorak agama? mau engkau bubarkan?

Berhentilah menyakiti umat presidenku, karena kini engkau pimpin mereka semuanya. 

Pertanyaanku padamu tuanku, "Bisakah engkau pisahkan rasa manis dari gulanya? rasa dingin dari butiran saljunya? Jika engkau bisa pisahkan, maka baru bisa engkau pisahkan agama dari politik. 

*) Pegiat Sosial Politik

Red: Agus Yulianto

http://m.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/17/03/29/onk4ak396-suratku-untukmu-tuan-presiden

Label: ,

AMIEN RAIS RANGKUL WIRANTO, KUBU LUHUT PANJAITAN PANIK, SINYAL JELANG 19 APRIL JUTAAN UMAT BERGERAK!

Aksi 313 telah berjalan sesuai skenario. Amien Rais, Habib Rizieq, Prabowo Subianto dan SBY memberi siynal perlunya sinergi lintas elite bangsa, ulama dan tokoh penting di dalam struktur negara guna berikhtiar jelang Pilgub DKI.

Jika kondisi terdesak, Jusuf Kalla dan Wiranto diisukan berpeluang tampil mengambil alih kekuasaan Jokowi melalui pendekatan konstitusional. Bola panas itu bikin Istana makin cemas.

Apalagi kini umat Islam serta kelompok nasionalis kian gusar dan intensif melancarkan aksi protes. Bahkan menguatnya desakan cabut mandat dan seruan aksi menduduki Gedung DPR RI.

Situasi mirip dengan Presiden Gus Dur, yang akhirnya digulingkan lantaran getol mengobok-obok umat Islam serta berkonspirasi dengan kelompok liberalis.

Kelompok itulah yang kini makin buas dan dicurigai mengendalikan Jokowi untuk mengkriminalisasi ulama demi melindungi terdakwa penista agama dan melayani kerakusan konglomerat aseng.

Dulu pembisik Presiden Gus Dur adalah Marsilam Simanjuntak. Modus licik itu kini dilakoni Luhut Binsar Panjaitan. Misi utamanya: Membenturkan umat Islam dengan negara melalui berbagai fitnah, intimidasi dan kriminalisasi.

Kecurigaan itu sulit dihindari. Apalagi di internal kabinet Jokowi pun tercium mulai terjadi gesekan serius antar kubu Wiranto dan kelompok Luhut Panjaitan.

Wiranto dalam kapasitas selaku Menko Polhukum tampak dilecehkan dan tidak memiliki peran yang signifikan. Termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla seolah jadi jongos petugas partai.

Sementara Presiden Jokowi dituding dikendalikan oleh kelompok Luhut Panjaitan untuk melindungi terdakwa penista agama, memuluskan proyek reklamasi dan berkolusi dalam aneka kebijakan strategis lainnya.

Ulama, elite bangsa dan seluruh elemen rakyat tidak boleh tinggal diam. Gerakan perlawanan harus terus dipacu untuk menuntut keadilan. Dan jelang 19 April adalah puncak dari Aksi Bela Islam.

Sasaran dan tujuan sudah jelas: Desak Ahok dipenjarakan dan selamatkan ibu kota negara dari cengkraman konglomerat aseng. Bila aspirasi umat diabaikan, rezim Jokowi terancam dilengserkan!

Faizal Assegaf (Ketua Progres 98)

—1 April 201—

Label: ,