Jumat, 22 September 2017

UMAT ISLAM HARUS MEMILIKI KEKUATAN POLITIK YANG NYATA UNTUK MEMBANGUN DAN MEMPERTAHANKAN NEGARA RI

Ketua Umum PBB yang seorang cendekiawan Muslim, Yusril Ihza Mahendra, mengatakan bahwa Umat Islam Indonesia harus membangun kekuatan politik untuk membela bangsa dan negara dari setiap upaya infiltrasi untuk melemahkannya. Negara berdasar Pancasila, menurutnya adalah negara yang sejalan dengan ajaran2 Islam sehingga umat Islam harus berada di barisan terdepan dalam membela dan membangun bangsa. Hal itu dikatakan Yusril dalam acara Dialog 100 Tokoh Jawa Barat dengan Yusril Ihza Mahendra di Hotel Grand Asrilla, Bandung, Kamis petang 21 September 2017.

Dalam acara yang diadakan oleh Aliansi Pergerakan Islam Jawa Barat itu, hadir belasan Guru Besar berbagai perguruan tinggi, ulama, cendekiawan dan aktivis  pergerakan Islam. Dalam kesempatan itu, Yusril
juga menekankan pentingnyaUmat Islam mempunyai kekuasaan politik agar mampu mengarahkan perjalanan bangsa dan negara ke arah yang lebih baik di masa depan.

Jika umat Islam acuh tak acuh kepada politik Islam, bahkan mendukung kekuatan politik sekular apalagi berhaluan kiri atau liberal, maka cita2 para pendiri bangsa untuk membangun negara berdasarkan Pancasila akan makin jauh. Sekularisme dapat menenggelamkan Pancasila. Liberalisme akan menyebabkan tergadainya bangsa dan negara kepada kekuatan asing. Apalagi Komunisme. Faham Komunis akan membuat Pancasila hancur-lebur

Islam, menurut Yusril
mengajarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi nilai2 kemanusiaan dan persatuan,  mengedepankan asas kerakyatan dan mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan setiap urusan, dan bercita2 untuk menegakkan tatanan masyarakat yang berkeadilan sosial.

Jika umat Islam tidak memegang tampuk kekuasaan politik, maka Pancasila ditafsirkan sedemikian rupa untuk kemudian dibenturkan dengan ajaran2 Islam. Pengalaman sejarah tahun 1959-1965 menurutnya, membenarkan adanya pembenturan Islam dengan Pancasila itu.

Akibatnya pembenturan itu, maka yang menguat adalah Komunisme. Padahal sejatinya justru Komunislah yang bertentangan dengan Pancasila. Karena itu, Yusril mengingatkan generasi Islam agar kritis dalam memahami sejarah bangsa, khususnya terkait dengan ancaman kegiatan PKI dan Komunisme di masa yang lalu."Islam, menurut Yusril, tidak mungkin dapat dikompromikan dengan Komunisme".***

Label:

WARGA ANTI PKI 3 X DIBOHONGI POLISI

1. Sabtu 16 Sept 2017 Polisi pura-pura bubarkan Seminar Bela PKI agar warga Anti PKI di lokasi seminar membubarkan diri, tapi setelah warga bubar ternyata acara Seminar Bela PKI tetap digelar, bahkan dijaga dan dilindungi oleh Polisi.

2. Ahad 17 September 2017 saat warga kumpul kembali di lokasi Seminar Bela PKI, Polisi menyatakan bahwa tidak ada Seminar Bela PKI dan tidak ada apa pun terkait PKI. Padahal, di dalam sedang berlangsung aneka orasi utk Bela PKI, hingga paduan suara yang membawakan lagu PKI "Genjer-Genjer".

3. Senin 18 September 2017 jam 3 pagi Polisi meminta warga mundur menjaga jarak dengan barisan polisi agar tidak terprovokasi, lalu saat warga sudah mundur jaga jarak,  entah akibat provokasi dari mana, tiba-tiba Polisi menembaki warga dengan Gas Air Mata dan Peluru Karet, bahkan mengejar dan mementung serta menggilas mereka dengan motor Trail. Jadi ternyata warga disuruh mundur agar jadi sasaran empuk dan enak untuk dihajar Polisi.

Label: