Jumat, 24 Februari 2017

SAAT INI, HABIB RIZIEK BIN HUSEIN SYIHAB, BOLEH JADI REFERENSI

Dalam suasana pemegang KTP DKI sedang menimbang-nimbang, mau pilih “Ahok” atau “Anis”, maka, perlu mencari referensi. Kalau sudah bisa membaca ini, maka semakin jelas, kemana arah mang Engkoes membawa umat Islam dalam memilih gubernur.

Ada pepatah, “Tak tahu, maka tak kenal, Tak kenal maka tak sayang dan tak sayang maka tak cinta”. Saya bukan pemuja Habib Riziek, tetapi ketika membaca “coretan”, Gunawan Mohammad, entah benar tulisan Gunawan atau bukan intinya, “Mengecam Habib sebagai merongrong pemerintah dan seolah Habib membenci NKRI. Nah dibawah ini, saya kemukakan berita melalui WA pagi ini. Sekedar pembanding rasa ingin tahu kita. Lalu, mohon sebarkan ya, agar pengetahuan umat tentang Habib dan FPI, seimbang. Medsos dan Media Massa, hanya menjelek-jelekan Habib saja. Mari kita pelajari tentang beliau satu persatu.

Pertama, ayah beliau almarhum Habib Husein Syihab merupakan anggota Pandu Arab yang ikut berjuang mengusir penjajah Belanda di Indonesia. Bapak Husein Syihab ini, pernah bekerja di Rode Kruis (kini PMI) dan membantu suplai makanan dan obat-obatan untuk pejuang kemerdekaan. Pernah tangan Bapak Husein Syihab diikat dan diseret dengan kendaraan Jeep, dipenjara dan divonis hukuman mati oleh Belanda. Tapi, berkat bantuan Allah, berhasil kabur dari penjara dan melompat ke Kali Malang meskipun bagian pantatnya tertembak. Ternyata, sang ayah telah mewariskan darah juang untukmu berbhakti kepada Indonesia dengan membawa misi agama dan kemanusiaan. Jadi sungguh Naif, kalau ada orang menuduh Habib sebagai, tidak nasonalis atau anti NKRI, naudzubullah min dzaliq. Kejam amat yah.

Kedua, langkah FPI yang dinilai grasak-grusuk, tukang demo, padahal pasukan putih dan aparat setempat bersama FPI, telah banyak menutup tempat maksiat, perjudian, pelacuran dan narkoba. Bukankah Narkoba itu musuh utama Negara? Kok menuduh Habib seperti tak ada apa apanya sih? Semenara mang engkoes hanya baca berita saja, belum bisa berbuat seperti FPI, mengapa kalian diam saja, FPI berbuat.

Ketiga, Saya, mendengar kabar dari rekan rekan anggota tim penolong peristiwa Tsunami di Aceh, tidak banyak orang tahu,Habib dan dan pasukan putih FPI, adalah evakuator mayat terbanyak, lebih dari100 ribu jenazah, ketika terjadi Tsunami di Aceh, membangun kembali masjid dan musholah, dan menginap di kuburan selama berbulan-bulan lamanya. Saya menangis, bangga dan terharu mendengar kabar ini. Saya tak bisa berbuat apa, sementara FPI berjibaku di Aceh. Tak hanya di Aceh, Habib dan pasukan putih menjadi garda terdepan dalam membantu korban bencana alam, banjir, longsor dan gempa bumi dengan dasar kemanusiaan di hampir seluruh wilayah, jika ada berita musibah, FPI langsung kirim pasukan putihnya. Ya saya Cuma bisa lihat di TV saja. Tega amat yang menyuruh FPI Dibubarkan. Kamu sudah bisa apa.

Keempat, Habib dan FPI, bekerja sama dengan Kemensos RI secara nasional dalam Program Bedah Kampung. Ribuan rumah miskin di puluhan kampung Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi, Purwakarta, Pasuruan, Palu, dan Gresik, berhasil dibedah tanpa memandang apa agama mereka, apakah Habib benci persatuan? Benci perbedaan. Ah sungguh teganya teganya tegaanya orang yang memfitnah Habib.

Kelima, habib dan FPI pernah bekerja sama dengan Kemenag RI dalam Program Pengembalian Ahmadiyah kepada Islam. Ribuan pengikut Ahmadiyah taubat dan masuk Islam. Seperti di Tenjo Waringin Tasik, 800 warga Ahmadiyah kembali pada Islam. Ya Allah bukankah langkah Habib ini sungguh mulia.

Keenam, Habib dan FPI, pernah bekerja sama dengan almarhum Taufiq Kiemas Pimpinan MPR RI dalam pemantapan Empat Pilar RI. Tidak pernah menolak Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika selama ditafsirkan secara benar dan lurus. Maka itu Mantan Menteri Dalam Negeri Indonesia Gamawan Fauzi pernah mengimbau agar Kepala Daerah bisa menjalin kerja sama dengan ormas FPI. Sungguh tega sekali kalau oknum yang ingin membubaran FPI. Mikir dong. Jadi bener kata teman, Warung Padang itu paling demokratis, anda boleh mau pake OTAK atau tidak. Ahir-ahir ini, kurang yang memilih otak, semoga bukan “Rusak Utak”, pinjam kata Prof. Syefii.

Ketujuh Habib sering mengirim bantuan kepada saudara kita yang teraniaya di Palestina dan negeri lainnya, Sayang luput dari pemberitaan yah.

Kedelapan, Habib dan Sejumlah Pemda di berbagai Daerah bekerjasama dalam program kebersihan lingkungan, penyuluhan kesehatan, pemberantasan hama pertanian, penghijauan lahan gundul, dan sebagainya.

Kesembilan, Habb dan pasukan putih sedang melakukan upaya pencegahan banjir Jakarta dengan mereboisasi daerah hulu sungai yang mengarah ke DKI di Pesantren Agrikultural dareah kaki Gunung Pangrango, Megamendung Puncak. Dengan menanam sekitar 40 ribuan pohon dan target 300 ribu pohon tahun ini tertanam di sana. Sehingga dua tahun kedepan ada satu juta pohon untuk reboisasi hutan di mana daerah tersebut ada empat aliran sungai yang mengarah ke Jakarta. Bukankah ini berarti Hibib pernah kerjasama denga Jokowi dan Ahok.

Itulah data-data yang saya terima, saya beri judul “The Nine Golden Ways of Habib and FPI”, semoga dimuat oleh banyak Medsos, lalu disebar luaskan sehingga berubahlah pandangan mereka kepada FPI, yang bener-bener sangat benci sekali. Sungguh keji orang yang bertahan dengan kebenciannya kepada Habib dan FPI. Apa lagi yang punya niat atau coba usulkan Bubarkan FPI. Naudzubullah tsuma naudzulbillah.

Menurut mang Egkoes, biarlah, saudara dan temen-temen saya juga, mereka menilai Habib dan FPInya sebagai, radikal, garis keras, pasukan nasi bungkus, intoleran, teroris dan sebagainya. Biarlah, itu semua menjadi urusan mereka dengan Tuhannya. Seorang temen mang Engkoes ikut-ikutan minor kepada gerakan Habib ini, dinilainya sebagai, “bibit bibit tumbuhnya Radikalisme” dan sebagai “Pemegang Kunci Surga”. Sungguh keji mereka. Tak sedikit, sahabat mang engkoes, USA (Urang Sunda Asli), alumni ITB (pemikir kelas wahid, sebab, masuk ITB disebut putra-putri terbaik), Alumni -SMAN3 (SMA terbaik ujian nasioanalnya secara umum),- yang bersikap - “Minor terhadap Habib dan FPI-nya”, Naudzubillah Tsumma naudzubillah.

Mang Engkoes yakin bahwa Habib dan FPI adalah manusia biasa, yang jauh dari kata sempurna. Berbenahlah wahai sahabatku tercinta, dengan kritikan dan bijaklah menyikapi segala perbedaan. Lanjutkan berbuat yang terbaik untuk negeri ini, bergandeng bersama dalam bingkai “Bhineka Tunggal Ika.” MERDEKA.

Semoga Allah selalu meridhoi setiap langkah baik Habib, FPI dan seluruh Umat Islam pencinta NKRI ini, serta melindungi, menjaga kesehatan dan menjauhkannya dari fitnah dan marabahayanya. AAMIIN. Terima kasih yang mau menyebarkan ini. Lalu, apa hubungannya dengan pemilihan gubernur, nah, kalau memahami tulisan ini, maka jelas, kemana arahnya. Pilih tentunya, gubernur yang menyayangi Habib Rijieq Shihab.

Dari Prof.Dr.Ir.H. Koesmawan, M.Sc.MBA,DBA
Guru Besar Bidang Manajemen STIE Ahmad Dahlan Jakarta.

Label: , ,

Ahok-Djarot Dilaporkan Ke Polisi Soal Wifi Al-Maidah

Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama dan wakilnya, Djarot Saiful Hidayat, dalam video yang dilaporkan ke polisi karena diduga menistakan agama. (youtube.com)

TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan wakilnya, Djarot Saiful Hidayat dilaporkan ke Badan Reserse Kriminal, Mabes Polri di Jakarta, Kamis, 23 Februari 2017. Laporan kali ini menuding Ahok-Djarot melakukan penodaan agama karena mengusulkan wifi gratis bernama Al-Maidah.

Pelapornya adalah Damai Hari Lubis, seorang pengacara. Dalam berkas bernomor LP/208/II/2017/Bareskrim itu, dia melaporkan Ahok dan Djarot dengan sangkaan penodaan terhadap ayat suci Al Qur'an Al-Maidah ayat 51 dan pelanggaran terhadap pasal 421 KUHP juncto Pasal 55 KUHP tentang penyalahgunaan kekuasaan.

Lubis mengatakan dia melaporkan Ahok berdasarkan rekaman video yang menampilkan Ahok dalam sebuah rapat, mengusulkan jaringan wifi gratis diberi nama Al-Maidah. Sedangkan Djarot terseret karena dalam video itu hanya tertawa.

Lubis menyayangkan karena dalam video itu, Ahok kembali memperolok Surat Al-Maidah. "Kami membawa alat bukti video Youtube," kata Lubis saat dihubungi Tempo. Dia menduga video itu direkam saat Ahok-Djarot rapat di Balaikota. Lubis meminta polisi memproses laporannya ini.

Saat ini, Ahok sedang menjalani sidang sebagai terdakwa kasus dugaan penodaan agama karena pernyataannya tentang Surat Al Maidah di Kepualauan Seribu.

https://www.tempo.co/read/news/2017/02/23/063849686/Ahok-Djarot-Dilaporkan-ke-Polisi-Soal-Wifi-Al-Maidah

Label: ,

ISLAM TAK BISA DIPISAHKAN DENGAN POLITIK

Jangan pikirkan politik!
Biarkan sekularisme dan liberalisme melanggeng bebas di sistem kurikulum kita yang sudah sangat minim porsi ilmu agama kita sendiri. Biarkan generasi kita tumbuh da maju tanpa ilmu agama yg baik.

Jangan masuk politik!
biarkan para kaum liberal dan sekuler menguasai parlemen untuk menghapus UU penodaan agama dan menggantinya dengan kebebasan membuat aliran baru di negeri ini. Agar gerakan seperti GAFATAR, Syi'ah dan Ahmadiyah bisa leluasa dalam mengekspresikan kepercayaan mereka.

Jangan masuk politik!
biarkan para LGBT bebas mengkondisikan para pejabat di parlemen demi melegalkan diri mereka di negeri ini.
Agar mereka bebas mempropagandakan gerakan mereka.

Jangan pusing mikirin politik!
biarkan UU Anti Pornografi-Pornoaksi itu dibuang dari konstitusi negeri ini oleh PDI Perjuangan dan para anteknya.

Jangan mau masuk politik!
biarkan para kapitalis asing mengkondisikan parlemen kita demi memuluskan korporasi-korporasi mereka menguasai ekonomi negeri ini.

Jangan pusing-pusing lah mikirin politik!
biarkan para sekuler asing merubah negeri ini seperti Turki yang diubah Kemal Attaturk menjadi sebuah negara yang Adzan pun tak boleh pake bahasa arab.

Jangan bicara politik yang gak penting itu!
biar kaum komunis yang menghabiskan waktu mereka membahas strategi politik demi menguasai parlemen dan menjadikan negeri ini sesuai konsep kenegaraan komunis.

Jangan urusi politik nan busuk ini!
biarkanlah para pemilik modal bebas menguasai sumber daya alam negeri ini. Biarkan TV-TV mereka bebas menayangkan tayangan-tayangan perusak moral untuk generasi bangsa ini. Tidak usahlah ada oknum yang bawa bawa agama Islam masuk ke dunia politik untuk mengkondisikan Komisi Penyiaran Indonesia tetap pada koridor budaya timur nan Islami ini.

Janganlah sesekali masuk politik nan pragmatis ini!
biarkan perda-perda diubah dan disesuaikan dengan keinginan para musuh Islam. Agar orang bebas berjualan makanan di siang hari bulan Ramadhan misalnya.

Jangan masuk politik untuk mengotori dirimu!
biarkan kolonialisme gaya baru negeri seberang melenggang bebas mengkondisikan UU negeri ini demi menguasai dan mengeksploitasi seluruh kekayaan bangsa yang tak terhingga ini.

Jangan masuk politik!
biarkan aparat-aparat negara diisi oleh musuh-musuh Islam sehingga tak perlu kita ribut menindak para penista agama kita yang mulia ini.

Jangan masuk dan ambil bagian di pesta demokrasi segala lah!
Karena tidak perlu kita sok pahlawan seperti *Erdogan yang membangkitkan ummat muslim dunia.* Yang mampu mengubah Republik Turki sekuler menjadi Turki yang mulai nampak kembali keIslamannya.

Benarkah?
Jangankah?
Jauhikah?
Apa betul?
Politik itu kebusukan yang harus kita hindari?

Jika betul, untuk apa para ulama mondar mandir melaksanakan konsolidasi di Jakarta demi mempersatukan suara ummat Islam menuju pilkada DKI ?
Apa mungkin, sekelas Ustadz Bachtiar Natsir, Habib Rizieq Shihab, Aa Gym, Abu, Jibril, Didin Hafizuddin, Ustadz Zaitun, Tengku Zulkarnaen, Ustadz Yusuf Mansur, dan para ulama lainnya mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran mereka untuk hal yang tidak penting tadi?

Kalo politik gak penting, untuk apa HAMAS berjuang mati matian di parlemen palestina demi kemerdekaan palestina?

Kalo politik gak penting kenapa Raja Salman sang penjaga 2 tempat mulia dan suci (Mekkah dan Madinah ) melakukan konsolidasi pembentukan koalisi militer negara negara muslim dengan Psiden Turki?

Kasus ahok menista Alquran baru kita marah dan sadar
padahal salah satu penyebab ahok bisa berada di Balaikota DKI beberapa tahun silam merupakan hasil kebodohan dan ketidak pedulian ummat terhadap politik itu sendiri.

Renungkan saudaraku seiman.
Dalam kaidah ushul fiqh ada istilah ;

" maa laa yudroku kulluh laa yutroku kulluh "
مالا يدرك كله لا يترك كله
(Jika tidak memperoleh semuanya, jangan tinggalkan semuanya)

*Yang busuk itu sistemnya, bukan politiknya. Masuk, rapihkan dan bersihkan sistemnya. Bukan malah kau tinggalkan.*

Salam Persatuan Umat Islam Bangsa Indonesia.

Label: