Rabu, 19 Oktober 2016

Tiga orang polisi Lalu Lintas Tangerang Diserang.


Sebuah pos polisi lalu lintas yang di kawasan Pendidikan Cikokol, Kota Tangerang pada Kamis 20 Oktober 2016 sekitar pukul 07.00 WIB diserang.

Pelaku tewas ditempat setelah ditembak petugas.

Sedangkan seorang Kapolsek Tangerang Kompol Efendi memgalami luka parah setelah menjadi korban penusukan.

Selain Kapolsek, dua orang anggota polisi lain juga menjadi korban.

"Kapolsek tegur orang itu karena memasang stiker bertuliskan tulisan arab, tiba-tiba orang yang ditegur itu mengeluarkan senjata tajam dan membabi buta menusuk anggota polisi yang ada di sana, termasuk Kapolsek Tangerang," ujar Rendi seorang saksi di lokasi kejadian.

Kini Kompol Efendi dibawa ke RSUD Kota Tangerang.  Namun, karena lukanya serius dia dibawa ke Siloam Hospitals.

Label: ,

KETIKA AHOKERS KALAP

By : Zeng Wei Jian

Sun Tzu bilang, "Ada lima faktor fundamental untuk menang perang...dan moral influence adalah faktor terpenting."

Ahokers hanya paham sedikit soal "faktor moral" ini, lantas membabi-buta.

Pasca penistaan Surat Al-Maidah 51, semakin jelas bahwa Ahok keropos. Aksi demonstratif prohok hanya dihadiri 25 orang. Bukan tandingan aksi "sejuta umat" tangkap Ahok.

Ahokers memperdaya Wagub Djarot dalam aksi manipulasi sepetak taman. Tetap gagal naikan elektabilitas Ahok. Publik semakin jijik. Djarot kena getah. Dibully abis-abisan.

Nyata, Ahok tidak didukung banyak pihak. Cuma Nusron Wahid, Nyonya Daimah, Mustofa Bisri dan Gus Coy. Semua ustad, kyai, alim-ulama dan tak terhitung laskar meminta polisi menangkap Ahok. Dunia internasional juga mengecam penistaan agama yang dilakukan Ahok.

Ini perang asimetri (tak berimbang). Ahok ngga punya chance menang.

Jakarta terdiri dari 85% muslim. Indonesia secara keseluruhan berkomposisi 95% muslim. Fakta ini hendak ditiadakan oleh Ahokers.

Setelah gagal memanipulasi taman, Ahoker mencoba memainkan isue disintegratif.

Tujuannya menaikan kepercayaan diri, militansi dan moral prohok dari golongan minoritas: cina rasis & kristen fundamentalis.

Sekali lagi, in war, faktor moral pegang peranan penting. Itu diajarkan semua ahli perang seperti Goebbels dan Carl von Clausewitz. Karena itu, citra Ahok hebat perlu selalu dijaga. Agar moral prohok tidak rusak. Sehingga mereka bisa lebih bringas, sekaligus ngga tau malu.

Prohok katak dalam tempurung ini coba diyakinkan bahwa Ahok masih kuat.

Isue disintegratif itu adalah menyebar hoax dukungan Gubernur Papua, Panglima Perang Dayak dan Laskar NTT. Selain, tentu saja, memfitnah MUI.

Namanya kebusukan, sooner or later, pasti tercium. Dalam kasus Ahokers, kebusukan itu cepat sekali terbongkar.

Sehari sesudah mereka menggoreng isue, Gubernur Papua merilis penyangkalan. Dia menyatakan tidak pernah ngomong akan memerdekakan Papua demi Ahok. Malahan dia bilang Ahokers itu sekumpulan provokator.

Panglima Perang Suku Dayak juga menyangkal hoax dukungan kepada Ahok. Dia datang ke Sulawesi sebagai duta budaya. Tidak urus politik, apalagi urusan politik Ahok di Jakarta.

Terakhir, foto yang diklaim sebagai pemuda NTT yang katanya siyap memerangi FPI ternyata foto kuno gerilyawan Fretelin. Sampai di sini, Oh My God, keterlaluan sekali Ahokers ini.

Ngga sadar, mereka memprovokasi umat Islam dan menyulut peperangan yang tidak mungkin dimenangkan golongan minoritas pro Ahok.

THE END

http://www.habibrizieq.com/2016/10/gerombolan-ahok-kalap.html

Label: ,

Ahok Kabur Didatangi Habiburokhman dan Habib Novel

Ada yang menarik usai sidang uji materi terkait keharusan cuti petahana saat kampanye yang digelar Mahkamah Konstitusi (MK), Rabu (19/10/2016). Usai sidang, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sempat diburu oleh Pembina Advokat Cinta Tanah Air (ACTA), Habiburokhman. Namun yang Ahok diketahui kabur dan menghilang dengan cepat.

Berdasarkan pantauan di lapangan, Rabu (19/10/2016), sidang berlangsung sekitar satu jam. Setelah selesai sidang dengan agenda mendengarkan keterangan ahli, Ahok keluar dari ruang persidangan.

Awak media telah menunggu di depan pintu untuk melakukan sesi wawancara juga sempat terkecoh karena Ahok meminta izin ke toilet.

Tak lama berselang, Habiburokhman beserta Wakil Ketua ACTA Novel Bakmumin, dan anggota ACTA lainnya, menunggu Ahok di dekat kamar kecil.

Begitu Ahok keluar, dia tergesa-gesa untuk kemudian beranjak dari gedung MK. Habiburokhman dan Novel yang melihatnya mengarah keluar gedung, mengejar sambil berteriak.

“Ahok mana Ahok, tunggu Ahok,” kata Habiburokhman berteriak seraya menuruni tangga di depan Gedung MK, Jakarta Pusat, seperti dikutip dari Merdeka.com.

Habiburokhman juga sempat meneriaki staf Ahok, Ryan Ernest. Ryan Ernest sendiri sempat berteriak tangkap Novel pada sidang lanjutan uji materi Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), Kamis (6/10/2016) lalu.

“Ryan mana Ryan? Kemarin teriak tangkap-tangkap,” teriak Habiburokhman.

Habiburokhman dan Habib Novel gagal menghampiri atau mendekati Ahok dan Ryan Ernest yang sudah lebih dulu meninggalkan area MK. Saat dikonfirmasi, Habiburokhman menjelaskan, maksud dia mengejar Ahok ingin mengajak dialog.

Terutama dialog mengenai Surat Al Maidah ayat 51. Surat tersebut pernah disinggung Ahok saat berkunjung ke Kepulauan Seribu 27 September lalu. Pernyataan Ahok itu, sempat menuai perdebatan pelbagai kalangan, karena diduga, Ahok menistakan agama. 

Label: ,

Kapolda Sumsel Menyamar Menjadi warga sipil, Di Tilang anak buah Minta Uang damai

Kapolda Sumsel Irjen Pol Djoko Prastowo turun langsung ke lapangan dan menyamar menjadi warga sipil.Orang nomor satu di Polda Sumsel ini sengaja melanggar dan disetop anggota Polantas.
Ia diberhentikan dan dibawa ke suatu tempat untuk diproses.
Informasi dihimpun, penyamaran tersebut dilakukannya beberapa waktu lalu di wilayah Sumsel. Djoko sengaja mengendarai mobil seorang diri tanpa pengawalan.Melihat ada anggota yang bertugas, Djoko melanggar lalu lintas. Alhasil, mobil Djoko dihentikan dan dirinya dibawa ke pos polisi.
Di dalam pos tersebut, polisi nomor satu di wilayah hukum Sumsel itu diminta uang damai oleh anggota atas pelanggarannya. Meski Djoko beberapa kali menolak dan meminta tindak langsung (tilang), polisi tersebut tetap keukeuh dengan jalur damai.
Setelah terdesak, Djoko pun mengeluarkan uang yang diminta. Setelah uang damai itu diberikan, dia baru mengaku sebagai Kapolda Sumsel dan menangkap pelaku. Tak lama, Kabid Propam Polda Sumsel Kombes Pol Hendro datang ke lokasi untuk mengamankan pelaku atas perintah Djoko.
“Ya, memang begitu salah satu caranya (menyamar). Anggota itu tetap memaksa minta duit damai, padahal waktu itu saya pura-pura ditilang saja. Dia (polisi pungli) saya tanya mana surat tugas, malah tidak bisa menunjukkan,” ungkap Djoko, Selasa (18/10/2016).
Djoko menyesalkan anggotanya masih melakukan pungli. Dirinya pun tak segan menindak tegas petugas kepolisian yang melanggar disiplin dan kode etik.
“Genderang pungli ini sudah ditabuh Presiden, Kapolri juga sudah. Kita juga tabuh tapi tidak bikin kaget orang. Tapi Saya tak mau tinggal diam urusi pungli, pasti saya tindak,” tegasnya.

Menurut Kapolda setidaknya, sudah ada 10 anggota yang ditindak karena kedapatan melakukan pungli dan salah satunya anggota yang ditangkapnya langsung di daerah.

“Ada anggota OI, Prabumulih, Polresta Palembang, OKU Timur dan beberapa daerah lain. Mereka akan diperiksa dan dikenakan sanksi sesuai denganberat ringannya pelanggaran yang dilakukan. Tidak semua anggota yang selalu pungli, banyak juga anggota yang baik,” jelas Djoko.

Djoko Prastowo menyatakan jika presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian sudah menabuh genderang perang pungli, pastinya Polda Sumsel menjalankan yang sudah menjadi perintah.
Akan tetapi, pemberantas pungli yang akan dilakukan Polda Sumsel tidak bikin kaget. Pihaknya terus melakukan bersih-bersih di dalam tubuh Polda Sumsel.
“Kamis nanti, akan dilaksanakan deklarasi dengan unsur pelayanan publik yang ada di Sumsel guna membangun birokrasi yang sehat. Kita harus berubah dan era memang sudah berubah. Bukan berarti selama ini salah, tetapi biar kedepan lebih baik lagi,” ujar Djoko usai acara penerimaan jabatan Dir Reskrimum di Mapolda Sumsel, Selasa (18/10/2016).
Sehingga, dengan tidak mencari kesalahan instansi lain semua pelayanan publik terhadap masyarakat dapat terlayani dengan baik tanpa ada embel-embel pungli.Begitu pula dengan anggotanya yang dilapangan, untuk terus memberikan pelayanan prima kepada masyarakat tanpa harus ada embel-embel.

Label: