syaikh ahmad yassin
Qaradhawi termasuk orang yang ditokohkan di Al Ikhwan, hingga kini. Dia berkali-kali masuk penjara, karena aktivitasnya di Al Ikhwan. Pertama kali masuk tahanan pada 1948. Enam tahun kemudian, ia ditangkap tiga kali. Tarakhir pada 1963, ia ditahan selama 20 bulan, sebelum akhirnya memilih tinggal di Qatar.
Bagi umat Islam, Qaradhawi juga dihormati, karena beliau merupakan ketua Persatuan Ulama Muslim Internasional, dan anggota Majma’ Al Buhuts Al Islamiyah (Lembaga Riset Islam) Al Azhar dan Majma’ Fiqh Al Islami, sebuah badan yang menghimpun para pakar fiqih di seluruh dunia yang berkedudukan di Makkah.
Al Muhhadits Abdul Fattah Abu Ghuddah
Dia ulama Hadits dari Syiria, memiliki 179 guru periwayatan dan ijazah. Waktu belajar di Universitas Al Azhar Kairo, dia sering menghadiri ceramah Hasan Al Banna. Setelah pulang ke Syiria (1962), dia terpilih menjadi anggota parlemen. Dalam parlemen dia istiqamah menyeru kepada penerapan syariat. Pada 1966, dia ditahan selama 11 bulan, oleh pemerintah diktator Syiria.
Ulama yang karyanya mencapai lebih dari 70 judul ini, pada tahun 90-an ditunjuk sebagai pengawas Al Ikhwan di Syiria.
Ulama yang juga pernah mengajar di Arab Saudi selama lebih dari sepuluh tahun ini wafat pada 1996, dan dimakamkan di Baqi`.
Syaikh Sayyid Sabiq
Dia penulis kitab Fiqh As Sunnah. Kenal dengan Hasan Al Banna sejak tahun 30-an, kemudian bergabung dengan Al Ikhwan dan menjadi penulis tetap di majalah Al Ikhwan. Dia khusus menulis masalah-masalah fiqih.
Disamping sebagai seorang alim, Sabiq juga seorang mujahid. Dia ikut serta dalam perang Palestina pada 1948. Ketika ada yang heran dengan hal itu, dia menyatakan, ”Beginilah para salaf, satu tangan mereka memegang mushaf al-Qur`an sedangkan tangan lainnya memegang senjata untuk membela kemuliaan Islam.”
Dia juga beberapa kali mencicipi pengapnya penjara Mesir. Dalam salah satu kasus dia pernah dituntut hukuman 24 tahun, namun akhirnya pengadilan membebaskannya.
Beliau wafat pada tahun 2000 lalu, pada usia 85 tahun.
Syaikh Ahmad Yasin
Waktu muda, Yasin telah mendengar dakwah Al Ikhwan dan membaca risalah-risalah Hasan Al Banna. Pemikiran pendiri Al Ikhwan itu membekas pada dirinya. Lebih-lebih di saat dia meneruskan belajar di Universitas Al Azhar, hubungan dengan jamaah ini semakin dekat, hingga secara secara resmi bergabung.
Yasin lalu kembali ke Gaza untuk menghidupkan kembali semangat jihad para pemuda, yang telah redup akibat tersebarnya ‘virus’ sekuler.
Pada 1982, guru Al Ikhwan Palestina ini akhirnya membentuk gerakan rahasia. Sebab itulah dia ditangkap Zionis dan dipenjara selama 13 tahun. Namun pada 1985, dalam rangka pertukaran tawanan dengan pihak Palestina, dia bebas. Hukuman itu tidak membuat dia lemah, pada 1988 dia terang-terangan mengumumkan berdirinya gerakan baru, yakni Hamas.
Pada 1989, dia kembali ditangkap. Dua tahun kemudian pihak Zionis menjatuhkan vonis penjara seumur hidup ditambah 15 tahun! Namun, Allah berkehendak lain. Pada 1997, dia bebas karena pertukaran tawanan.
Pihak Zionis tidak puas dengan kekalahan itu. Mereka merancang strategi licik untuk membunuh Yasin. Namun, upaya itu gagal. Dan dia tetap menjadi ruh Hamas, gerakan yang paling ditakuti Zionis Israel.
Pada 2004, Allah menghendaki Yasin memperoleh kesyahidan. Dia diroket melalui helikopter Apache, saat duduk di atas kursi roda, usai melaksanan shalat Subuh.
Bagi umat Islam, Qaradhawi juga dihormati, karena beliau merupakan ketua Persatuan Ulama Muslim Internasional, dan anggota Majma’ Al Buhuts Al Islamiyah (Lembaga Riset Islam) Al Azhar dan Majma’ Fiqh Al Islami, sebuah badan yang menghimpun para pakar fiqih di seluruh dunia yang berkedudukan di Makkah.
Al Muhhadits Abdul Fattah Abu Ghuddah
Dia ulama Hadits dari Syiria, memiliki 179 guru periwayatan dan ijazah. Waktu belajar di Universitas Al Azhar Kairo, dia sering menghadiri ceramah Hasan Al Banna. Setelah pulang ke Syiria (1962), dia terpilih menjadi anggota parlemen. Dalam parlemen dia istiqamah menyeru kepada penerapan syariat. Pada 1966, dia ditahan selama 11 bulan, oleh pemerintah diktator Syiria.
Ulama yang karyanya mencapai lebih dari 70 judul ini, pada tahun 90-an ditunjuk sebagai pengawas Al Ikhwan di Syiria.
Ulama yang juga pernah mengajar di Arab Saudi selama lebih dari sepuluh tahun ini wafat pada 1996, dan dimakamkan di Baqi`.
Syaikh Sayyid Sabiq
Dia penulis kitab Fiqh As Sunnah. Kenal dengan Hasan Al Banna sejak tahun 30-an, kemudian bergabung dengan Al Ikhwan dan menjadi penulis tetap di majalah Al Ikhwan. Dia khusus menulis masalah-masalah fiqih.
Disamping sebagai seorang alim, Sabiq juga seorang mujahid. Dia ikut serta dalam perang Palestina pada 1948. Ketika ada yang heran dengan hal itu, dia menyatakan, ”Beginilah para salaf, satu tangan mereka memegang mushaf al-Qur`an sedangkan tangan lainnya memegang senjata untuk membela kemuliaan Islam.”
Dia juga beberapa kali mencicipi pengapnya penjara Mesir. Dalam salah satu kasus dia pernah dituntut hukuman 24 tahun, namun akhirnya pengadilan membebaskannya.
Beliau wafat pada tahun 2000 lalu, pada usia 85 tahun.
Syaikh Ahmad Yasin
Waktu muda, Yasin telah mendengar dakwah Al Ikhwan dan membaca risalah-risalah Hasan Al Banna. Pemikiran pendiri Al Ikhwan itu membekas pada dirinya. Lebih-lebih di saat dia meneruskan belajar di Universitas Al Azhar, hubungan dengan jamaah ini semakin dekat, hingga secara secara resmi bergabung.
Yasin lalu kembali ke Gaza untuk menghidupkan kembali semangat jihad para pemuda, yang telah redup akibat tersebarnya ‘virus’ sekuler.
Pada 1982, guru Al Ikhwan Palestina ini akhirnya membentuk gerakan rahasia. Sebab itulah dia ditangkap Zionis dan dipenjara selama 13 tahun. Namun pada 1985, dalam rangka pertukaran tawanan dengan pihak Palestina, dia bebas. Hukuman itu tidak membuat dia lemah, pada 1988 dia terang-terangan mengumumkan berdirinya gerakan baru, yakni Hamas.
Pada 1989, dia kembali ditangkap. Dua tahun kemudian pihak Zionis menjatuhkan vonis penjara seumur hidup ditambah 15 tahun! Namun, Allah berkehendak lain. Pada 1997, dia bebas karena pertukaran tawanan.
Pihak Zionis tidak puas dengan kekalahan itu. Mereka merancang strategi licik untuk membunuh Yasin. Namun, upaya itu gagal. Dan dia tetap menjadi ruh Hamas, gerakan yang paling ditakuti Zionis Israel.
Pada 2004, Allah menghendaki Yasin memperoleh kesyahidan. Dia diroket melalui helikopter Apache, saat duduk di atas kursi roda, usai melaksanan shalat Subuh.

Label: Ulama
