Kata-kata Pilihan dari Sayyid Quthb Masalah Wala’ dan Bara’
Asy-Syahid (insya Allah) Sayyid Quthb –rahimahullah- didalam tafsir Fie Zhilaalil Qur’an berkata :
"Sesungguhnya
tidak akan pernah berkumpul dalam hati seseorang, keimanan yang
sebenarnya kepada Allah dengan perwalian kepada musuh-musuh-Nya yang
diajak kepada Kitabullah untuk memutuskan perkara di antara mereka,
namun mereka berbalik dan berpaling, maka dari itu datang peringatan
keras ini. Ini adalah ketetapan pasti yang menyatakan keluarnya seorang
muslim dari keislamannya, jika dia berwali kepada orang yang tidak ridha
Kitabullah memerintah dalam kehidupan, sama saja apakah perwalian
tersebut berbentuk kecintaan hati, atau menolongnya atau minta
pertolongan kepadanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala :
"Janganlah
orang-orang mu’min menjadikan orang-orang kafir sebagai wali dengan
meninggalkan orang-orang mu’min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya
dia telah berlepas diri dari Allah dalam hal apapun, kecuali jika kalian
berpura-pura (dengan lisan bukan dengan niat dan hati) kepada mereka.
Dan Allah memperingatkan kalian terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya
kepada Allah-lah (segala urusan) kembali." (Qs Ali ‘Imran : 28)
Demikianlah,
dia sudah berlepas diri dari Allah dalam hal apapun, baik dalam
hubungan ataupun nisbat ataupun agama ataupun akidah, ataupun ikatan
ataupun perwalian; maka dia jauh dari Allah, terputus hubungannya dengan
Allah secara total.
Langkah
pertama di atas jalan dakwah adalah berbedanya seorang da’i (dari
orang-orang jahiliyah) dan perasaan asingnya secara total dari
jahiliyah, paradigma, cara hidup dan perbuatannya. Keterasingan yang
tidak mentolelir pertemuan di tengah jalan, dan pemisahan yang mustahil
bisa bekerjasama dengannya, kecuali jika penganut jahiliyah telah
berpindah dari kejahiliyahan mereka secara total kepada Islam.
Tak
ada kompromi ataupun win-win solution (solusi jalan tengah), ataupun
pertemuan di tengah jalan, meskipun jahiliyah memakai baju Islam atau
mengaku-aku Islam.
Keterasingan
dari jahiliyah dalam perasaan seorang da’i ini merupakan batu pondasi
pertama, perasaannya bahwa dia beda dengan mereka, mereka punya agama
dan dia punya agama, mereka punya jalan dan diapun punya jalan, dia tak
tahan berjalan bersama mereka selangkahpun di jalan mereka. Tugasnya
adalah membuat mereka berjalan di atas jalannya, tanpa menjilat atau
meninggalkan prinsip-prinsip agamanya, baik sedikit ataupun banyak. Jika
mereka menolak, maka pilihannya adalah berlepas diri secara total,
pisah secara total dan keputusan pasti lagi jelas. (لكم دينكم و لي دين )
Sesungguhnya
seorang muslim dituntut untuk berlaku toleran terhadap golongan Ahli
Kitab, akan tetapi dia dilarang berwala’ (berloyalitas) kepada mereka,
dalam artian saling menolong dengan mereka dan beraliansi dengan
mereka. Keluguan macam apa dan kelalaian macam apa, kalau sampai kita
mengira bahwa kita dan mereka memiliki satu jalan untuk kita tempuh
dalam rangka mengokohkan agama melawan orang-orang kafir dan orang-orang
atheis apabila mereka berperang bersama orang-orang Islam..!
Tak
ada disana front agama yang mana Islam berjuang bersama mereka melawan
atheisme. Di sana ada agama, yakni agama Islam; dan di sana non agama,
yakni selain Islam. Kemudian non agama ini, pokok akidahnya adalah
samawi (datang dari langit) akan tetapi ia telah diselewengkan, atau
akidah aslinya adalah paganis dan tetap berada di atas paganismenya,
atau atheisme yang menolak agama-agama, berbeda satu dengan yang
lainnya. Akan tetapi semuanya berbeda dengan Islam, ada aliansi
persekutuan antara mereka dengan Islam dan tidak ada pula hubungan
wala’..!
Sesungguhnya
Islam telah memberi beban kepada seorang muslim supaya dia melakukan
hubungannya dengan semua manusia di atas prinsip akidah. Jadi wala’ dan
bara’ itu tidak ada, baik dalam ide pemikiran seorang muslim maupun
dalam aktifitas geraknya, melainkan dalam urusan akidah. Maka dari itu,
tak mungkin wala’ itu tadi, yaitu tolong menolong antara orang muslim
dengan orang non muslim, bisa tegak; sebab kedua kelompok manusia ini
tak mungkin saling tolong menolong dalam urusan Akidah. Tak kan mungkin
walau menghadapi atheisme sekalipun --sebagaimana yang dipersepsikan
oleh sebagian orang awam di antara kita dan sebagian orang yang tidak
membaca Al Qur’an --. Bagaimana mereka bisa saling tolong-menolong,
sementara tak ada prinsip bersama di antara mereka untuk dijadikan
landasan bagi mereka untuk saling tolong menolong?!
Jadi
mereka yang mengusung bendera ideologi ini, maka bisa dikata mereka
belum mengimaninya sama sekali, tak ada sesuatu dalam diri mereka, dan
mereka belum mewujudkan sesuatu di dunia nyata, selama belum terlaksana
di dalam hati mereka, pemisahan total antara mereka dengan
kelompok-kelompok manusia yang tidak mengusung bendera mereka..!
Al
Qur’an turun untuk menyebarkan janji yang menyertai seorang muslim
dalam setiap pertempuran yang mereka terjuni dengan akidahnya, dan untuk
mengukuhkan pemisahan total antara dia dengan setiap orang yang tidak
bergabung kepada jama’ah Islam dan tidak berdiri di bawah benderanya.
Pemisahan yang tidak melarang sikap toleran dan santun, sebab ini adalah
sifat seorang muslim sepanjang waktu; akan tetapi ia melarang wala’
yang tidak boleh ada pada hati seorang muslim kecuali kepada Allah,
Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Kesadaran dan pemisahan yang harus
diwujudkan oleh seorang muslim di setiap bumi dan di setiap generasi.
Ini
adalah persimpangan jalan, perasaan seorang muslim tidak akan larut
dalam pemisahan total antara dia dengan setiap orang yang menempuh jalan
selain jalan Islam, dan antara dia dengan setiap orang yang tidak
mengusung bendera Islam, kemudian dia punya kemampuan setelah itu
melakukan amal yang amat berharga dalam Harakah Islam yang besar, yang
tujuan pertamanya adalah menegakkan tatanan riil di dunia nyata. Tatanan
yang berbeda dengan semua tatanan-tatanan yang ada.
Kemudian
anak manusia terbelah menjadi dua golongan: Golongan Allah dan golongan
syetan, dan menjadi dua bendera: bendera kebenaran dan bendera
kebatilan. Boleh jadi seseorang termasuk golongan Allah, dan dia berdiri
di bawah bendera kebenaran; dan boleh jadi dia termasuk golongan
syetan, dan dia berdiri di bawah kebatilan. Kedua golongan ini berbeda,
tak ada hubungan nasab atau perkawinan, atau keluarga atau kerabat, atau
negeri atau ras atau fanatisme atau kebangsaan, sesungguhnya hubungan
tersebut adalah akidah, akidah saja!
Allah
‘Azza wa Jalla melarang seorang mu’min menjadikan manusia yang jati
diri/identitas serta manhaj mereka berlainan dengannya sebagai tempat
menaruh kepercayaan dan tempat meminta pertimbangan. Berkali-kali
pengalaman telah memberikan tamparan pahit pada kita, akan tetapi belum
sadar-sadar juga. Berkali-kali kita membongkar tipu daya dan
persekongkolan jahat mereka yang menggunakan berbagai macam baju, akan
tetapi kita tidak juga mau mengambil pelajaran. Berkali-kali mulut
mereka melontarkan kata-kata berbisa menampakkan kedengkian mereka.
Kendati demikian, kita masih saja kembali membuka dada kita untuk
menerima mereka, serta menjadikan sebagian mereka sebagai kawan hidup
dan kawan jalan.
Sikap
hormat kita dan kekalahan mental kita telah sampai pada tingkatan di
mana kita menghormati mereka dalam akidah kita, sehingga kita menjauhkan
diri dari menyampaikan akidah kita. Dan menghormati mereka dalam
kehidupan kita, sehingga kita tidak mau menegakkannya di atas
prinsip-prinsip Islam. Dan menghormati mereka atas tindakan mereka
memalsukan sejarah dan menghapuskan rambu-rambunya, supaya kita
berhati-hati di dalamnya, untuk tidak menyinggung konflik permusuhan
apapun yang pernah terjadi antara para pendahulu kita dengan
musuh-musuhnya yang senantiasa menunggu-nunggu kelengahan..!
Oleh
karena itu, pantaslah kita menerima sanksi hukuman yang ditimpakan
Allah atas orang-orang yang menentang perintah-Nya, makanya tidaklah
aneh jika kita terhina, lemah, dan tunduk (kepada musuh). Maka dari itu
kita mengalami kesusahan yang memang disukai oleh musuh-musuh kita
terhadap kita. Inilah dia Kitabullah, ia mengajari kita sebagaimana ia
telah mengajari jama’ah Islam yang pertama, supaya kita mengenyahkan
tipu daya mereka dan menolak gangguan mereka, dan selamat dari kejahatan
yang mereka sembunyikan di dalam dada mereka:
"Hai
orang-orang beriman, jangalah kalian menjadikan orang-orang di luar
kalangan kalian menjadi teman kepercayaan kalian (karena) mereka tiada
henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagi kalian. Mereka suka apa
yang menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan
apa yang disembunyikam oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh Allah
telah menerangkan kepada kalian ayat-ayat Kami, jika kalian
memahaminya." (Qs Al ‘Imran : 118)
Sesungguhnya tidak ada keselamatan bagi kelompok Islam di setiap muka bumi dari ancaman terjerumus dalam adzab : أو يلبسكم شيعاً ويذيق بعضكم بأس بعض "Atau
mencampur baur kalian dalam golongan (yang saling bertentangan) dan
sebagian kalian merasakan kepada (sebagian) kalian keganasan sebagian
yang lain", kecuali kelompok ini melepaskan diri dari akidah dan
mentalitas, serta cara hidup Ahli Jahiliyah dari kaumnya sehingga Allah
mengidzinkan tegaknya Daarul Islam yang mana mereka berlindung
padanya..!
Apabila
tidak terwujud pemisahan dan pembedaan ini, maka mereka berhak mendapat
ancaman Allah ini, yakni: Bercampur aduk satu golongan dengan golongan
yang lain dalam komunitas masyarakat. Sehingga mereka tidak mengenal
dengan jelas jati dirinya sendiri, dan tidak mengenal dengan jelas jati
diri manusia di sekitarnya. Dan saat itulah akan menimpanya adzab yang
terus bertahan lagi berkepanjangan tadi, tanpa sedikitpun mereka bisa
mengecap kemenangan yang dijanjikan Allah.
Sesungguhnya
posisi pemisahan dan pembedaan ini boleh jadi memberi beban kepada
kelompok Islam dengan berbagai pengorbanan dan kesulitan, hanyasaja
pengorbanan dan kesulitan ini sama sekali tidak akan lebih berat dan
lebih besar dibandingkan dengan penderitaan dan adzab yang menimpanya
akibat tercampur aduknya posisi mereka dan tidak bisa dibedakannya
mereka dengan musuh, dan akibat larut dan membaurnya mereka di tengah
kaumnya dan masyarakat jahiliyah di sekitarnya..!
Ras
dan kebangsaan, bahasa dan tanah air, dan semua makna-makna di atas tak
punya bobot sama sekali dalam timbangan Allah. Sesungguhnya di sana
ada satu timbangan yang dengan timbangan itu dapat didefiniskan
nilai-nilai dan dapat diketahui keutamaan manusia:__ إن أكرمكم عند الله أتقاكم __"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling takwa di antara kalian". Kemuliaan
yang hakiki adalah kemuliaan menurut pandangan Allah, dan Dia menimbang
bobot kalian dengan pengetahuan dan pengertian-Nya terhadap nilai-nilai
dan timbangan-timbangan tersebut __إن الله عليم خبير __ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengerti".
Demikianlah
gugurlah semua pemisah-pemisah, gugur semua nilai-nilai, dan naik satu
timbangan dengan satu nilai, dan kepada timbangan ini anak manusia
berhukum, dan kepada nilai ini, persengketaan di antara manusia akan
kembali dalam timbangan tersebut.
Demikianlah
tersembunyi semua sebab-sebab pertikaian dan permusuhan di muka bumi,
dan menjadi murah semua nilai-nilai yang digandrungi manusia, dan nampak
sebab besar dan nyata bagi persatuan dan ta’awun:Yakni,
Uluhiyah/ketuhanan Allah bagi semua manusia, dan diciptakannya mereka
dari satu asal, sebagaimana naik satu bendera, yang semuanya harus
berlomba-lomba agar bisa berdiri di bawahnya: Yakni bendera takwa di
bawah naungan Allah. Inilah dia bendera yang Islam telah mengangkatnya
untuk menyelamatkan anak manusia dari penyakit-penyakit fanatisme
bangsa, fanatisme bumi, fanatisme kabilah, fanatisme rumah, yang mana
semuanya berasal dari jahiliyah dan bermuara kepadanya. Yang berbaju
dengan berbagai macam baju, dan menamakan diri dengan berbagai nama,
tapi semuanya jahiliyah, telanjang dari Islam." –selesai- (Disadur dari
“Sifat Thaifah Manshurah)

