Senin, 17 Juli 2017

Ini Alasan Para Pahlawan Nasional Memilih Pakaian Islami Dalam Perjuangan Melawan Belanda

Jika kita kembali melihat sejarah, kita akan mendapati banyak dari para pahlawan bangsa yang memimpin perjuangan melawan lebih memilih pakaian Islami berupa Jubah dan Sorban daripada pakaian adat daerahnya.

Guru Besar sejarah Universitas Padjajaran Profesor Ahmad Mansur Suryanegara mengungkapkan bahwa alasan para pejuang mengenakan pakaian Islami dengan jubah dan Sorban adalah karena pada masa itu pakaian adat identik dengan para pembantu Penjajah Belanda untuk menindas masyarakat Nusantara.

Para pejuang seperti Pangeran Diponegoro, Kiai Mojo dan Sentot Alibasyah Prawirodirjo lebih memilih mengenakan busana Islami dari pada pakaian adat Jawa ketika melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda pada masa itu.

Berikut penjelasan lengkap yang ditulis Profesor Ahmad Mansur Suryanegara melalui akun Facebook pribadinya, pada hari Selasa 15 Desember tahun 2015:

“Pangeran Diponegoro, Kiai Mojo dan Sentot Alibasyah Prawirodirjo menanggalkan busana adat Jawa ketika para pengena busana adat justru menjadi pembantu utama penjajah Protestan Belanda dalam menindas rakyat dengan menggunakan topeng budaya adat untuk memadamkan Cahaya Islam.

Pangeran Diponegoro, walau menyandang keris, menurut Dr Tjipto Mangunkusumo tidak pernah menghunus kerisnya di tengah peperangan. Tetapi selalu membacakan Al Quran untuk membangkitkan jiwa juang umat dan rakyat pendukungnya yang anti penjajah.

Pangeran Diponegoro, Kiai Mojo dan Sentot Alibasyah Prawirodirjo berbusana Islami menyelamatkan bangsanya dari keruntuhan moral bangsanya.

Pembusana adat Djawa bertingkah laku pemadat, merendahkan martabat wanita, perusak keluhuran adat Djawa, perusak Syariah Islam dalam Istana Kesultanan dan di masyarakat Djawa. Berkedok memelihara Adat Djawa, tapi bermental rendah.

Bila disebutkan “Ora Ndjowo” artinya tingkah lakunya tidak Islami. Saat itu “Jowo” atau “Jawa” di masyarakat memiliki arti mengerti. Bila disebut “Ora Ndjowo” artinya adalah ora ngerti atau tidak Islami. Ora artinya tidak. Djawa artinya Islam dan Pribumi berseberangan penjajah yang asing.

Dalam perjalanan sejarah, adat daerah di Nusantara diperadabkan oleh ajaran Islam. Pada masa penjajahan Kerajaan Protestan Belanda dan pemerintah Kolonial Belanda, Adat budaya yang bersifat lokal dijadikan pemecah belah kesatuan bangsa atau umat. Dijadikan alat oleh penjajah melawan Islam yang bersifat universal dan pemersatu bangsa Indonesia” (http://ift.tt/2sSVxCC)

Label: ,

PESANTREN BESAR RAMAI RAMAI MENENTANG SAID AQIL SIRAJ

SUNGGUH SEDIH.......

ASEMBAGUS

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah (PPSS) Asembagus Situbondo lewat pengasuhnya, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy mengeluarkan maklumat MUFAROQOH dari Nahdlatul Ulama pimpinan Said Aqil Siraj (21/9/2015).

“Kami mufaroqoh dan tidak ada kait mengait antara kami dan pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hasil muktamar ke-33 di alun-alun jombang,” begitu salah satu kalimat dalam maklumat tersebut.
Dijelaskan juga, dalam maklumat itu diserukan kepada para Ulama dan warga nahdliyin agar tetap mempertahankan ajaran ahlussunah wal jamaah (Aswaja). Ajaran tersebut juga harus dijaga dari serangan aqidah dan ideologi di luar ajaran Aswaja

TEBUIRENG

Setelah Ponpes Salafiyah Syafi’iyyah Asembagus Situbondo mufaroqoh, berikutnya giliran Ponpes Tebuireng Jombang. Bahkan lewat pengasuhnya KH. Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) mengeluarkan pernyataan lebih tegas.

“Tebuireng sejak awal tidak menganggap ada kepengurusan PBNU yang sah” Kata Gus Sholah.
Ada tiga poin maklumat yang dikeluarkan Tebuireng, di antaranya tetap konsisten menganggap tidak ada PBNU hasil Muktamar ke 33 di Jombang. Kemudian mendukung adanya upaya hukum yang menggugat proses hasil muktamar, serta meminta warga NU untuk berpegang teguh kepada ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

SIDOGIRI

Beberapa bulan lalu, publik kembali dikejutkan dengan diterbitkannya buku berjudul : “SIDOGIRI MENOLAK PEMIKIRAN KH. SAID AQIL SIRAJ”. Buku tsb disusun dan diterbitkan secara resmi oleh Pondok Pesantren NU tertua di Jawa Timur, Sidogiri.
Buku itu untuk menjawab buku yang dikarang oleh Said Aqil yang berjudul “Tasawuf Sebagai Kritik Sosial, Mengedepankan Islam Sebagai Inspirasi Bukan Aspirasi.’ Secara ilmiyah Sidogiri membongkar habis kedok pemikiran menyimpang Said Aqil Siraj. Diantaranya:

1. Said Aqil menuduh motif dakwah Rasulullah dalam menyebarkan Islam semata-mata politis, ingin menguasai Romawi dan Persia.

2. Said Aqil Menyatakan bahwa paham Muktazilah dan Syiah termasuk dari Ahlus Sunnah wal Jamaah.

3. Said Aqil menyatakan bahwa Umat Beriman bukan monopoli umat Islam. Kaum Yahudi, Kristiani, Shabi’in, Budha, Hindu, Konghuchu, maupun kepercayaan lain apapun nama tuhannya adalah umat beriman.

4. Said Aqil menafikan adanya Ukhuwah Islamiyah dalam Al-Qur’an Hadits dan menyatakan bahwa yang ada hanya Ukhuwah Imaniyah yaitu Ukhuwah antara orang-orang yang “beriman” (versi Said Aqil).

Label: