Senin, 15 Oktober 2012

Pastikan Ambil Hadits Shahih Seperti Imam Asy-Syafi'i



Setiap khabar atau hadits yang diatasnamakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak boleh sewenang-wenangnya diterima tanpa terlebih dahulu dipastikan status keshahihan atau kebenarannya. Ini untuk menghindari menyandarkan sesuatu kepada Nabi dengan cara prasangka, dusta, atau bohong yang mana telah kita ketahui setiap apa yang datang dari Nabi itu memberi nilai agama sama ada dari aspek aqidah, tauhid, hukum-hakam, akhlak, mu’amalah, dan sebagainya.
Dari itu, siapapun tidak boleh sesuka hati mengatakan sesuatu atas nama Nabi tanpa melalui cara yang benar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah mengingatkan : “Sesungguhnya berdusta ke atas namaku tidaklah sama dengan berdusta menggunakan nama orang lain. Maka sesiapa yang berdusta ke atasku dengan sengaja, bersiap-sedialah dengan tempat duduknya di neraka.” (Hadits Riwayat al-Bukhari, 5/37, no. 1209)
Oleh sebab itulah para ulama hadits telah menyusun sebuah kaedah khusus bagi memastikan kesahihan khabar yang disandarkan kepada Nabi. Yaitu dengan meneliti sanad dan barisan para perawi hadits. Setelah keabsahannya dikenal pasti, maka barulah ia layak dijadikan sebagai hujjah dan pegangan dalam agama bersesuaian dengan kaedah-kaedah lainnya.
Imam ‘Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah (Wafat: 181H) berkata : “Isnad adalah sebahagian dari agama. Jika tidak ada isnad, maka sesiapa saja akan berbicara sesuka hatinya.” (Mukaddimah Shahih Muslim, 1/15)
Seorang tabi’in, Sa’ad bin Ibrahim berkata : “Tidak ada yang berhak mengkhabarkan sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melainkan orang-orang yang tsiqah.” (Hadits Riwayat Muslim, 1/15)
Kata Muhammad bin Sirin rahimahullah (Wafat 110 H) : “Mereka (ahlus sunnah) sebelum itu tidak bertanya tentang sanad, tetapi ketika terjadi fitnah, mereka pun berkata : “Sebutkanlah kepada kami nama para perawimu.” Apabila dilihat yang menyampaikannya adalah ahlus sunnah maka haditsnya diterima, tetapi bila yang menyampaikannya adalah ahli bid’ah maka haditsnya ditolak.” (Mukaddimah Shahih Muslim, 1/15)
Kriteria Hadits Sahih
Seseorang Bertanya kepada imam asy-Syafi’i : “Sebutkan kepadaku syarat minimal agar suatu khabar hadits itu boleh diterima sebagai hujjah.” Maka beliau pun menjawab : “Khabar yang disampaikan dari satu orang dari satu orang sehingga sampai kepada Nabi atau kepada perawi yang berada di bawah Nabi (para sahabat).”
Beliau menyambung : “Khabar hadits dari satu orang kepada satu orang tidak dapat diterima sebagai hujjah sehingga memenuhi beberapa syarat yang di antaranya : Orang yang meriwayatkan mesti tsiqah (terpercaya) dalam agamanya. Dikenal sebagai orang yang benar lagi jujur dalam berbicara, memahami apa yang ia riwayatkan (atau khabarkan), memahami lafaz yang boleh mengubah makna-makna hadits, dan mampu menyampaikan hadits bertepatan dengan huruf-hurufnya persis sebagaimana yang ia dengar dan bukan menyampaikan sekadar dengan maknanya atau sekadar dari kefahamannya saja.
Orang yang meriwayatkannya perlu hafal apa yang ia riwayatkan jika dia meriwayatkannya dari hafalan, atau mencatatnya dengan tepat jika dia meriwayatkan berdasarkan catatannya (atau kitabnya). Apabila dia menghafal suatu hadits bersama-sama dengan para huffaz (penghafal hadits) yang lain, maka apa yang ia riwayatkan perlu selaras dengan apa yang diriwayatkan oleh para huffaz lainnya tersebut.
Orang yang meriwayatkannya tidak boleh seorang yang mudallis (penipu) dengan meriwayatkan suatu riwayat (hadits) dari seseorang yang ditemuinya tetapi tidak pernah mendengar riwayat dimaksudkan secara langsung darinya. Atau apabila ia meriwayatkan suatu hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, ia tidak boleh menyelisihi apa yang diriwayatkan oleh para perawi tsiqah yang lainnya dari Nabi.
Inilah keriteria yang perlu dimiliki bermula dari perawi terendah (paling bawah) sehingga paling atas yang sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang diriwayatkan secara maushul (bersambung). Yaitu setiap perawi mengakui orang yang menyampaikan kepadanya dan orang yang menyampaikan juga mengakuinya. Tidak seorang pun perawi yang boleh mengelak dari ketentuan ini.” (asy-Syafi’i, ar-Risalah, m/s. 369-372 – Daar al-Kitab al-‘Ilmiyah, Tahqiq Syaikh Ahmad Syakir)
Kriteria dan syarat yang ditetapkan oleh imam asy-Syafi’i inilah yang diterima pakai oleh para ulama hadits dahulu dan kini dalam menetapkan boleh atau tidaknya sesebuah hadits diterima pakai. Di mana sanadnya mesti muttashil (bersambung dan tidak putus), para perawinya ‘adil, perawinya dhabit (tepat dan sempurna hafalannya), selamat dari syuyudz (riwayatnya tidak bertentangan dengan riwayat para perawi yang lebih tsiqah darinya), dan selamat dari ‘illat atau kecacatan-kecacatan hadits lainnya. Inilah di antara asas utama bagi memastikan kedudukan sesebuah hadits sama ada sahih, hasan, dha’if (lemah), maudhu’ (palsu), atau selainnya.
Ini sekaligus menunjukkan ketelitian dan kedalaman ilmu yang dimiliki oleh imam asy-Syafi’i dalam bidang hadits. Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah mengatakan : “Siapa saja yang memahami ucapan imam asy-Syafi’i rahimahullah pada bab ini, pasti dia akan mendapati bahawa imam asy-Syafi’i telah menyusun (atau merangkumkan) sebuah kaedah yang shahih tentang ilmu hadits. Dan bahwasanya beliaulah orang pertama sekali menjelaskan ilmu ini dengan begitu terang. Beliau adalah pembela hadits yang paling unggul serta orang yang lantang menekankan kewajiban mengamalkan sunnah. Beliau turut mengeluarkan hujjah bantahan terhadap orang-orang yang menentang dan menolak hadits. Benarlah gelaran yang diberikan oleh pendudukan Makkah kepada imam asy-Syafi’i sebagai Naashirus Sunnah (pembela Sunnah), semoga Allah meridhainya.” (Tahqiq Syaikh Ahmad Syakir, ar-Risalah, m/s. 369)
Inilah di antara prinsip imam asy-Syafi’i rahimahullah bahkan prinsip para ulama ahlus sunnah wal-jama’ah dari dahulu hingga kini dalam mengambil dan menerima hadits sebagai hujjah agama. Mereka terlebih dahulu memastikan keabsahan dan keshahihan sebuah hadits sebelum mengamalkan dan menyebarkannya. Mereka tidak mengambilnya dari sembarangan orang begitu saja.
Alhamdulillah pada hari ini, fase periwayatan dan pembukuan hadits telah pun tamat lengkap dengan sanad-sanadnya sekaligus memudahkan para ulama dan masyarakat terkemudian menyimak serta memanfaatkannya. Cuma setiap hadits tersebut masih perlu dinilai shahih atau tidaknya. Dan ini masih sangat memerlukan perincian dan bantuan dari para ulama hadits sama ada dahulu atau kini. Kita tidak boleh sewenang-wenangnya memetik hadits begitu saja tanpa dipastikan terlebih dahulu keabsahan atau status kesahihannya berpandukan kaedah yang benar. Setiap hadits perlu diambil dari kitab dan sumbernya.
Selamilah pengorbanan para ulama terdahulu yang sanggup keluar bermusafir ribuan batu demi sebuah hadits yang mulia. Hadits-hadits diriwayatkan lalu dibukukan dengan cara terhormat lagi dimuliakan. Dipilih dengan kaedah yang penuh teliti lagi hati-hati.
Maka sepatutnya kita pada hari ini memanfaatkan hasil pengorbanan mereka dengan tidak sewenang-wenangnya memetik hadits hanya dari surat-surat khabar, internet, cakap-cakap orang, dan pelbagai sumber lainnya tanpa terlebih dahulu memastikan keabsahannya.
Para ulama ahlus sunnah wal-jama’ah terkenal amat berhati-hati dalam memilih dan mengambil hadits. Ini dalam rangka mengelak dari tersalah ambil hadits-hadits yang lemah, maudhu’, atau tidak shahih lalu mengatakannya ini adalah hadits shahih daripada Nabi?! Inilah juga di antara prinsip yang dipegang teguh oleh imam asy-Syafi’i rahimahullah sebagaimana dikatakan imam an-Nawawi rahimahullah (Wafat 676 H) :
“Beliau (Imam asy-Syafi’i rahimahullah) amat berpegang teguh dengan hadits-hadits shahih dan menjauhi hadits-hadits yang lemah lagi dha’if. Kami tidak mengetahui ada seorang pun dari kalangan fuqaha’ yang begitu berhati-hati ketika berhujjah dengan membedakan di antara hadits shahih dan dha’if sebagaimana yang dilakukan oleh beliau (asy-Syafi’i)”. (al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab, 1/11)
Tapi sayangnya, prinsip ini banyak diabaikan oleh pengamal madzhab asy-Syafi’i sendiri di Nusantara ini. Sebagian mereka tidak lagi membedakan di antara hadits yang shahih atau tidak. Banyak berlaku di mana hadits-hadits yang tidak shahih dipegang dan disebarkan sebagaimana hadits shahih. Sehingga apabila didatangkan hadits-hadits yang shahih yang bertentangan dengan apa yang mereka imani atau amalkan, mereka tidak lagi mau menerimanya.
Ini amat bertentangan dengan perkataan dan prinsip imam asy-Syafi’i sendiri di mana beliau mengatakan : “Setiap perkataanku yang berbeda dengan riwayat yang shahih daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka hadits Nabi lebih pertama (perlu didahulukan) dan kamu semua jangan bertaklid kepadaku.” (al-Baihaqi, Ma’rifah as-Sunan wal Atsar, 2/454)
Juga kata beliau : “Apabila sahih suatu hadits, maka itulah mazhabku.” (al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab, 1/92)
Pernahkah kita mendengar hadits-hadits yang sudah dianggap populer seperti tentang mendapat ganjaran pahala 70 kali ganda jika memakai serban ketika shalat, perselisihan di kalangan umat Muhammad adalah rahmat, tuntutlah ilmu sampai ke negeri China, Yasin jantung hati al-Qur’an, siapa yang mengenal diri maka dia mengenal Allah, bermadu bagi isteri akan mendapat payung emas di Syurga, galakkan membaca surah Yasin untuk orang mati, kisah sahabat Nabi Tsa’labah yang bakhil, nyanyian thala’al badru ‘alaina ketika menyambut Nabi tiba di Madinah, kisah ‘Abdurrahman bin ‘Auf masuk Syurga sambil merangkak, serta pelbagai lagi khabar-khabar hadits populer yang disandarkan atas nama agama dan nama Rasulullah yang mana hakikatnya ia bukanlah hadits-hadits yang shahih dan boleh dibuat hujjah maupun pegangan dalam agama.
Duka citanya, ia beredar di sekeliling kita, disampaikan oleh mereka yang bergelar ustadz dan ustadzah, serta diimani kebanyakan orang. Oleh karena itu, pastikanlah setiap hadits yang kita terima dan amalkan adalah hadits-hadits yang shahih terlebih dahulu. Takut-takutlah kita dengan ancaman berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
Wallahu a’lam...

Label:

Imam asy-Syafi'i Bermazhab Dengan Sunnah Rasulullah

Kita selaku umat Islam di wilayah nusantara ini secara umumnya mengaku mengamalkan ajaran Islam berpandukan madzhab imam asy-Syafi’i rahimahullah. Yaitu madzhab yang berpaksi dari kerangka ushul yang digariskan imam asy-Syafi’i rahimahullah bersama-sama para pengikutnya. Madzhab asy-Syafi’i adalah salah satu cabang madzhab aliran ahli sunnah wal-jama’ah yang sah lagi autentik.
Dari itu, ada baiknya kita simak sejenak prinsip-prinsip penting, pegangan, dan pesan-pesan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah (Wafat 204 H) dalam mengambil agama ini. Sekaligus dapat kita manfaatkan secara bersama bagi tujuan memahami agama ini dengan lebih baik berdasarkan bimbingan imam yang agung, imam asy-Syafi’i.
Bermadzhab Dengan Sunnah Rasulullah
Imam asy-Syafi’i rahimahullah disebutkan oleh para ulama lainnya sebagai di antara orang yang paling kuat berpegang dengan sunnah. Bahkan dikatakan oleh imam Ahmad bin Hanbal sebagai “Nashiirus Sunnah” (pembela sunnah). Imam Ahmad rahimahullah (Wafat 241 H) juga mengatakan : “Di antara sikap terpuji imam asy-Syafi’i adalah apabila beliau mendengar sebuah hadits (yang shahih) yang belum pernah beliau dengar, maka beliau akan mengambil hadits tersebut dan meninggalkan pendapatnya (yang bertentangan).” (al-Baihaqi, Manaaqib asy-Syafi’i, 1/476 – Maktabah Daar at-Turaats)
Kata beliau lagi : “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih mengikuti sunnah berbanding imam asy-Syafi’i rahimahullah.” (Manaaqib asy-Syafi’i, 1/471)
Imam asy-Syafi’i rahimahullah sendiri pernah berpesan dengan katanya : “Tidak ada seorang pun melainkan ia wajib bermadzhab dengan sunnah Rasulullah dan mengikutinya. Apa jua yang aku ucapkan atau tetapkan tentang sesuatu perkara (ushul), sedangkan ucapanku itu bertentangan dengan sunnah Rasulullah, maka yang diambil adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dan demikianlah ucapanku (dengan mengikuti sabda Rasulullah).” (Disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam I’lam al-Muwaqq’in, 2/286)
Kata imam asy-Syafi’i lagi : “Kaum muslimin bersepakat bahwa mereka yang mengetahui dengan jelas suatu sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam maka tidak halal baginya meninggalkan sunnah tersebut semata-mata untuk mengikuti pendapat seseorang yang lain.” (Ibnu al-Qayyim, I’lam al-Muwaqq’in, 2/282)
Imam an-Nawawi rahimahullah (Wafat 676 H) turut mengutarakan pesan-pesan imam asy-Syafi’i yang semakna dengannya, antaranya : Imam asy-Syafi’i berkata : “Apabila kamu mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka ambillah sunnah Rasulullah tersebut dan tinggalkanlah perkataanku.”
Kemudian imam an-Nawawi mengeluarkan contoh sikap para ulama dari kalangan ulama madzhab asy-Syafi’i seperti al-Buwaithi, Abu al-Qasim ad-Dariqi, Abu Bakar al-Baihaqi, dan selainnya ketika berhadapan dengan pendapat dalam madzhab asy-Syafi’i yang bertentangan dengan suatu hadits, maka mereka akan mengamalkan hadits dan meninggalkan pendapat madzhab asy-Syafi’i yang bertentangan dengan hadits tersebut. Imam an-Nawawi kemudian menjelaskan :
“Sebahagian sahabat kami yang terdahulu ketika melihat suatu permasalahan yang di dalamnya terdapat hadits sedangkan ia bertentangan dengan pendapat dalam madzhab asy-Syafi’i, maka mereka pun mengamalkan hadits tersebut (dengan meninggalkan pendapat madzhab). Mereka memberikan fatwa berdasarkan hadits tersebut sambil berkata, “Madzhab asy-Syafi’i bersesuaian dengan hadits tersebut.” (al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab, 1/63-64)
Inilah contoh sikap yang mulia yang bersesuaian dengan pesanan imam asy-Syafi’i sendiri agar mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berbanding pendapat sendiri dan pendapat-pendapat manusia lainnya bersesuaian dengan kadar ilmu yang dikuasai. Perkara ini juga turut dipertegaskan lagi oleh para ulama dan imam-imam lainnya.
Antaranya sebagaimana kata al-Hafizh Ibnu Rejab al-Hanbali rahimahullah (Wafat 795 H) : “Kewajiban bagi mereka yang menerima dan mengetahui perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah dengan menyampaikan kepada masyarakat, menasihati mereka, dan mengajak mereka untuk mengikutinya walaupun ia bertentangan dengan pendapat orang ramai. Perintah Rasulullah lebih berhak untuk dimuliakan dan diikuti berbanding pendapat mana-mana tokoh sekalipun yang menyalahi perintahnya yang terkadang pendapat mereka itu terdedah kepada kesalahan.
Oleh kerana itulah para sahabat dan para tabi’in selalu menolak pendapat yang menyalahi hadits yang sahih dengan penolakan yang tegas yang mereka lakukan bukan karena kebencian sebaliknya adalah karena rasa hormat mereka terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam jauh lebih tinggi mengatasi kedudukan manusia-manusia lainnya dan kedudukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam jauh di atas makhluk lainnya.
Apabila perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ternyata bertentangan dengan perintah yang lain, perintah beliau adalah lebih utama didahulukan dan diikuti sekalipun orang tersebut mendapat ampunan dari Allah. Bahkan orang yang mendapat pengampunan dari Allah tersebut apabila ia tahu pendapatnya menyalahi perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka ia pun tidak merasa benci apabila seseorang meninggalkan pendapatnya yang berlawanan dengan ketentuan Rasulullah tersebut.” (Dinukil dari Ashlu Shifati Sholaatin Nabiy karya al-Albani, 1/33-34)
Berkaitan dengan ini, Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar pernah menceritakan bahwa beliau telah mendengar seorang lelaki dari Syam datang bertanya kepada ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu tentang umrah dalam haji tamattu’. ‘Abdullah bin ‘Umar menjawab : “ia halal (dibolehkan).”
Orang Syam tersebut berkata : “Tetapi bukankah ayahmu (‘Umar al-Khaththab) telah melarangnya?”. ‘Abdullah bin ‘Umar bertanya : “Apa pendapatmu jika ayahku melarangnya sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melakukannya, jadi mana yang akan kamu ikuti? Perintah ayahku atau perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?”. Lelaki tersebut pun menjawab : “Ya, perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.” Maka Ibnu ‘Umar berkata : “Sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melakukannya.” (Hadis Riwayat at-Tirmidzi, 3/333, no. 753)
Jadi, pendapat para imam madzhab pun boleh ditinggalkan sekiranya bertentangan dengan sunnah, apatah lagi pendapat-pendapat yang tidak diketahui asal-usulnya yang keluar bukan dari kalangan para imam seperti kisah-kisah dusta atas nama agama dan bid’ah-bid’ah yang leluasa di Nusantara ini?
Seharusnya kita dalami baik-baik pesan-pesan imam madzhab kita, imam asy-Syafi’i rahimahullah tersebut. Bahkan imam-imam madzhab seluruhnya termasuk Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad bin Hanbal juga turut berpesan dengan pesanan yang sama seperti asy-Syafi’i.
Mereka semua mewajibkan para pengikutnya supaya meninggalkan pendapat-pendapat mereka apabila pendapat tersebut bertentangan dengan hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Bahkan imam asy-Syafi’i meninggalkan pesan supaya mengatasnamakan dirinya bagi setiap hadits yang sahih sebagai termasuk dalam pendapat atau madzhabnya walaupun beliau tidak menemui mahupun meriwayatkannya. Manakala pendapatnya yang bertentangan dengan sunnah, beliau minta agar ditinggalkan.
Kata beliau : “Apabila sahih sesuatu hadits, maka itulah pendapatku (madzhabku).”
Oleh sebab itulah Imam Ibnu Daqiq al-‘Ied rahimahullah menyusun sebuah kitab besar yang menghimpunkan pelbagai hadits yang dikategorikan sebagai hadits-hadits yang bertentangan dengan pendapat-pendapat para imam madzhab, lalu pada mukaddimahnya beliau mengatakan : “Menyandarkan nama para imam mujtahid dengan pelbagai masalah yang bertentangan dengan hadits sahih adalah haram!”
Ini bersesuaian dengan pesan-pesan wasiat yang ditinggalkan oleh para imam itu sendiri antaranya imam asy-Syafi’i dengan katanya : “Apabila shahih sesuatu hadits, maka itulah pendapatku (madzhabku).” Yang membawa maksud setiap pendapat yang bertentangan dengan hadits bukanlah termasuk pendapat beliau walaupun beliau mengucapkannya. Ini juga sebagaimana kata beliau : “Apabila ada ucapanku atau ushul (kaedah) yang aku susun bertentangan dengan apa yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka ambillah ucapan yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dan itu menjadi ucapanku.” (al-Baihaqi, Manaaqib asy-Syafi’i, 1/475)
Pesan-pesan imam asy-Syafi’i yang semisal dengan ini begitu banyak diriwayatkan dan disebutkan dalam lembaran-lembaran kitab para ulama. Ini menunjukkan betapa tegasnya prinsip dan pegangan imam asy-Syafi’i terhadap hadits-hadits Nabi sekaligus dalam mengajak masyarakat untuk berpegang dan bermadzhab dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Bahkan turut dinukil yang mana beliau mengatakan : “Sekiranya aku meriwayatkan satu hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lalu aku tidak mengambilnya, maka nyatakanlah bahawa akalku telah rusak.” (al-Baihaqi, Manaaqib asy-Syafi’i, 1/474)
Di tempat yang lain turut diriwayatkan bahawa beliau telah berkata : “Setiap perkataanku yang berbeda dengan riwayat yang shahih daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka hadits Nabi lebih aula (perlu didahulukan) dan kamu semua jangan bertaklid kepadaku.” (al-Baihaqi, Ma’rifah as-Sunan wal Atsar, 2/454)
Demikianlah begitu tegasnya beliau dalam berpegang dengan hadits-hadits yang diterimanya. Ini sepatutnya menjadi contoh dan motivasi buat kita semua dalam mempelajari, mengamalkan, dan mendakwahkan sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang mulia.
Prinsip-prinsip dan wasiat-wasiat yang ditinggalkan oleh imam asy-Syafi’i ini amat bertepatan dengan begitu banyak dalil-dalil al-Qur’an mahupun as-Sunnah. Antaranya sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Demi Tuhanmu, mereka tidak dikatakan beriman sehingga mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam menyelesaikan perselisihan di antara mereka. Kemudian mereka tidak merasa berat dengan keputusan yang engkau tetapkan dan mereka menerimanya dengan penuh ketulusan.” (Qs. an-Nisaa’ :  65)
Ayat ini begitu jelas menerangkan apabila berlaku perselisihan (khilaf) di antara kita, maka hendaklah ia dikembalikan kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Bukan dikembalikan kepada madzhab si fulan atau imam fulan mahupun ustadz fulan. Wallahu a’lam

Mengenal Karya-karya Imam asy-Syafi'i



Imam asy-Syafi’i rahimahullah banyak menghasilkan karya tulis berupa kitab-kitab yang mana sebahagiannya beliau tulis sendiri lalu dibacakan dan dibahaskan kepada masyarakat dan para penuntut ilmu. Manakala sebahagian lagi dikumpulkan dan dibukukan oleh murid dan para pendukung madzhabnya.
Dalam mukaddimah al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab karya Imam an-Nawawi rahimahullah (Wafat 676 H) disebutkan : “Karya-karya asy-Syafi’i dalam permasalahan ushul dan furu’ yang belum pernah wujud sebelumnya cukup banyak dan baik. Di antara yang masyhur lagi terkenal adalah kitab al-Umm yang jumlahnya mencapai 20 jilid, kemudian al-Jami’ al-Muzanni al-Kabiir dan ash-Shaghiir, Mukhtashar al-Kabir dan ash-Shaghiir, Mukhtashar al-Buwaithi dan ar-Rabi’, al-Harmalah, kemudian kitab al-Hujjah yang merupakan sebahagian dari qaul qadim (karya yang menjelaskan pegangan awal asy-Syafi’i), ar-Risalah al-Qadiimah, ar-Risalah al-Jadiidah, al-Amali, al-Imla’, dan selainnya.” (al-Majmu’, 1/11)
Bahkan ada sebahagian ulama yang menyebutkan bahawa kitab-kitab karya asy-Syafi’i rahimahullah mencapai 113 buah kitab berkaitan tafsir, fiqh, sastra, dan disiplin-disiplin ilmu lainnya. Ada juga yang mengatakan sukar untuk menghitung secara tepat jumlah keseluruhan kitab-kitab karya beliau. Namun sayangnya sebahagian besar dari kitab-kitab yang disusun oleh beliau hilang dan tidak sampai kepada kita hari ini.
Kata Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah (Wafat 1377 H) : “Amat sukar untuk menghitung kitab-kitab beliau kerana banyak di antaranya yang telah luput (hilang). Beliau menulis di Makkah, Baghdad, dan Mesir. Adapun karya-karya beliau yang sampai ke tangan para ulama pada masa ini adalah apa yang ditulisnya ketika di Mesir, yaitu kitab al-Umm antaranya.” (Mukaddimah kitab ar-Risalah tahqiq Syaikh Ahmad Syakir, m/s. 9 – Daar al-Kitab al-‘Ilmiyyah)
Kitab al-Umm ini adalah sebuah kitab yang dikumpulkan oleh murid Imam asy-Syafi’i yaitu Imam ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi (Wafat 270 H). Beliau menghimpunnya ketika mendengar bab-bab atau perbahasan-perbahasan kandungannya tersebut secara langsung dari asy-Syafi’i atau di masa yang lain. Juga berdasarkan apa yang beliau temui dalam bentuk-bentuk tulisan asy-Syafi’i rahimahullah.
Kata al-Hafiz Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah (Wafat 852 H) : “Jumlah kitab (perbahasan) dalam kitab al-Umm mencapai lebih dari 140 bab, wallahu a‘lam. Ia dimulakan dengan pembahasan tentang thaharah (bersuci), kemudian kitab ash-shalah, dan seterusnya yang mana beliau susun berdasarkan bab-bab fiqh.” (Dinukil dari kitab Manhaj al-Imam asy-Syafi’i fii Itsbaat al-‘Aqiidah karya Dr. Muhammad al-‘Aql, m/s. 48 – Maktabah Adhwa as-Salaf)
Pembahasan yang terkandung dalam kitab al-Umm ini merangkumi pelbagai asas dan penjabaran persoalan agama yang sangat luas. Bahkan ia boleh dikatakan sebagai himpunan pembahasan yang mengumpulkan pendapat-pendapat imam asy-Syafi’i rahimahullah dalam bidang fiqh, tafsir, dan hadits. Di antara pembahasannya mencakupi aspek thaharah, shalat, hari raya, zakat, jenazah, puasa, haji, ibadah kurban, perburuan, nadzar, jual beli, wasiat, faraidh, peperangan, jihad, pernikahan, hudud, qishash, dan banyak lagi yang lainnya.
Alhamdulillah, kitab al-Umm karya imam asy-Syafi’i yang amat berharga ini telah dicetak dan diterbitkan menjadi beberapa jilid semuanya pada hari ini. Juga telah ada yang siap diterjemahkan dan diringkaskan ke bahasa kita. Cuma sayangnya, amat sedikit dari kalangan kita yang mampu mengambil faedah darinya dan memanfaatkannya dengan betul sebagai sumber ilmu walaupun kita sering  mengaku bermazhab Syafi’i.
Selain kitab al-Umm, di antara yang terkenal dan telah diterbitkan adalah kitab Ikhtilaf al-Hadits. Ia diterbitkan oleh penerbit Bulaaq bersama Hasyiyah kitab al-Umm jilid 7. Selain itu juga adalah kitab ar-Risalah. Kedua buah kitab ini adalah di antara kitab yang diriwayatkan melalui jalan ar-Rabi’ bin Sulaiman daripada asy-Syafi’i. Ini adalah sebagaimana kata Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah ketika mentahqiq kitab ar-Risalah karya asy-Syafi’i.
Kata Syaikh Ahmad Syakir, kitab ar-Risalah disusun oleh Imam asy-Syafi’i sebanyak dua kali menjadi ar-Risalah al-Qadiimah (edisi awal) dan ar-Risalah al-Jadiidah (edisi baru). Ar-Risalah al-Qadiimah disusun oleh Imam asy-Syafi’i ketika di Makkah demi memenuhi permintaan ‘Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah (Wafat 198 H) di ‘Iraq ketika itu. Ia adalah kitab dalam bentuk surat untuk ‘Abdurrahman bin Mahdi yang menjelaskan tentang tafsir al-Qur’an, himpunan hadits-hadits yang boleh diterima, penghujahan dengan ijma’, dan penjelasan ilmu nasikh wal-mansukh dari al-Qur’an dan as-Sunnah.
Walau bagaimanapun, kitab ar-Risalah al-Qadiimah yang dimaksudkan tersebut telah pun luput dari kita dan apa yang sampai kepada kita hari ini adalah kitab ar-Risalah al-Jadiidah, dan ia disusun oleh imam asy-Syafi’i setelah selesainya kitab al-Umm. (Mukaddimah ar-Risalah, m/s. 10-11)
Kitab ar-Risalah ini adalah sebuah kitab yang masyhur lagi terbilang dan diketahui umum sebagai kitab rujukan utama dalam bidang ushul fiqh. Bahkan Imam asy-Syafi’i boleh dikatakan sebagai tokoh pertama yang membukukan kaedah-kaedah umum dalam bidang ushul fiqh secara sistematik, lalu para ilmuan setelah beliau pun menjadikannya sebagai rujukan dan mengikutinya.
Badruddin az-Zarkasyi di dalam kitab al-Bahr al-Muhith fii Ushul menyatakan : “asy-Syafi’i adalah ulama pertama yang menyusun buku tentang ushul fiqh. Bagi bidang ushul fiqh ini, beliau menulis kitab ar-Risalah, Ahkam al-Qur’an, Ikhtilaf al-Hadits, Ibthal al-Istihsan, Jama’ al-‘Ilm, dan al-Qiyas. Melalui pelbagai pembahagian bab-bab pembahasan dalam kitab ini, beliau telah menjelaskan seluk-beluk penghujahan dengan hadits ahad, membentangkan syarat-syarat keshahihan hadits, keadilan para perawi hadits, penolakan khabar mursal dan munqathi’, serta perkara-perkara lain yang bisa diketahui dengan menyimak isi kandungannya.” (Mukaddimah ar-Risalah, m/s. 13)
Kitab ar-Risalah dan bahkan seluruh kitab asy-Syafi’i rahimahullah adalah himpunan kitab-kitab yang sarat dengan bahasa sastra dan adab yang indah di samping pembahasan tentang fiqh serta ushul. Selain ilmu imam asy-Syafi’i dalam bidang fiqh dan ushul, para ulama di zaman beliau turut mengambil dan berhujjah dengan tutur bahasa imam asy-Syafi’i rahimahullah. Ini lantaran kehebatan dan keelokan sastra serta bahasa ‘Arab yang fasih yang dikuasai oleh beliau.
‘Abdurrahman bin Mahdi mengatakan tentang kitab ar-Risalah : “Ketika aku melihat kitab ar-Risalah karya asy-Syafi’i, aku tercegang kerana aku sedang melihat (susunan bahasa) seorang yang bijak, fasih, lagi penuh dengan nasihat sehingga aku memperbanyakkan doa untuknya.” (ar-Risalah, m/s. 4)
Penyusun kitab Sirah Ibnu Hisyam (Wafat 213 H) mengatakan : “Aku telah lama bersama-sama dengan asy-Syafi’i, tetapi aku tidak pernah mendengar beliau berbicara tanpa mengikuti tata bahasa. Aku juga tidak pernah mendengar secara langsung satu ucapan yang lebih indah dari ucapan beliau.”
Kata Syaikh Ahmad Syakir : “Seluruh kitab imam asy-Syafi’i adalah contoh sastra ‘Arab yang murni dan berada di puncak balaghah yang tertinggi. Beliau menulis berdasarkan naluri yang bersesuaian dengan fitrah, tidak dibuat-buat dan tidak dipaksa-paksa. Kitab-kitab beliau adalah penjelasan yang paling fasih yang pernah anda baca setelah al-Qur’an dan hadits, tidak dapat ditandingi oleh satu ucapan pun dan tidak terkalahkan oleh satu tulisan pun.”
Kata Syaikh Ahmad Syakir lagi yang merupakan ulama besar kontemporer yang lahir dalam lingkaran pendidikan Universitas al-Azhar ketika itu : “Kitab ar-Risalah sepatutnya menjadi kitab pengajian wajib di Universitas al-Azhar serta universitas-universitas lainnya. Juga dipilih beberapa bab dari kandungannya untuk dijadikan sebagai bahan pengajian pelajar-pelajar di peringkat menengah dan pusat-pusat pendidikan awal supaya mereka mendapat ilmu pengetahuan dan pandangan hujjah yang benar lagi kuat.” (Mukaddimah ar-Risalah, m/s. 13-14)
Demikianlah apa yang dapat diungkapkan tentang karya-karya milik imam asy-Syafi’i rahimahullah. Karya-karyanya masyhur lagi dikenali bagai matahari yang menyinar di waktu siang. Menjadi rujukan dan panduan buat masyarakat, penuntut ilmu, dan para ulama dahulu dan kini umpama bintang di malam hari. Para ilmuan dulu dan kini berlumba-lumba mendalaminya, mengikutinya, dan melakukan kupasan.
Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan : “Adapun karya-karya para pendukung imam asy-Syafi’i yang merupakan penjelasan terhadapan matan (teks perkataan), pernyataan, rangkuman konsep, dan pandangan hasil kaedah-kaedah asy-Syafi’i tidak terhitung jumlahnya. Di samping faedah dan manfaatnya yang sangat banyak, ukuran dan susunannya pun begitu baik. Ini adalah sebagaimana komentar Abu Hamid al-Isfirayini, al-Qadhi Abu ath-Thayyib, pengarang al-Hawi, imam al-Haramain, dan selainnya. Ini semua menjadi bukti nyata akan kedalaman ilmu imam asy-Syafi’i, kebaikan perkataannya, dan kesahihan niatnya dalam ilmu.” (al-Majmu’, 1/12)
Selain kitab-kitab yang telah disebutkan, ada beberapa kitab lainnya yang turut dinisbatkan atau disandarkan ke atas imam asy-Syafi’i rahimahullah seperti kitab al-Musnad, as-Sunan, ar-Radd ‘ala al-Baraahimah, Mihnah asy-Syafi’i, ar-Radd ‘alaa Muhammad bin al-Hasan dan beberapa yang lainnya. Selain kitab-kitab berupa karya tulis beliau sendiri, perkataan dan fatwa-fatwa imam asy-Syafi’i juga turut terhimpun atau dibawakan dalam kitab-kitab para pendukung madzhabnya. Juga dalam kitab-kitab berkaitan biografi para ulama.
Wallahu a’lam.

Label: ,