Minggu, 11 Maret 2018

Manusia Langit

Kenalan saya *seorang perencana keuangan* di Jakarta punya banyak klien dari *kalangan artis*, dia cerita *waktu itu pernah dicurhati seorang artis* yang tiap hari nongol di Televisi, terkenal dimana-mana, *tetapi buat bayar cicilan mobil 5 juta saja tidak punya*, Gaya hidup akhirnya meremukkan hidupnya.

Saya pernah kenal *seorang presenter TV nasional*, kalo sedang tampil rapi pakai jas rapi sekali, hanya sekali ketemu di seminar, dia minta nomer HP. Sebulan kemudian dia SMS, *Mas, saya pinjam uangnya 1 juta bisa* ? Minggu depan saya kembalikan.."

Tahun 2009 malah ada *vokalis band terkenal*, saya kenal sejak 2003 ketika dulu masih kerja di EO sering saya ketemu waktu saya jadi stage manager. Lagunya ngehits di semua radio, satu sore ngajak ketemu, *Ujung-ujungnya pinjam uang dengan alasan ini itu*. Dan sampai hari ini tidak pernah dikembalikan hingga tahun-tahun berlalu.

Kisah *Ustad Luqmanul Hakim* gak kalah unik, waktu masih kuliah S2 di Malaysia dia diundang makan di sebuah restoran mewah oleh salah satu kawannya. Ustad Luqman bahkan diminta memindahkan parkiran motor bututnya agar tidak menggangu pemandangan di halaman depannya. Usai makan, *kawannya justru curhat dan minta nasehat*, sambil menunjuk mobil mewah di halaman depan *yang sudah 6 bulan cicilannya belum terbayar*. Betul kan, *rezeki dari Allah itu pasti cukup untuk hidup, tapi tak akan cukup untuk gaya hidup*

Ada lagi *kisah seorang ibu tua* dengan kain jarik *datang ke sebuah masjid usai jumatan*, panitia dan takmir sedang berkumpul sambil duduk menghitung uang hasil infak jamaah hari itu. Ketika ibu itu datang dengan baju sangat biasa dan berkain jarik, *salah seorang dari mereka berdiri*, mendekati ibu itu sambil berkata, *maaf ibu, disini tidak memberikan sumbangan*.."

*Ibu itu membuka lipatan kain jariknya*, mengeluarkan uang berwarna merah, biru, merah, biru, merah, biru yang berlembar-lembar banyaknya, sambil berkata:
*Maaf nak, saya mau ikut bersedekah untuk pembangunan masjid ini*.. Ini uangnya mohon diterima.."

Seketika para takmir itu menunduk, tak ada yang berani memandang wajah ibu itu.. Salah tingkah dan menahan malu...

Tulisan dari *Ustad Salim A. Fillah* ini juga menarik, menahan nafas membacanya, tertulis dalam bukunya *Barakallahu Laka, Bahagianya Merayakan Cinta*

"Suatu malam, *Ustadz Muhammad Nazhif Masykur* berkunjung ke rumah. Setelah membicarakan beberapa hal, *beliau bercerita tentang tukang becak di sebuah kota di Jawa Timur*

*Ustadz Salim* melanjutkan, “Ini baru cerita, kata saya. Yang saya catat adalah, *pernyataan misi hidup tukang becak itu*, yakni: *Jangan pernah menyakiti dan Hati-hati memberi makan istri*."
“Antum pasti tanya,” kembali Salim melanjutkan ceritanya sembari menirukan kata-kata Ustadz Muhammad.

"Tukang becak macam apakah ini, sehingga punya mission statement segala?".
*Saya juga takjub dan berulang kali berseru, “Subhanallah,*” mendengar *kisah hidup bapak berusia 55 tahun ini*

*Tukang becak ini Hafidz Qira’at Sab’ah! Beliau menghafal Al-qur’an lengkap dengan tujuh lagu qira’at seperti saat ia diturunkan*:
qira’at Imam Hafsh, Imam Warasy, dan lainnya. Dua kalimat itu sederhana. Tetapi bayangkanlah sulitnya mewujudkan hal itu bagi kita.

*Jangan pernah menyakiti*. Dalam tafsir beliau di antaranya adalah *soal tarif becaknya*. *Jangan sampai ada yang menawar*, karena menawar menunjukkan ketidakrelaan dan ketersakitan.

*Misalnya ada yang berkata,* “Pak, terminal Rp 5.000 ya." Lalu dijawab,“Waduh, enggak bisa, Rp 7.000 Mbak."
*Itu namanya sudah menyakiti*. Makanya, beliau tak pernah pasang tarif.

“Pak, terminal Rp 5.000 ya.” Jawabnya pasti OK. “Pak, terminal Rp 3.000 ya."
Jawabnya juga OK. Bahkan kalau, “Pak, terminal Rp 1.000 ya.” Jawabnya juga sama, OK.
Gusti Allah, manusia macam apa ini!

Kalimat kedua, *Hati-hai memberi makan istri* Artinya, sang istri hanya akan makan dari keringat dan becak tuanya. *Rumahnya berdinding gedek*. Istrinya berjualan *gorengan* Stop! Jangan dikira beliau tidak bisa mengambil yang lebih dari itu. Harap tahu, *putra beliau dua orang* *Hafidz Al-qur’an semua*.
Salah satunya sudah menjadi dosen terkenal di *perguruan tinggi negeri (PTN) terkemuka di Jakarta*.
*Adiknya, tak kalah sukses. Pejabat strategis di pemerintah*

*Uniknya, saat pulang*, anak-anak sukses ini *tak berani berpenampilan mewah*. *Mobil* ditinggal beberapa blok dari rumah. *Semua aksesoris, seperti arloji dan handphone dilucuti*. Bahkan, *baju parlente diganti kaus oblong dan celana sederhana*. Ini adab dan tata krama.

*Sudah berulang kali sang putra mencoba meminta bapak dan ibunya ikut ke Jakarta* Tetapi tidak pernah tersampaikan.
Setiap kali akan bicara serasa tercekat di tenggorokan, lalu mereka hanya bisa menangis. *Menangis, sang bapak selalu bercerita tentang kebahagiaannya, dan dia mempersilakan putra-putranya menikmati kebahagiaan mereka sendiri*

*Ustadz Salim* melanjutkan, “Waktu saya ceritakan ini pada istri di Gedung Bedah Sentral *RSUP Dr. Sardjito keesokan harinya, kami menangis*

*Ada banyak kekasih Allah yang tak kita kenal*."
Ah, benar sekali: banyak kekasih Allah dan *manusia langit*  yang tidak kita kenal. tukas Ustad Salim A Fillah.

*Kawanku, Hari terus berganti, matahari datang pagi ini, dan menghilang sore nanti*

*Usia kita terus bertambah, tanpa sadar banyak hal yang begitu saja kita lewatkan hanya untuk mengejar dunia yang sementara*.

*Padahal esok pada waktunya, kita semua saat pulang ternyata hanya dibungkus kain kafan tak bersaku.. Tak ada bekal uang yang berlaku*

*Semua harta yang selama ini kita kejar habis-habisan, ternyata semu belaka*

*Pangkat, jabatan, kemewahan yang selama ini dibanggakan akan berakhir ditimbun tanah kuburan*.

*Banyak orang yang mengejar label kaya* dengan menggadaikan dunianya, harga diri sudah musnah entah kemana

*Sementara, banyak orang yang diam-diam ternyata kaya raya, dan lebih suka mencari muka hanya pada Tuhannya*..

Benar kata kawan saya *Mas Arief Budiman*, *Orang kaya adalah orang yang selalu merasa cukup, sehingga dia terus berbagi*.

*Orang miskin adalah orang yang selalu merasa kurang*".

*SAAT maut memyapa yang kita bawa hanya amaliyah*.
*Adapun harta hanya akan membuat pertanyaan di padang mahsyar kian berat*...

*Semoga ALLAH amenolong kita*

SELAMAT PAGI KAWAN...
*copas saja..kalau sudah pernah mohon maaf*

Label:

MBAH JUM

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1630417800338523&id=100001109553805
Oleh : Irene Radjiman

Begitulah beliau dipanggil. Aku sempat bertemu dengannya 5 tahun yang lalu saat berlibur di Kasian Bantul Yogyakarta. Nama desanya saya lupa.

Mbah Jum seorang tuna netra yang berprofesi sebagai pedagang tempe. Setiap pagi beliau dibonceng cucunya ke pasar untuk berjualan tempe. Sesampainya dipasar tempe segera digelar. Sambil menunggu pembeli datang, disaat pedagang lain sibuk menghitung uang dan ngerumpi dengan sesama pedagang, mbah Jum selalu bersenandung sholawat. Cucunya meninggalkan mbah Jum sebentar, karena ia juga bekerja sebagai kuli panggul dipasar itu. Dua jam kemudian, cucunya datang kembali untuk mengantar simbahnya pulang kerumah. Tidak sampai 2 jam dagangan tempe mbah Jum sudah habis ludes. Mbah Jum selalu pulang paling awal dibanding pedagang lainnya. Sebelum pulang mbah Jum selalu meminta cucunya menghitung uang hasil dagangannya dulu. Bila cucunya menyebut angka lebih dari 50 ribu rupiah, mbah Jum selalu minta cucunya mampir ke masjid untuk memasukkan uang lebihnya itu ke kotak amal.

Saat kutanya : “kenapa begitu ?”

“karena kata simbah modal simbah bikin tempe Cuma 20 ribu. Harusnya simbah paling banyak dapetnya yaa 50 ribu. Kalau sampai lebih berarti itu punyanya gusti Allah, harus dikembalikan lagi. Lha rumahnya gusti Allah kan dimasjid mbak, makanya kalau dapet lebih dari 50 ribu, saya diminta simbah masukkin uang lebihnya kemasjid.”

“Lho, kalo sampai lebih dari 50 ribu, itukan hak simbah, kan artinya simbah saat itu bawa tempe lebih banyak to ?” Tanyaku lagi

“Nggak mbak. Simbah itu tiap hari bawa tempenya ga berubah-ubah jumlahnya sama.” Cucunya kembali menjelaskan padaku.

“Tapi kenapa hasil penjualan simbah bisa berbeda-beda ?” tanyaku lagi

“Begini mbak, kalau ada yang beli tempe sama simbah, karena simbah tidak bisa melihat, simbah selalu bilang, ambil sendiri kembaliannya. Tapi mereka para pembeli itu selalu bilang, uangnya pas kok mbah, ga ada kembalian. Padahal banyak dari mereka yang beli tempe 5 ribu, ngasih uang 20 ribu. Ada yang beli tempe 10 ribu ngasih uang 50 ribu. Dan mereka semua selalu bilang uangnya pas, ga ada kembalian. Pernah suatu hari simbah dapat uang 350 ribu. Yaaa 300 ribu nya saya taruh dikotak amal masjid.” Begitu penjelasan sang cucu.

Aku melongo terdiam mendengar penjelasan itu. Disaat semua orang ingin semuanya menjadi uang, bahkan kalau bisa kotorannya sendiripun disulap menjadi uang, tapi ini mbah Jum…?? Aahhh…. Logikaku yang hidup di era kemoderenan jahiliyah ini memang belum sampai.

Sampai rumah pukul 10:00 pagi beliau langsung masak untuk makan siang dan malam. Ternyata mbah Jum juga seorang tukang pijat bayi (begitulah orang dikampung itu menyebutnya). Jadi bila ada anak-anak yang dikeluhkan demam, batuk, pilek, rewel, kejang, diare, muntah-muntah dan lain-lain, biasanya orang tua mereka akan langsung mengantarkan ke rumah mbah Jum. Bahkan bukan hanya untuk pijat bayi dan anak-anak, mbah Jum juga bisa membantu pemulihan kesehatan bagi orang dewasa yang mengalami keseleo, memar, patah tulang, dan sejenisnya. Mbah Jum tidak pernah memberikan tarif untuk jasanya itu, padahal beliau bersedia diganggu 24 jam bila ada yang butuh pertolongannya. Bahkan bila ada yang memberikan imbalan untuk jasanya itu, ia selalu masukan lagi 100% ke kotak amal masjid. Ya ! 100% ! anda kaget ? sama, saya juga kaget.

Ketika aku kembali bertanya : “kenapa harus semuanya dimasukkan ke kotak amal ?”

mbah Jum memberi penjelasan sambil tersenyum :
“Kulo niki sakjane mboten pinter mijet. Nek wonten sing seger waras mergo dipijet kaleh kulo, niku sanes kulo seng ndamel seger waras, niku kersane gusti Allah. Lha dadose mbayare mboten kaleh kulo, tapi kaleh gusti Allah.” (Saya itu sebenarnya nggak pinter mijit. Kalau ada yang sembuh karena saya pijit, itu bukan karena saya, tapi karena gusti Allah. Jadi bayarnya bukan sama saya, tapi sama gusti Allah).

Lagi-lagi aku terdiam. Lurus menatap wajah keriputnya yang bersih. Ternyata manusia yang datang dari peradaban kapitalis akan terkaget-kaget saat dihadapkan oleh peradaban sedekah tingkat tinggi macam ini. Dimana di era kapitalis orang sekarat saja masih bisa dijadikan lahan bisnis. Jangankan bicara GRATIS dengan menggunakan kartu BPJS saja sudah membuat beberapa oknum medis sinis.

Mbah Jum tinggal bersama 5 orang cucunya. Sebenarnya yang cucu kandung mbah Jum hanya satu, yaitu yang paling besar usia 20 tahun (laki-laki), yang selalu mengantar dan menemani mbah Jum berjualan tempe dipasar. 4 orang cucunya yang lain itu adalah anak-anak yatim piatu dari tetangganya yang dulu rumahnya kebakaran. Masing-masing mereka berumur 12 tahun (laki-laki), 10 tahun (laki-laki), 8 tahun (laki-laki) dan 7 tahun (perempuan).

Dikarenakan kondisinya yang tuna netra sejak lahir, membuat mbah Jum tidak bisa membaca dan menulis, namun ternyata ia hafal 30 juz Al-Quran. Subhanallah…!! Cucunya yang paling besar ternyata guru mengaji untuk anak-anak dikampung mereka. Ke-4 orang cucu-cucu angkatnya ternyata semuanya sudah qatam Al-Quran, bahkan 2 diantaranya sudah ada yang hafal 6 juz dan 2 juz.

“Kulo niki tiang kampong. Mboten saget ningali nopo-nopo ket bayi. Alhamdulillah kersane gusti Allah kulo diparingi berkah, saget apal Quran. Gusti Allah niku bener-bener adil kaleh kulo.” (saya ini orang kampong. Tidak bisa melihat apapun dari bayi. Alhamdulillah kehendak gusti Allah, saya diberi keberkahan, bisa hafal Al-Quran. Gusti Allah itu benar-benar adil sama saya).

Itu kata-kata terakhir mbah Jum, sebelum aku pamit pulang. Kupeluk erat dia, kuamati wajahnya. Kurasa saat itu bidadari surga iri melihat mbah Jum, karena kelak para bidadari itu akan menjadi pelayan bagi mbah Jum.

Matur nuwun mbah Jum, atas pelajaran sedekah tingkat tinggi 5 tahun yang lalu yang sudah simbah ajarkan pada saya di pelosok desa Yogyakarta.

SILAHKAN SHARE ATAU COPAS DENGAN MENYERTAKAN LINK BLOG INI.

DILARANG KERAS MENGAMBIL IDE CERITA INI UNTUK TUJUAN KOMERSIL TANPA SEIJIN PENULIS.

Label: