Jumat, 12 Mei 2017

TERBUKTI AHOKERS ANTI NKRI. AHOKERS MENYERANG INDONESIA DI LUARNEGERI

Sebarkan, untuk menangkal serangan yang massive di seluruh dunia, jika perlu terjemahkan dalam bahasa Inggris🙏

Mereka telah membuat pengumuman, pada hari, Sabtu tgl 20 Mei 2017 mereka akan MENDEMO INDONESIA di , New York didepan PBB , Washington di Depan Whitehouse . NJ New Hampshire , Virginia , North & South Carolina , Georgia , Chicago , Florida , Houston , Colorado, Seattle , San Francisco , Los Angeles.
dengan ISSUE MENGGUGAT PERADILAN DAN SISTEM HUKUM INDONESIA.

Padahal Ahok telah diberi keistimewaan-keistimewaan oleh penguasa, antara lain :

1⃣Dia tidak ditahan, dan tetap menjabat sebagai Gubernur, sementara untuk kasus yang sama, tersangka lain ditahan.

2⃣Kasus Ahok menyangkut RSSW tidak diuthik-uthik oleh KPK.

3⃣Pengadilan tidak melanjutkan kasus Trans Jakarta, walaupun tersangka utamanya belum diadili.

4⃣Kasus suap reklamasi yang diduga menyangkut Teman Ahok juga tidak diusut

Ahokers tidak berterima kasih pada penguasa, tetapi malah menyumpah-nyumpah Presiden RI Joko Widodo sebagai rezim yang lebih parah dari presiden SBY

Sekarang mereka  MENFITNAH DAN MENDISKREDITKAN INDONESIA DI MATA INTERNASIONAL.

Demi membela seorang mantan pejabat yang banyak tersangkut kasus korupsi dan menista Agama, mereka tidak segan menjelekkan negaranya sendiri.

Pemerintah harus menindak tegas demi martabat dan harga diri bangsa

BELA NKRI, BELA INDONESIA, BENTENGI INDONESIA DARI SKENARIO PENJAJAHAN ASING

🇮🇩🇩❤🇮🇩🇩

http://kantorberitanasional.com/asing-intervensi-vonis-ahok-kapustanas-ujian-bagi-panglima-tni-dan-bangsa-indonesia/

Label: ,

Sandiwara Dibalik Wacana Pembubaran HTI

Sandiwara sudah diputarkan. Sang sutradara begitu bangga dengan hasil sandiwara ini. Sandiwara rencana pembubaran ormas dan depolitisasi gerakan-gerakan Islam. Hari ini kita menyaksikan opini HTI meluas dan mendapatkan tempat di hati pemirsa.  Bahkan telah menjadi trending topik diberbagai media, baik disosmed maupun media konvensional. Ada yang aneh khususnya di media cetak dan media nasional yang sangat santer memberitakan HTI. Mengapa baru kali ini mereka begitu ‘murah hati’ untuk memberitakan HTI? Padahal sejak tahun 2000 hingga 2017 HTI masif dengan kegiatanya yang spektakuler dan melibatkan ratusan hingga jutaan orang tapi tak satupun diliput oleh media. Ada apakah dibalik sandiwara ini ?

Dengan cepat media-media menyoroti dan memberitakannya seolah-olah HTI telah dibubarkan. Padahal maksudnya pemerintah berniat membubarkan HTI dengan menempuh jalur hukum. Jadi berita yang disampaikan beberapa media sangat tidak sesuai dengan faktanya. Ini adalah sebuah strategi politik yang dibuat oleh rezim penguasa. Diharapkan dengan berita itu semua kalangan sepakat dan mendukung pembubaran HTI.

Faktanya tidaklah demikian, yang terjadi malah dukungan datang dari berbagai elemen masyarakat. Bahkan dengan berita itu pula menjadi promo gratis bagi HTI. HTI bisa menjelaskan dipublik tanpa harus bayar. Hingga saat ini tidak satu rumahpun yang tidak mengenal HTI, syariah dan khilafah. Sungguh skenario Allah yang luar biasa. Jika ditelusuri mengapa tidak ada hujan tidak ada angin tiba-tiba pemerintah hendak mebubarkan HTI pasti ada skenario di dalamnya. Padahal kalau kita jujur justru banyak organisasi yang sangat berbahaya terkesan dibiarkan pemerintah. Lihatlah Organisasi Papua Merdeka yang bahkan kini sudah punya perangkat kenegaraan lengkap dan siap perang dan memisahkan dengan NKRI. Ada PKI yang sudah dideklarasiakan beberapa tahun yang lalu dan lain-lainnya. Tapi mengapa dibiarkan? Aneh?

HTI Dibidik?

Kekalahan Ahok pada Pilkada DKI Jakarta membuat rezim penguasa sangat kecewa dan marah. Salah satu penyebab kekalahan menurut mereka adalah HTI. Jauh sebelum ada kasus Al maidah 51 HTI sudah mengkapanyakan “haram pemimpin kafir, tolak pemimpin kafir, dll “ dan inilah yang mereka anggap sumber kegagalan jagoannya. Padahal semua tenaga dan harta sudah dikerahkan untuk kemenangan ini. Tapi ternyata hari ini sudah kalah dan dipenjara lagi. Ibarat peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga. Inilah yang membuat demdam para ahoker. HTI lah yang menjadi bidikan pertama. Karena dibalik ahoker ada proyek-proyek raksasa yang dikendalikan aseng dan asing yang sudah habis-habisan membiayai untuk melindungi kepentingannya dan ternyata kalah, kemarahan merekapun tertumpah.

  Apalagi masa kepemimpinan Pak Jokowi tinggal 2 tahun saja. Masa ini tidaklah terlalu lama lagi bagi para kapitalis (pemilik modal) dan pengusaha pendukung rezim penguasa untuk membalikkan modal yang sudah mereka keluarkan pada saat pemilu. Para kapital ini akan berusaha jor-joran membuat proyek yang menguntungkan mereka dan tentu kita tahu banyak proyek mereka yang bertentangan dengan kepentingan rakyat kecil. Sebut saja misalnya proyek listrik, sektor tambang, perkebunan, property dan lain-lain. Para kapitalis itu tahu bahwa HTI adalah ormas yang paling getol menentang berbagai kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat kecil, apalagi solusi yang ditawarkan HTI juga bersumber dari nash-nash agama. HTI bagi mereka ibarat monster yang sangat menakutkan. Mumpung saat ini mereka berkuasa maka mereka akan mencari segala macam cara untuk menghabisi HTI. Mereka paham kalau ketemu face to face dengan HTI pastilah kalah dan rakyat pasti mendukung HTI, maka mereka menggunakan  instrument lain untuk menghabisi HTI.

Membayar ormas-ormas yang bisa dibeli juga gagal, membenturkan dengan ormas lain juga gagal. Instrument hukum dan kepolisian tidak cukup kuat untuk mencegah. Konspirasi terorisme juga gagal dan tak mampu menghadang. Akhirnya digunakan stempel ‘absurd’ anti pancasila dan NKRI. Stempel yang biasa digunaka oleh rezim-rezim penguasa sebelumnya untuk menghadang lawan politiknya. Inilah sebenarnya sebuah pertarungan antara haq dan bathil. Pertarungan yang dikendalikan para pemilik modal dan para kapital yang ingin menghancurkan negeri ini melalui boneka-boneka yang di tugasakan mengamankan kepentingan penjajah.

Mengapa Rente Dibiarkan?

Untuk mengeruk keuntungan yang banyak dan agar modal yang mereka keluarkan cepat kembali, mereka mendikte penguasa untuk menerapkan kebijakan yang dzolim. 2 bulan ini masyarakat terbebani dengan kebijakan kenaikan tarif dasar listrik yang begitu besar mencapai 250%. Untuk itulah agar kebijakan dzolim ini bisa berjalan dengan mulus, dan agar para kapital atau pemilik modal bisa menikmati hasil dan tidak ada halangan, maka HTI harus dibungkam. Untuk memuluskan kebijakan ini HTI harus disibukkan dengan hukum, sehingga tidak ada gelombang protes yang digalang HTI. Karena mereka tahu bahwa HTI amat berbahaya bagi kepentingan tuan- tuan mereka.

Masihkah kita percaya pada kedzaliman ini? Sungguh rezim ini bekerja mati-matian hanya untuk kepentingan tuan-tuan mereka. Mereka telah menjadi alat penjajahan di negeri ini. Para pemangku kekuasaan telah menjadi tameng untuk melindungi kepentingan-kepentingan penjajah. Keadaan ini tidak akan berubah kalau kita tidak berusaha untuk merubah. Maka disinilah sebenarnya peran Hizbut Tahrir Indonesia yaitu ingin memerdekakan negeri ini dari penjajahan asing atau aseng. Inilah bukti cinta dan kepedulian HTI untuk Indonesia tercinta. Masihkah kalian meragukan kesungguhan HTI? #KamiBersamaHTI [VM]

Penulis : Abdul Latif (Direktur Indo Politic Watch)
.
http://www.visimuslim.net/2017/05/sandiwara-dibalik-wacana-pembubaran-hti.html?m=1

***
#KamibersamaHTI
#UmatMendukungHTI

Oleh: Abdul Latif (Direktur Indo Politic Watch)

Label: ,

Radikalnya Ahok di dunia IT

Saya copas ini dari wallnya Mba Nanik Sudaryati.

Baca ini ngeri deh , tulisan Mas Her Subeno Arief mantan wartawan senior di berbagai media, yg sekarang jadi konsultan politik .
Radikalisisasi Ahoker di darat sdh jelas di narkisnya , tapi di dunia maya bukan hanya berhasil  menjebol situs Tempo, tapi juga situs Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri ( SBMPTN ) 2017.
Bayangkan bagaimana anak -anak kita yg pintar dan sudah belajar mati -matian tapi nanti tidak masuk perguruan tinggi megeri karena datanya sdh diobrak -abrik. Kiamat di dunia pendidikan kita terjadi hanya karena seorang Ahok!
Radikalisasi Ahoker ini menurut Mas Her Subeno, tidak murni ulah pecinta Ahok , tapi kepentingan Oligarki yg tengah menjalankan politik Tiji Tibeh ( Mati Siji Mati Kabeh). Tangan -tangan oligarki ini juga sekarang menyeret dunia internasional utk dibawa dalam kancah kasus Ahok.
Silahkan dibaca, saya mengenal orangnya dan Insyaallah apa yg dituliskab 99 persen benar.
------------------------------

*Radikalisasi Ahoker dan Strategi Tiji Tibeh*
*Oleh: Hersubeno Arief*

Pembahasan soal Ahok dan para pendukungnya (Ahoker) hari-hari ini harusnya sudah dihentikan.

Sejak kalah secara telak dalam pilkada dan divonis oleh pengadilan, kisah tentang Ahok harusnya sudah tutup buku. _Case closed!_ Ahok adalah bagian dari sejarah.

Namun mengamati realitas yang terjadi di lapangan dan dunia maya, bab tentang Ahok ternyata dengan terpaksa harus dibuka kembali. Ada gejala para pendukung Ahok sedang mengalami proses RADIKALISASI.

Ada kelompok-kelompok tertentu yang memanfaatkan para pendukung Ahok untuk menerapkan strategi yang dikenal sebagai _Tiji tibeh. Mati siji, mati kabeh_. Alias _kalau gua nggak dapet, lu juga gak boleh dapet. Kalau gua mati, lu semua pade juga harus mati._

Coba perhatikan apa yang dilakukan oleh para pendukung Ahok di depan Rutan Cipinang dan kemudian pindah ke depan Markas Komando (Mako) Brimob di Kelapa Dua, Depok.

Mereka melakukan unjuk rasa yang menabrak semua aturan. Dari pagi sampai tengah malam. Dan itu semua dibiarkan oleh aparat kepolisian.

Namanya juga sesuatu yang berlebihan pasti akan ada yang menabrak aturan, _offside_. Salah seorang pendukung Ahok melakukan orasi yang mengecam rezim Jokowi lebih buruk dari rezim SBY. Ehemmm….

Sikap Ahoker bernama Veronica Koman Lia —yang semula diduga Veronica Tan istri Ahok— ini membuat Mendagri Tjahjo Kumolo berang dan mengancam akan mengejarnya sampai dapat.

Mendagri menuntut Veronica Koman meminta maaf. Sampai disini sudah benar. Tapi menjadi tidak benar ketika Mendagri menyebar identitas e-KTP Veronica ke media. Ini juga _offside._

Di dunia maya aksi para pendukung Ahok lebih mengerikan lagi. Mereka melakukan peretasan sejumlah situs. Salah satunya adalah situs milik Tempo. Padahal seperti diakui oleh pendiri Tempo Gunawan Muhammad, Tempo adalah sarang Ahoker.

Ini kalau di kalangan anak gaul namanya PMP, P(f)riend makan P(f)riend. _Teman makan teman._

Yang lebih mengerikan mereka juga meng-_hack_ situs yang digunakan untuk pendaftaran Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2017.

Bayangkan apa yang terjadi dengan nasib anak-anak kita yang tahun ini sudah belajar mati-matian untuk masuk perguruan tinggi negeri, bila datanya rusak. Ini sudah _destructive_, merusak.

Apakah ini dilakukan oleh Ahoker murni?

Hakul yakin dan hampir pasti jawabannya Bukan!
Aksi ini pasti dilakukan kelompok-kelompok yang sedang memanfaatkan Ahoker untuk tujuan yang lebih besar. Mereka sedang menerapkan strategi _tiji tibeh_ dengan memanfaatkan Ahoker fanatik.

Mayoritas Ahoker sesungguhnya adalah para “remaja” yang sedang jatuh cinta. Yang dalam psikologi saat ini tengah berada pada tahapan _anger_, marah. Namun mengacu pada Kubler-Ross (1969) mereka akan masuk tahapan berikutnya, _bargaining_ (tawar menawar), _depression_ (depresi) dan setelah itu tiba pada tahapan _acceptance_ (menerima, pasrah pada nasib).

Jadi kalau toh mereka masih marah, paling-paling mereka menyakiti diri sendiri, atau paling banter lempar buku harian dan maksimal banting piring dan gelas.

Sudah sampai disitu saja. Mereka tidak akan sampai melakukan aksi rusak-rusakan, apalagi merusak keutuhan berbangsa dan bernegara.

Mereka akan kembali pada kehidupan normal seperti sedia kala. Mencari figur pengganti Ahok, kembali jatuh cinta. _Case closed, happy ending._

Siapa “oknum” yang sedang menunggangi dan melakukan radikalisasi Ahoker?

Jawabannya tidak jauh-jauh adalah para Oligarki yang sangat marah ketika eksperimen mereka menyatukan KEKAYAAN dan KEKUASAAN dalam satu tangan, gagal.

Semula banyak yang menduga kegagalan para Oligarki melakukan eksperimen politik di Jakarta membuat mereka mundur selangkah sambil menunggu momentum berikutnya. Ternyata dugaan itu salah.

Mereka tetap ingin maju seribu langkah dan bersedia mengeluarkan biaya berapapun untuk itu. _At all costs._

Apa saja langkah para Oligarki ini? _Pertama_, radikalisasi dan memanfaatkan Ahoker. _Kedua_, membawa persoalan ini ke ranah internasional. _Ketiga_, memperjuangkan Ahok mendapat Nobel Perdamaian. _Keempat_, menjadikan Ahok sebagai martir.

*Radikalisasi dan memanfaatkan Ahoker*

Proses ini tengah berlangsung. Karena itu Ahoker sejati harusnya segera menyadari dan menyingkir jauh-jauh. Jangan mau terprovokasi.

Sadarlah Anda tengah dimanfaatkan untuk kepentingan besar yang membahayakan keutuhan berbangsa dan bernegara.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) harus mulai waspada. Alarm tanda bahaya sudah mulai menyala. Jangan sibuk dan terfokus hanya pada gerakan radikal ekstrem kanan.

Ada bahaya yang jauh lebih besar. Para oligarki ini punya dana yang tidak terbatas dan punya jaringan internasional yang kuat.

*Membawa persoalan ke dunia Internasional*

Proses ini juga sudah berlangsung. Suara-suara dari negara Eropa juga sudah muncul untuk membawa kasus Ahok ke Mahkamah Internasional dan PBB.

Mereka ini ditopang oleh sejumlah anasir di dalam negeri yang kebanyakan menggunakan kedok Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Kelompok-kelompok inilah yang sering menjelek-jelek citra Indonesia di dunia internasional sebagai negara pelanggar HAM.

Ciri-ciri mereka sangat mudah dikenali. Cek siapa yang sering mencitrakan TNI sebagai pelanggar HAM? Siapa yang sering menuduh orang Islam radikal? Siapa yang menuduh kemenangan Anies-Sandi sebagai kemenangan kelompok radikal? Siapa yang getol membawa kasus pelanggaran HAM di Papua ke dunia internasional, tapi menutup mata ada gerakan separatis di sana?

*Memperjuangkan Ahok mendapat Nobel Perdamaian*

Jangan Anda beranggapan ini bercanda. Coba cek berbagai opini dan lalu lintas di dunia maya, sudah ada upaya-upaya itu menjadikan Ahok sebagai simbol perjuangan HAM. Menjadikan Ahok pejuang pluralisme, pejuang demokrasi.

Tapi kalau Nobel Perdamaian apa tidak berlebihan? Coba cari datanya lagi siapa saja penerima hadiah Nobel Perdamaian.

Aung San Su Kyi menerima Nobel Perdamaian tahun 1991. Anda tahu sendiri bagaimana sikapnya ketika ada etnis Rohingya dibantai oleh militer Myanmar. Dia hanya diam seribu bahasa, seperti orang yang sedang sakit gigi akut. Sejumlah aktivis di Indonesia sampai membuat petisi pencabutan Nobel Perdamaian.

Ramos Horta bersama Uskup Belo menerima Nobel Perdamaian tahu 1996. Anda tahu sendiri siapa Ramos Horta yang pernah menjadi Perdana Menteri Timor Timur.

Tahun 2007 mantan Wapres AS Al Gore menerima Nobel Perdamaian. Apa yang dilakukan oleh Al Gore? Dia membuat presentasi tentang _climate change_ yang dipresentasikan di _World Economic Forum_. Jadi hanya bermodal _slide_ presentasi.

Jangan lupa tahun 1939 Adolf Hitler pernah dinominasikan sebagai pemenang Nobel Perdamaian. Untungnya dia tidak memenangkannya.

Mengapa figur luar biasa seperti Gandhi dari India tidak pernah mendapat Nobel Perdamaian? Mengapa SBY dan Jusuf Kalla yang melakukan upaya luar biasa dan berhasil melakukan penghentian perang di Aceh, konflik Ambon, Poso tidak menerima Nobel Perdamaian. Masuk nominasi pun tidak.

Semua itu bias. politik. Dunia Barat adalah pemegang otoritas kebenaran dan bila kita tidak sesuai dengan agenda mereka, maka kita adalah musuh, seperti kata mantan Presiden Bush _Axis of Evil_, poros kejahatan, poros setan.

Jadi jangan kaget kalau Ahok bakal masuk nominasi dan mendapat Nobel Perdamaian.

Kata para leluhur di Jawa, _Ojo gampang kagetan, Ojo gampang gumunan. Jangan gampang kaget, jangan gampang kagum._

*Menjadikan Ahok sebagai martir*

Nah strategi ini yang paling berbahaya. Ahok dan keluarga serta para pendukungnya harus super hati-hati, super waspada. Jangan terlena dengan berbagai sanjungan, puja puji dan aliran karangan bunga.

Semua itu bukan pujian yang tulus. Jangan mau dijadikan korban dan kemudian dieksploitasi.

Ada kekuatan besar yang tengah mengintai dan menjadikan Anda sebagai sarana mereka untuk mencapai tujuan.

Karena itu lebih baik Ahok tetap di dalam tahanan Mako Brimob. Lebih aman. Jangan mau dilakukan penangguhan penahanan, untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk. Kalau perlu pengamanan di Mako Brimob khusus untuk Ahok malah harus ditingkatkan.

Semua kekuatan politik, seluruh elemen masyarakat, semua pemuka agama harus ikut menyadarkan adanya bahaya besar yang sedang mengintai. Jangan lagi menganggap unjuk rasa Ahoker sebagai bercanda dan main-main. Mereka dimanfaatkan jadi pintu masuk, sementara mereka sendiri tidak menyadari skenario besar yang akan memanfaatkan mereka.

*Penulis adalah Konsultan Media dan Politik

Label: