Kamis, 17 November 2016

Aktivis Tionghoa: Ahok Mengkhianati Perjuangan Kami Sejak Reformasi

Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) telah mengkhianati perjuangan kaum Tionghoa di Indonesia selama ini.
Hal itu diungkapkan aktivis Tionghoa, Zeng Wei Jian (Ken Ken), pada Seminar ‘Permasalahan China/Tionghoa dalam Konteks Integrasi Nasional’ di Kantor Komnas HAM, Jakarta, baru-baru ini.
Sejak Ahok terpilih menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta, 2012 lalu, kata Ken Ken, seharusnya persoalan rasial dan sentimen anti Tionghoa tak ada lagi.

“Saya kira, harusnya kalau ada orang keturunan Tionghoa yang menjadi pemimpin eksekutif, persoalan rasial dan sentimen-sentimen anti Tionghoa sudah selesai,” ujarnya, lansir kantor berita Islam asosiasi JITU, Islamic News Agency (INA).

Tapi faktanya kemudian, terang Ken Ken, setelah Ahok berperan sebagai pejabat publik, yang muncul justru slogan-slogan anti China.
“Malah jadi marak bahkan lebih marak dari sebelumnya. Itu, kan, kemunduran,” katanya.
 
Menurutnya, sikap Ahok yang membangkitkan sentimen rasial tersebut bertentangan dengan apa yang diperjuangkan kaum Tionghoa selama ini.
Kata dia, sejak era reformasi di Indonesia, kaum Tionghoa berjuang agar bisa turut berpartisipasi di publik secara lebih luas.
“Ahok mencederai dan mengkhianati itu,” tukasnya. 

Ken Ken mengungkapkan, pribumi dan warga keturunan sudah berdampingan lama dan tidak ada masalah. “Bahkan sudah seperti saudara,” pungkasnya.*

sumber : Hidayatullah

Label:

Tolak Penistaan Seluruh Agama

Sore tadi (17/11) di Gedung Nusantara III DPR RI, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI melakukan audiens dengan Pimpinan DPR RI. Hadir dalam pertemuan tersebut, seluruh pimpinan DPR RI. Ade Komaruddin memimpin pertemuan tersebut. Ada juga Fadli Zon dan Fahri Hamzah; dua pimpinan DPR yang juga ikut serta dalam Aksi 4 November.

Sementara dari GNPF MUI, datang beberapa tokohnya; seperti Habib Rizieq Shihab (Imam Besar FPI), Munarman (pimpinan FPI), Eggi Sudjana (Ketua Serikat Pekerja Muslim Indonesia), Nurdiati Akma (Ketua Pimpinan Pusat Forum Silaturahim dan Pengajian), serta beberapa Habib dan 'Alim Ulama dan tokoh nasional lainnya.

Dalam pertemuan sejak 'Ashar hingga Maghrib tadi, ada beberapa hal yang disampaikan oleh GNPF MUI. *Yang pertama* tentang kronologi Aksi Bela Islam tanggal 4 November yang dipenuhi oleh kekerasan aparat pada menjelang Maghrib. Kekerasan yang dialami oleh peserta aksi, mulai dari tembakan gas air mata dengan bahan yang berbahaya, peluru karet, hingga banyaknya peserta yang tergilas mobil.

*Yang kedua*, GNPF menuntut agar aparat keamanan tidak hanya menetapkan Ahok sebagai tersangka penistaan agama. Tapi juga Ahok harus ditangkap dan dipenjara. Karena ada kemungkinan Ahok bisa melarikan diri atau menghilangkan barang bukti. Ahok juga tidak layak dibiarkan bebas karena secara yurisprudensi, seluruh kasus penistaan agama pasti akan langsung ditangkap dan dipenjarakan pelakunya.

*Yang ketiga*, GNPF MUI meminta kepada Pimpinan DPR untuk membentuk Pansus untuk menindaklanjuti masalah kekerasan aparat tersebut. Pimpinan DPR harus memanggil Kapolri dan menyelesaikan kasus ini. Kekerasan aparat kepada ummat Islam dalam Aksi 4 November adalah bentuk kesewenang-wenangan yang tidak dapat ditolerir. Bahkan bisa kita katakan sebagai dugaan pembantaian.

*Yang keempat*, GNPF MUI meminta kepada Pimpinan DPR untuk juga melakukan langkah-langkah konstitusional dan mencari berbagai dasar hukum serta mendesak KPU DKI untuk membatalkan pencalonan Ahok, karena telah menyebabkan disharmoni dan kekacauan sosial di tengah masyarakat dalam skala luas.

*Yang kelima*, GNPF MUI menegaskan bahwa Aksi yang dilakukan oleh ummat Islam bukanlah aksi SARA, bukan aksi politik dan bukan aksi yang berhubungan dengan Pilkada DKI. Ini murni tuntutan ummat Islam agar penista agama diadili dengan hukum yang berlaku di negara ini secara adil dan transparan.

*Yang keenam*, kita semua menolak penistaan seluruh agama. Tidak boleh ada yang menistakan agama Islam. Tidak boleh ada yang menistakan agama Kristen. Tidak boleh ada yang menistakan agama apapun di Indonesia. Semua penganut agama harus dihormati dan saling menghormati. Dan itulah kunci kedamaian dalam kebhinnekaan.

Sementara pimpinan DPR yang menerima audiens tersebut, menyatakan bahwa mereka akan melakukan rapat untuk *segera menindaklanjuti tuntutan GNPF MUI*. Pimpinan DPR hingga hari ini juga sudah menandatangani usulan Komisi III yang akan *membentuk tim untuk menindaklanjuti* laporan pelanggaran HAM pada aksi 4 November kemarin.

Terakhir, *GNPF MUI berjanji akan mengumumkan secara resmi* kepada Ummat Islam pada esok hari (18/11) perihal keputusan final Ulama dan Habaib tentang rencana Aksi 25 November mendatang.

Wahai rakyat Indonesia, bersiap siagalah !

Jakarta, 17 November 2016

(Dirangkum oleh BP. Silahkan disebar)

Label: